Sukses

Penggunaan Rokok Elektrik atau Vaporizer

29 Jun 2017, 02:34 WIB
Pria, 22 tahun.

Halo dok. Tanya donk, saya adalah seorang pecandu rokok berat. Dan berniat untuk berhenti merokok. Disini saya pun mendapatkan solusi cara berhenti merokok dengan bantuan alternativ rokok elektrocik (vaping). Dan alhasil mereka yang sudah mencoba berhasil untuk lepas dari kecanduan merokok. Tapi point pertanyaan saya, apakah alternativ menggunakan vape ini lebih bahaya dari pada rokok tembakau biasa? Mohon penjelasanya yang konkret mengenai hal ini dok. Terimakasih.

Terima kasih telah menggunakan fitur Tanya Dokter di KlikDokter.

Kebiasaan merokok memang merupakan tantangan tersendiri bagi sang perokok, keluarga dan juga tenaga medis penolongnya. Kesulitannya terletak pada perilaku kebiasaan dan kecanduan yang terjadi pada mereka yang merokok.

Untuk berhenti merokok, sang perokok perlu memiliki niat/keinginan yang kuat dari dalam diri sendiri untuk berhenti merokok, karena perjalanan berhenti merokok itu sendiri membutuhkan proses yang tidak sebentar dan tidak mudah.

Rokok elektrik adalah sebuah alat yang mengeluarkan uap berisi nikotin. Rokok elektrik ini tidak menghasilkan asap rokok yang banyak mengandung bahan beracun. Seperti kita ketahui asap rokok mengandung berbagai zat yang tidak hanya berbahaya bagi sang perokok, namun juga berbahaya bagi orang lain disekitar perokok yang menghirupnya (perokok pasif). Rokok elektrik menggunakan cairan yang mengandung nikotin pada konsentrasi tertentu.

Rokok elektrik mengundang banyak kontroversi. WHO sendiri memang belum menyatakan bahwa rokok elektrik aman untuk menjadi pengganti rokok tembakau karena belum adanya penelitian yang menyeluruh dan valid. Bahan-bahan kimia yang terkandung dalam rokok elektrik untuk menghasilkan asap masih belum dapat dipastikan keamanan dan efeknya terhadap kesehatan. Selain itu, rokok elektrik juga masih mengandung nikotin (meskipun kadarnya dapat diatur oleh pemakainya), sehingga tidak menyelesaikan masalah kecanduan nikotin pada para perokok.

Rokok elektrik adalah alternatif pengganti rokok yang dewasa ini mulai beredar di pasaran. Sebuah penemuan yang baru tentu tidak akan lepas dari pro dan kontra. Sampai saat ini belum ada penelitian skala besar yang menyimpulkan keamanan dan memaparkan efek samping jangka panjang dari rokok elektronik ini. Rokok elektronik dipercaya dapat membantu perokok yang ketergantungan nikotin tanpa meracuni tubuh dengan asap rokok.

Namun apakah masalahnya sesederhana itu? Sepertinya tidak. Walaupun belum ada penelitian skala besar yang memaparkan bahaya rokok elektronik, beberapa pihak merasa bahwa jawaban dari ketergantungan rokok adalah dengan berhenti merokok, bukan malah berganti ke jenis lain dari pemberian nikotin. Secara logika, kandungan nikotin yang terkandung didalamnya tetap memiliki efek candu atau ketergantungan. Apabila berhenti mengkonsumsi rokok elektrik, pengguna tetap akan mengalami sindroma putus konsumsi, seperti mudah marah, depresi, gelisah dan cemas. Layaknya rokok biasa, rokok elektrik tetap berbahaya bagi penderita jantung dan terbukti merusak lapisan pembuluh darah.

Perokok disarankan untuk berhenti merokok secara bertahap dengan sementara menggunakan alat seperti, nicotine patch, bukan dianjurkan beralih ke rokok elektronik. Selain itu, menurut laporan Food and Drug Administration (FDA), beberapa komposisi dari uap rokok elektronik mungkin berbahaya, walaupun tidak dipaparkan secara jelas jenis komposisinya.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Sepertinya rekomendasi pasti tentang rokok elektronik masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun, satu hal yang sudah pasti, bahwa merokok batang tembakau berbahaya untuk kesehatan Anda! Cobalah untuk berhenti merokok secara perlahan atau carilah pusat pertolongan untuk berhenti merokok di sekitar Anda.

Jika Anda berkeinginan untuk mengatasi kebiasaan merokok, kami sarankan Anda datang ke klinik atau rumah sakit yang menyediakan layanan berhenti merokok seperti Rumah Sakit Umum Persahabatan di Jakarta. Dokter akan memberikan layanan konseling untuk mendukung perubahan perilaku dan memberikan obat untuk membantu mengatasi kecanduan nikotin.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar