Sukses

Payudara Bengkak Pada Ibu Menyusui, Boleh Tetap Menyusui?

11 Jul 2017, 12:19 WIB
Wanita, 22 tahun.

Selamat siang dok, saya ibu menyusui sekitar 3hari yang lalu saya mengalami sakit pada bagian payudara kiri atas, dan tadi malam saya merasakan kesakitan pada payudara sya hingga saya demam menggigil dan badan sya panas, sedangkan anak sya suda berumur 1thun 3bln tidak bisa terlepas dari Asi, apakah skt yg sya derita ini akan mempengaruhi asi saya untuk anak sya dok dan apakah sya hrus berhenti menyusui anak sya? apakah ini gejala tumor atau salah jenisnya? Trimakasih dok

Terima kasih telah bertanya mengenai payudara bengkak melalui fitur Tanya Dokter KlikDokter.com.

Kondisi yang anda alami disebut sebagai. Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Dalam proses ini dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis terinfeksi. Apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat atau karena payudara bengkak, maka ini disebut stasis ASI. Bila ASI tidak juga dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis terinfeksi. Diagnosis mastitis ditegakkan berdasarkan kumpulan gejala sebagai berikut:

  • Demam dengan suhu lebih dari 38,5oC
  • Menggigil
  • Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.
  • Peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa asin
  • Timbul garis-garis merah ke arah ketiak.

Faktor risiko terjadinya mastitis antara lain:

  • Terdapat riwayat mastitis pada anak sebelumnya.
  • Puting lecet. Puting lecet menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang membuat kebanyakan ibu menghindari pengosongan payudara secara sempurna.
  • Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui yang pendek. Biasanya mulai terjadi pada malam hari saat ibu tidak memberikan bayinya minum sepanjang malam atau pada ibu yang menyusui dengan tergesa-gesa.
  • Pengosongan payudara yang tidak sempurna
  • Pelekatan bayi pada payudara yang kurang baik. Bayi yang hanya mengisap puting (tidak termasuk areola) menyebabkan puting terhimpit diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI tidak sempurna.
  • Ibu atau bayi sakit.
  • Frenulum pendek.
  • Produksi ASI yang terlalu banyak.
  • Berhenti menyusu secara cepat/ mendadak, misalnya saat bepergian.
  • Penggunaan krim pada puting.
  • Ibu stres atau kelelahan.
  • Ibu malnutrisi. Hal ini berhubungan dengan daya tahan tubuh yang rendah.

Mastitis sendiri bukanlah jenis penyakit yang mengancam nyawa dan dapat sembuh dengan pengobatan yang adekuat. Pengobatan mastitis dimulai dengan memperbaiki teknik menyusui ibu. Aliran ASI yang baik merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis karena stasis ASI merupakan masalah yang biasanya mengawali terjadinya mastitis.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ibu harus beristirahat, mengkonsumsi cairan yang adekuat dan nutrisi berimbang. Anggota keluarga yang lain perlu membantu ibu di rumah agar ibu dapat beristirahat. Kompres hangat terutama saat menyusu akan sangat membantu mengalirkan ASI. Setelah menyusui atau memerah ASI, kompres dingin dapat dipakai untuk mengurangi nyeri dan bengkak. Pada payudara yang sangat bengkak kompres panas kadang membuat rasa nyeri bertambah. Pada kondisi ini kompres dingin justru membuat ibu lebih nyaman. Keputusan untuk memilih kompres panas atau dingin lebih tergantung pada kenyamanan ibu. Untuk sementara Anda bisa menyusui melalui payudara yang sehat, sementara payudra sakit lebih baik Anda pompa saja. Kondis ini bukan halangan untuk menguruis

Meskipun ibu menyusui sering enggan untuk mengkonsumsi obat, ibu dengan mastitis dianjurkan untuk mengkonsumsi beberapa obat sesuai indikasi.

Antibiotik diberikan paling sedikit selama 10 – 14 hari. Biasanya ibu menghentikan antibiotik sebelum waktunya karena merasa telah membaik. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya mastitis berulang.

Jika gejalanya tidak berkurang dalam beberapa hari dengan terapi yang adekuat termasuk antibiotik, harus dipertimbangkan penyebab lain. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi kuman-kuman yang resisten, adanya abses atau massa padat yang mendasari terjadinya mastitis seperti karsinoma duktal atau limfoma non Hodgkin. Berulangnya kejadian mastitis lebih dari dua kali pada tempat yang sama juga menjadi alasan dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan adanya massa tumor, kista atau galaktokel. Untuk itu, sebaiknya Anda memeriksakan diri kepada dokter yang telah merawat Anda.

Demikian informasi ini kami sampaikan seputar payudara bengkak pada ibu menyusui, semoga bermanfaat.

Salam,

 

0 Komentar

Belum ada komentar