Sukses

Frekuensi BAB Kurang

04 Sep 2017, 02:59 WIB
Wanita, 18 tahun.

Selamat pagi dok, saya bekerja sebagai karyawan di pabrik swasta. Setiap hari kerjaan saya nyolder barang sambil duduk. Setiap abis dzuhuran kepala saya suka terasa pening, nafas berat, dan mata sering terlihat agak blur. Saya juga kurang BAB, apakah ini ada sangkut pautnya dengan Berat badan dan juga media solder? Terimakasih sebelumnya dok

Terimakasih telah bertanya tentang frekuensi BAB kurang melalui fitur Tanya Dokter.

Kami memahami kondisi Anda.

Keluhan pusing, nafas berat dan mata buram bisa disebabkan karena hipoglikemia (gula darah rendah) akibat terlambat makan atau hipotensi (tekanan darah rendah). Untuk kedua hal ini, solusinya ialah makan dan berolahraga secara teratur.

Terkait dengan frekuensi BAB yang kurang, ada kemungkinan berkaitan dengan konstipasi atau sembelit.

Konstipasi/sembelit adalah keadaan jarangnya frekuensi buang air besar (BAB), penurunan frekuensi gerakan usus, BAB keras dan sulit. Konstipasi ini dapat mengakibatkan wasir/hemoroid apabila terus-menerus terjadi.

Gejala lain dari konstipasi adalah:

  • BAB kurang dari 3 kali seminggu
  • BAB keras atau bergumpal-gumpal
  • Harus mengedan ketika BAB
  • Terasa seperti ada sumbatan pada rektum yang menghambat pengeluaran tinja
  • Terasa seperti tidak bisa mengeluarkan tinja secara tuntas
  • Memerlukan bantuan untuk mengosongkan rektum, seperti menggunakan tangan untuk menekan perut atau jari-jari untuk mengeluarkan tinja dari rektum

Bila Anda mengalami 2 atau lebih dari gejala-gejala di atas selama 3 bulan terakhir, artinya ia mengalami konstipasi kronis.

Penyebab konstipasi sangat banyak, yaitu:

  1. Hambatan pada kolon/usus besar atau rektum, yang disebabkan oleh fisura ani (lecet/luka pada anus), obstruksi usus, kanker usus besar, striktur usus (penyempitan rongga usus besar), kanker rektum, dan rektokel (kantong rektum membonjol ke arah dinding belakang vagina).
  2. Gangguan pada saraf-saraf di sekitar kolon dan rektum, yang terjadi pada neuropati otonom, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, cedera saraf tulang belakang, dan stroke.
  3. Gangguan pada otot-otot yang terlibat dalam proses BAB, seperti ketidakmampuan untuk merelaksasi otot-otot panggul yang diperlukan untuk mengeluarkan tinja (anismus), otot panggul melemah atau tidak berkontraksi secara benar.
  4. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi hormon tubuh, seperti diabetes, hiperparatiroidisme, kehamilan, dan hipotiroidisme.

Selain kondisi di atas, hal-hal berikut juga meningkatkan risiko ibu Anda mengalami konstipasi, yaitu:

  • Usia dewasa
  • Seorang wanita
  • Kurang minum/dehidrasi
  • Diet rendah serat
  • Kurang berolahraga
  • Menggunakan obat-obatan tertentu seperti sedatif, narkotik, antidepresan, atau obat-obat penurun tekanan darah
  • Mengalami gangguan jiwa seperti depresi atau kelainan pola makan

Untuk mengatasi konstipasi, dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:

  • Makan makanan yang tinggi kadar seratnya. Makanan yang mengandung banyak serat, akan membantu tubuh membentuk tinja yang lebih lunak. Jenis makanan tersebut, diantaranya adalah kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Hindari atau kurangi makanan yang tidak atau hanya sedikit mengandung serta, seperti keju, daging, dan makanan yang mengalami pemrosesan (misalnya diasap). Sebaiknya jumlah konsumsi makanan tinggi serat ini dilakukan secara bertahap, awalnya hanya sedikit, lalu ditingkatkn sedikit-sedikit. Hal ini perlu dilakukan karena jka saluran cerna belum terbiasa dengan serat yang dimakan, justru akan menimbulkan keluhan kembung.
  • Berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik akan membantu menstimulasi aktivitas usus.
  • Asupan cairan yang cukup. Minum air atau cairan lain dalam jumlah cukup akan membantu melunakkan tinja
    Jangan menahan BAB.
  • Bila perlu, gunakan pencahar. Pencahar yang paling aman ialah yang mengandung laktulosa. Pencahar ini bekerja dengan membentuk massa, yang kemudian akan merangsang usus besar untuk BAB. Produk pencahar lainnya, termasuk yang ibu Anda konsumsi sebaiknya digunakan secara terbatas dan atas anjuran dokter.

Jika langkah-langkah di atas sudah dilakukan namun tidak ada perbaikan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam untuk ditelusuri lebih lanjut penyebab konstipasinya.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan seputar frekuensi BAB kurang. Semoga bermanfaat. (FA)

0 Komentar

Belum ada komentar