Sukses

Mengikat Rambut dan Sakit Kepala

15 Jul 2017, 17:40 WIB
Wanita, 20 tahun.

Dok saya setiap kali mengenakan kucir dan menggunakan ciput yang sedikit kencang saya selalu migren, dan saya memiliki vertigo. Apakah kedua hal tersebut berhubungan?

Terimakasih telah bertanya melalui fitur Tanya Dokter.

Kami memahami kekhawatiran Anda.

Kebiasaan mengikat rambut ala buntut kuda atau ponytail yang terlalu kencang memang dapat menjadi penyebab timbulnya keluhan nyeri kepala. Umumnya nyeri kepala hanya di daerah tarikan saja, tetapi bisa juga menjalar ke samping, belakang, hingga ke leher.

Saat menguncir rambut terlalu kencang, jaringan ikat di kulit kepala akan teregang kuat. Kondisi ini akan memicu nyeri kepala. Pada orang dengan rambut tebal dan lebat, menguncir rambut terlalu kencang juga dapat menimbulkan nyeri hingga ke area leher. Biasanya nyeri akan berkurang dalam waktu 30 menit sampai 1 jam setelah ikatan pada rambutnya dilepas.

Berikut tip yang dapat Anda lakukan untuk mencegah nyeri kepala akibat mengikat rambut:

  • Bila Anda memiliki rambut panjang dan enggan menggerai rambut, yang perlu diperhatikan adalah jangan mengikat rambut Anda terlalu kencang bila tidak ingin timbul nyeri kepala.
  • Menjelang tidur, sebaiknya ikatan rambut ini dilepas agar rambut tidak tertarik-tarik saat tidur tanpa kita sadari.
  • Gunakan helm yang pas agar tidak semakin menekan kepala hingga timbul nyeri.

Mengenai rasa sakit ketika rambut disentuh, ini disebut dengan allodynia, yaitu sensasi nyeri dengan stimulus yang seharusnya tidak menimbulkan nyeri. Ini umum terjadi pada serangan migrain, yang ditandai dengan sakit kepala berdenyut pada satu sisi atau kedua sisi kepala. Gejala lain pada migrain ialah mual, muntah dan sangat sensitif terhadap cahaya dan suara. Gejala diperburuk dengan aktivitas fisik biasa. Serangan migrain dapat menyebabkan nyeri yang sangat mengganggu selama berjam-jam bahkan harian hingga menyebabkan gangguan aktivitas pada penderitanya. 

Migrain kronik sering terjadi pada individu yang memiliki riwayat migrain episodik. Dianggap kronik apabila terjadi lebih dari 8 hari dalam 1 bulan, selama paling sedikit 3 bulan.

Wanita tiga kali lebih sering mengalami migrain dibandingkan pria. Pemicunya antara lain:

  • Perubahan hormon pada wanita, terutama fluktuasi hormon estrogen. Seringkali berkaitan dengan siklus haid. Biasanya migrain terjadi sebelum dan selama haid, ketika kadar estrogen tiba-tiba turun. Sebagian juga cenderung mengalami migrain saat hamil atau menopause. Pil KB hormonal dan terapi hormon juga dapat memperburuk migrain.
  • Makanan. Keju, makanan yang asin dan makanan siap saji dapat memicu migrain. Tidak makan (skipping meals) atau puasa juga dapat memicu serangan.
  • Zat tambahan dalam makanan. Pemanis aspartam dan pengawet monosodium glutamat (MSG), yang ada di banyak makanan, dapat memicu serangan.
  • Minuman. Alkohol, wine, dan minuman berkafein tinggi juga dapat memicu serangan.
  • Stress. Stress baik di tempat kerja maupun di rumah dapat memicu migrain
  • Rangsangan sensorik. Cahaya terang dan sinar matahari serta suara yang keras dapat memicu migrain. Bau-bauan yang kuat, seperti parfum, thinner, asap rokok juga dapat memicu serangan pada sebagian orang.
  • Faktor fisik. Exercise yang intens maupun aktivitas seksual dapat memicu migrain.
  • Perubahan lingkungan. Perubahan cuaca dan tekanan udara dapat memicu migrain.
  • Obat-obatan. Pil KB dan vasodilator (obat untuk melebarkan pembuluh darah), seperti nitrogliserin, dapat memperburuk migrain.

Migrain yang kronik memang sangat mengganggu. Kemungkinan kambuh tinggi apabila faktor pemicu tidak dihindari. Namun, gejalanya dapat dikontrol. Obat-obatan yang umum digunakan, ada yang bersifat antinyeri dan ada yang bersifat mencegah (untuk mengurangi keparahan dan frekuensi migrain). Namun sayangnya, apabila sudah terjadi gejala allodynia, nyeri yang timbul sulit sekali dikontrol oleh berbagai jenis antinyeri yang ada. 

Selain obat-obatan terdapat terapi alternatif yang dapat mengurangi migrain, seperti akupunktur, pijat (massage therapy), dan psikoterapi (bagaimana perilaku dan pikiran mempengaruhi persepsi Anda terhadap nyeri). Suplemen seperti Vitamin B2, Coenzyme Q10, dan Magnesium dapat mencegah frekuensi migrain.

Bila migrain Anda berlangsung sering dan dalam waktu lama, sebaiknya konsultasikan kepada dokter Anda. Ada baiknya dikonsultasikan juga dengan dokter spesialis saraf. Kemungkinan Anda memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti CT scan kepala untuk memastikan penyebab migrain. Selain itu, diskusikan juga pengobatan yang terbaik untuk Anda.

Baca juga: 

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. (FA)

0 Komentar

Belum ada komentar