Sukses

Sakit Perut dan Jarang BAB pada anak

19 Jul 2017, 23:09 WIB
Pria, 3 tahun.

Dok,anak saya laki-laki usia 3tahun 3bulan, 2 bulan terakhir suka timbul sakit perut sebentar tanpa saya obati nanti sembuh sendiri, terus hampir setiap sehabis makan jeda beberapa menit kalau tidak bab ya muntah. Kira2 kenapa ya,dok? Kalau boleh tambah tanya, anak saya 2,5bulan laki-laki sejak usia 6minggu bab hanya seminggu sekali,itupun kadang mundur. Bentuk bab lembek (kalau diumpamakan bisa seperti bubur sumsum secara tekstur). Tidak rewel. Tapi apakah wajar?

Terima kasih telah bertanya seputar sakit perut dan jarang BAB pada anak melalui fitur Tanya Dokter.

Kami mengerti kekhawatiran yang Anda rasakan. Ijinkan kami menjawab pertanyaan Anda dalam 2 bagian

Pertanyaan pertama Anda adalah mengenai sakit perut pada anak. Beberapa kondisi medis yang dapat memberikan keluhan sakit perut pada anak, antara lain:

1. Sembelit (Konstipasi)

Salah satu sakit perut yang kerap terjadi pada anak adalah sembelit atau konstipasi. Ketika mengalami sembelit, biasanya setelah buang air besar, anak akan merasa tidak nyaman di daerah perut. Feses yang keluar pun berbentuk kecil-kecil dank eras seperti feses kambing.

Sembelit atau dalam bahasa medis disebut dengan konstipasi memang kerap terjadi pada anak. Pada kondisi ini, frekuensi buang air besar anak akan berkurang dari biasanya. Misal pada bayi yang baru lahir, feses akan terlihat keras dan hanya keluar 1 kali dalam sehari. Sedangkan pada anak yang lebih besar, feses akan terlihat keras dan keluar 1 kali dalam 3-4 hari.

Ketika buang air besar dengan kondisi feses keras, maka kerap kali hal ini menyebabkan darah segar menempel pada feses akibat pecahnya pembuluh darah di sekitar anus karena mengejan yang terlalu keras.

2. Diare

Diare juga kerap menyebabkan sakit perut pada anak. Diare atau gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan usus halus yang ditandai dengan frekuensi buang air besar sebanyak 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam. WHO (World Health Organization) mendefinisikan diare akut sebagai diare yang biasanya berlangsung selama 3-7 hari, tetapi dapat pula berlangsung sampai dengan 14 hari.
Diare lebih sering terjadi pada anak-anak. Hal ini disebabkan karena daya tahan tubuh anak yang masih belum optimal. Diare merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada anak di bawah umur 5 tahun di seluruh dunia, yaitu mencapai 1 miliar kejadian dan 3 juta kematian per tahun.
Diare atau gastroenteritis disebabkan oleh infeksi, malabsorbsi (usus tidak dapat menyerap bahan makanan karena kekurangan enzim, kerusakan mukosa usus .dsb), keracunan, dan alergi makanan.

3. Intususepsi
Intersusepsi juga merupakan salah satu penyebab sakit perut pada anak. Intususepsi adalah masuknya segmen usus ke rongga lumen usus bawah sehingga menimbulkan gejala sumbatan usus. Selain menimbulkan rasa sakit, gejala lain yang mungkin dapat ditimbul akibat hal ini adalah muntah, keluarnya darah melalui anus, dan terdapatnya massa yang teraba di perut. Intususepsi merupakan kondisi gawat darurat medis, di mana bila tidak ditangani dengan segera dan tepat akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut. Dengan kata lain, apabila kondisi ini dibiarkan, maka kondisi ini dapat menyebabkan kematian jaringan usus.

4. Cemas

Kecemasan yang berlebihan atau gangguan cemas ternyata tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, anak juga dapat mengalami gangguan cemas. Pasalnya, sekitar 6-17% anak ditemukan memiliki gangguan cemas. Kebanyakan orangtua tidak mendiskusikan masalah kesehatan mental ini kepada dokter, walaupun mereka yakin bahwa hal ini merupakan hal yang sebaiknya didiskusikan. Karenanya, masalah kesehatan mental gangguan cemas ini sering kali tidak teratasi dengan baik. Salah satu keluhan klinis gangguan cemas pada anak yang sering disebutkan adalah sakit perut dan sakit kepala.

Perlu diketahui, untuk mengatasi sakit perut yang terjadi pada anak, maka hal ini harus disesuaikan dengan penyebab dari sakit perut itu sendiri. Apabila keluhan sakit perut sangat mengganggu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar dapat segera dilakukan tindakan yang sesuai.

Mengenai pertanyaan kedua Anda, yaitu anak umur 2.5 tahun yang BAB sekali seminggu. Apa saja yang dapat terjadi dan perlu Anda waspadai jika anak Anda mengalami sulit buang air besar?

  • Pada bayi baru lahir hingga usia 4-6 bulan, tidak mengeluarkan kotoran dan kesulitan untuk buang air besar dapat merupakan suatu pertandan adanya penyakit Hirschprung. Pada penyakit ini usus besar tidak dapat bergerak karena tidak adanya sel-sel saraf pada suatu bagian tertentu usus besar.
  • Pada bayi usia sampai 1 tahun, konstipasi dapat disebabkan karena perubahan makanan, seperti perubahan dari ASI ke susu formula, penambahan MPASI dan perkenalan terhadap makanan yang lebih padat).
  • Pada anak usia 1-3 tahun, sulit buang air besar dapat disebabkan karena kurangnya asupan cairan, belum terbentuknya kebiasaan untuk buang air besar yang teratur dan adanya gangguan pada daerah bokong seperti penyakit ruam popok.
  • Pada anak usia sekolah, konstipasi dapat disebabkan karena perubahan pola buang air besar. Anak yang sudah mulai sekolah biasanya enggan untuk buang air besar di sekolah sehingga cenderung menahan buang air besar yang mengakibatkan kotoran menjadi semakin keras dan semakin sulit untuk dikeluarkan. Selain itu, makanan rendah serat juga berperan menyebabkan kesulitan buang air besar.

Penanganan sulit buang air besar pada anak-anak perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Bila konstipasi tidak disebabkan karena suatu masalah kesehatan yang serius, maka orang tua dapat mencoba beberapa hal berikut:

  • Memberikan makanan-makanan tinggi serat untuk anak-anak seperti gandum, buah, dan sayur.
  • Meningkatkan asupan cairan bagi anak.
  • Menghindari konsumsi susu sapi dan produk susu sapi (keju, es krim). Konstipasi dapat diperparah karena proses mencerna protein susu sapi.
  • Hindari penggunaan obat pencahar, suplemen serat dan pelunak kotoran secara berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan pada kerja saluran cerna. Gunakan obat-obatan ini hanya dengan konsultasi dan pengawasan dokter.

Demikian informasi yang dapat kami berikan mengenai sakit perut dan jarang BAB pada anak. Semoga bermanfaat.

 

Salam sehat.

0 Komentar

Belum ada komentar