Sukses

Keputihan Putih Susu, Gumpal, Panas Dan Gatal

19 Jul 2017, 22:04 WIB
Wanita, 23 tahun.

Dok mau tanya, saya mengalami keputihan seperti gumpalan tahu yang terasa gatal dan panas sekali, sebelumnya saya pernah mengalami ini 3 tahun yang lalu waktu cek leb diagnosanya bacterial vaginosis, sekarang saya coba minum obat metronidazole dan cetirizine sama betadine vaginal douche yang d semprot ke dalam vagina selama 1 minggu alhamdulillah panas dan gatal nya tidak ada, tetapi keputihannya sekarang seperti susu kental cair dan kaya nya mau terasa panas lagi, saya mau minta saran dari dokter apa yang harus saya lakukan dan meminum obat antibiotik apa yang tepat terima kasih

dr. Jeannyfer HJ

Dijawab Oleh:

dr. Jeannyfer HJ

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Tanya Dokter Klikdokter

Halo, kami memahami kekhawatiran Anda. Sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter sebelum melakukan terapi karena belum tentu apa yang Anda alami sama dengan penyakit Anda sebelumnya.


Keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina. Keputihan dapat timbul dari berbagai keadaan, yaitu secara normal/fisiologis dan secara patologis. Keputihan fisiologis adalah keputihan yang normal terjadi akibat perubahan hormonal, seperti saat menstruasi, stres, kehamilan, dan pemakaian kontrasepsi. Sedangkan keputihan patologis adalah keputihan yang timbul akibat kondisi medis tertentu dengan penyebab tersering adalah akibat infeksi parasit/jamur/bakteri.

Cairan vagina normal memiliki ciri-ciri antara lain warnanya putih jernih, bila menempel pada pakaian dalam warnanya kuning terang, konsistensi seperti lendir (encer-kental) tergantung siklus hormon, tidak berbau serta tidak menimbulkan keluhan.

Ketika cairan yang keluar dari vagina sudah mengalami perubahan warna (menjadi putih susu, keabuan, hingga kehijauan), berbau, banyak dan disertai keluhan lain (seperti gatal, panas, dll) menunjukkan bahwa telah terjadi keputihan abnormal yang umumnya disebabkan karena infeksi pada saluran reproduksi oleh berbagai kuman, jamur ataupun parasit.

Vaginosis Bakterial (BV) timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan berlebih dari bakteri anaerobik yang berkolonisasi di vagina. Gejala yang paling sering terjadi keputihan berwarna kuning hingga kehijauan disertai gatal, bau amis. BV merupakan penyebab keputihan abnormal tersering pada wanita usia subur. BV lebih sering terjadi pada wanita yang aktif secara seksual. BV dapat menimbulkan gejala maupun tidak. Jika menimbulkan gejala, penanganannya ialah dengan menggunakan antibiotik. Salah satunya adalah metronidazol. Metronidazol adalah antibiotik yang cukup baik untuk bakteri anaerob . Antibiotik harus digunakan atau dikonsumsi hingga tuntas sesuai anjuran dokter agar penyakit tuntas terobati.

 

Bila tidak ditangani dengan benar, BV dapat menimbulkan komplikasi. Pada wanita hamil salah satu komplikasi yang ditakutkan bila tidak diobati adalah terjadinya persalinan prematur. Komplikasi pada wanita non hamil ialah timbul endometriosis atau penyakit radang panggul. Selain itu, BV dapat meningkatkan risiko tertular penyakit menular seksual.

Bila diobati dengan benar, BV dapat sembuh dengan total. Yang terpenting adalah gunakan obat sesuai anjuran dokter. Bila setelah obat habis dan keluhan masih ada atau tidak berkurang segera berkonsultasi kembali dengan dokter yang menangani Anda.

Erosi serviks merupakan temuan yang umum pada pemeriksaan ginekologis rutin pada perempuan usia subur. Erosi didefinisikan sebagai ausnya jaringan. Serviks terdiri 2 tipe sel, bagian luar oleh sel skuamosa dan bagian dalam oleh sel glandular yang mensekresi mukus. Ketika terjadi erosi lapisan sel skuamosa digantikan oleh sel epitel kolumnar dari bagian dalam serviks. Keadaan ini menyebabkan jaringan lebih mudah terinfeksi atau mengalami inflamsi.

Keadaan ini umumnya tidak menunjukkan gejala. Namun dapat ditemukan gejala berupa peningkatan sekresi mukus dari vagina atau perdarahan dari vagina. Penyebabnya umumnya tidak diketahui, namun dapat terjadi saat hamil, pasca melahirkan, atau penggunan kontrasepsi oral. Beberapa perempuan lahir dengan erosi serviks dan tidak menunjukkan gejala. Risiko terjadinya erosi meningkat dalam keadaan stress, infeksi vagina berulang, dan obesitas.

Penanganan lain yang perlu Anda lakukan adalah menjaga kebersihan daerah vagina, yaitu dengan cara :

Sering mengganti celana dalam apabila berkeringat atau lembab
Menghindari penggunaan celana ketat yang terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat
Apabila ingin menggunakan panty liner pilihlah yang tidak mengandung pengharum dan tidak digunakan selama lebih dari 4-6 jam, lebih baik bila tidak menggunakan
Menghindari penggunaan produk pembersih kemaluan yang dapat menyebabkan perubahan keasaman dan keseimbangan bakteri dalam liang kemaluan
Bila hendak membilas setelah buang air kecil, lakukanlah dengan arah dari depan ke belakang menggunakan handuk.
Menjaga kebersihan area genital sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual.

Oleh karena itu, kami sarankan Anda melakukan konsultasi ke dokter untuk wawancara lebih detail dan pemeriksaan fisik secara langsung, jika perlu akan dilakukan pemeriksaan laboratorium dari cairan vagina Anda.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat

Salam Sehat

 

0 Komentar

Belum ada komentar