Sukses

Penyebab dan Solusi Konstipasi

01 Aug 2017, 00:02 WIB
Pria, 24 tahun.

Dok mau tanya saya tidak bab sudah 5hari, tapi tidak merasa mulas malah perut semakin membuncit. Pas diwc bab tidak mau keluar itu kenapa ya? Padahal sudah makan pepaya,vegeta yogurt dan air putih

Terima kasih telah bertanya seputar konstipasi melalui fitur Tanya Dokter.

Kami mengerti kekhawatiran yang Anda rasakan. Berdasarkan informasi yang Anda berikan, Anda mengalami konstipasi. Jika frekuensi buang air besar anda < 3x/minggu baru dapat dikatakan bahwa Anda menderita konstipasi. Konstipasi/sembelit adalah keadaan jarangnya frekuensi buang air besar (BAB), penurunan frekuensi gerakan usus, BAB keras dan sulit. Jika BAB keras dipaksakan dengan cara mengedan maka dapat terjadi iritasi pada daerah sekitar lubang dubur sehingga dapat timbul perdarahan. Selain iritasi, tekanan yang diberikan saat mengedan dapat menimbulkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah di dalam anus, dimana jika tekanan tersebut terlalu keras maka dapat melukai dinding pembuluh darah dan kemudian menimbulkan perdarahan. Kejadian tersebut seringkali dikenal dengan wasir atau hemorrhoid. Perdarahan pada wasir jika tidak terlalu banyak dapat berhenti sendiri, namun jika luka daerah tersebut terlalu luas maka perdarahan dapat sulit berhenti.

Terkadang konstipasi juga menyebabkan nyeri perut, nyeri ini bisa berasal dari organ pencernaan yang kelelahan akibat terus berkontraksi untuk mengeluarkan kotoran, namun kotoran sulit dikeluarkan. Selain itu, juga bisa berasal dari otot atau kram perut, dimana saat sembelit otot-otot perut bekerja lebih keras agar dapat mengeluarkan kotoran, sehingga membutuhkan banyak sumber energi yang terbatas, kemudian otot akan menggunakan energi dalam bentuk lain yang akan menghasilkan produk sisa yang menyebabkan rasa kram.

Penyebab konstipasi sangat banyak, yaitu:

1. Hambatan pada kolon/usus besar atau rektum, yang disebabkan oleh fisura ani (lecet/luka pada anus), obstruksi usus, kanker usus besar, striktur usus (penyempitan rongga usus besar), kanker rektum, dan rektokel (kantong rektum membonjol ke arah dinding belakang vagina)

2. Gangguan pada saraf-saraf di sekitar kolon dan rektum, yang terjadi pada neuropati otonom, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, cedera saraf tulang belakang, dan stroke

3. Gangguan pada otot-otot yang terlibat dalam proses BAB, seperti ketidakmampuan untuk merelaksasi otot-otot panggul yang diperlukan untuk mengeluarkan tinja (anismus), otot panggul melemah atau tidak berkontraksi secara benar

4. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi hormon tubuh, seperti diabetes, hiperparatiroidisme, kehamilan, dan hipotiroidisme.

Selain kondisi-kondisi di atas, hal-hal berikut juga meningkatkan risiko Anda mengalami konstipasi, yaitu:

  • Usia dewasa
  • Seorang wanita
  • Kurang minum/dehidrasi
  • Diet rendah serat
  • Kurang berolahraga
  • Menggunakan obat-obatan tertentu seperti sedatif, narkotik, antidepresan, atau obat-obat penurun tekanan darah
  • Mengalami gangguan jiwa seperti depresi atau kelainan pola makan

Untuk mengatasi konstipasi, dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:

  • Makan makanan yang tinggi kadar seratnya. Makanan yang mengandung banyak serat, akan membantu tubuh membentuk tinja yang lebih lunak. Jenis makanan tersebut, diantaranya adalah kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Hindari atau kurangi makanan yang tidak atau hanya sedikit mengandung serta, seperti keju, daging, dan makanan yang mengalami pemrosesan (misalnya diasap). Sebaiknya jumlah konsumsi makanan tinggi serat ini dilakukan secara bertahap, awalnya hanya sedikit, lalu ditingkatkan sedikit-sedikit. Hal ini perlu dilakukan karena jka saluran cerna belum terbiasa dengan serat yang dimakan, justru akan menimbulkan keluhan kembung
  • Berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik akan membantu menstimulasi aktivitas usus.
  • Asupan cairan yang cukup. Minum air atau cairan lain dalam jumlah cukup akan membantu melunakkan tinja
  • Jangan menunda dilakukannya BAB.
  • Menggunakan obat yang bersifat laksatif. Obat-obat ini hanya digunakan sebagai cara terakhir, jika cara-cara di atas tidak berhasil. Contoh obat yang bersifat laksatif adalah dulcolax. Dulcolax berfungsi sebagai stimulasi kontraksi ritmik di usus.

Jika langkah-langkah di atas sudah dilakukan namun tidak ada perbaikan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk ditelusuri lebih lanjut penyebab konstipasinya. Teh daun jati mengandung sennosida yang bersifat memiliki sifat sebagai laksatif alami. Namun bila diminum berlebihan dapat timbul efek samping seperti diare, nyeri/kram perut, atau mual. Karena itu sebaiknya tidak dimunum secara berlebihan.

Demikian informasi yang dapat kami berikan mengenai konstipasi. Semoga bermanfaat.

 

Salam sehat.

0 Komentar

Belum ada komentar