Sukses

Gejala TBC

14 Jun 2017, 09:25 WIB
Pria, 24 tahun.

Dok, maaf sebelumnya krn sy akan mmberikan penjelasan panjang sebelum bertanya. Pada bulan November 2015 – Februari 2016 sy berada di luar kota sy, yang menurut sy tempat tersebut sangat lembab dan kotor. Selama itu sy sering pulang pergi naik motor (perjalanan 3 jam). Semenjak tinggal disana sy sering terserang pilek dan batuk. Seminggu sakit, 2-3 hari sembuh, seminggu sakit, dan seterusnya sampai sy kembali ke rumah, sy juga masih seperti itu. Pada bulan April 2016 sy pergi mendaki Gunung, namun dalam perjalanan sy beberapa kali muntah tanpa sebab dan susah bernapas saat mendaki. Padahal biasanya sy tidak pernah seperti itu. Pada bulan Mei sy bekerja dan mengetahui bahwa rekan kantor sy satu2nya sedang menjalani pengobatan TBC bulan ke-4. 2 minggu sy kerja sy kembali sakit batuk (tidak berdahak). Tapi berbeda dari sebelumnya. Sy juga mengalami nyeri dada & punggung saat membungkuk, dan menoleh kanan kiri. Dua minggu kemudian sy datang ke dokter umum. Dokter umum memberi sy obat magh dan antibiotik utk radang tenggorokan, serta menyarankan untuk tidak makan pedas dan asam. Selama sebulan sy tidak makan pedas dan asam. Batuk sy sembuh. Tapi sebulan kemudian sy kembali batuk tidak berdahak dan nyeri dada. Namun batuk sy semakin parah, sampai sy sering muntah. Muntah sy selalu berupa lendir bening ada gelembung udaranya (seperti berbusa) dan sakit sekali di perut. Susah bernapas, tiap napas sedikit dalam selalu batuk. Badan mudah lelah dan malas makan. Tapi sy tidak demam, tidak berkeringat malam, tidak berdahak, dan tidak mengalami penurunan berat badan. Sebulan semenjak itu sy datang ke dokter penyakit dalam. Dokter memperkirakan sy alergi atau bronkitis. Lalu sy diberi obat antibiotik, obat pereda batuk, dan obat demam. Namun saat minum obat tsb sakit sy semakin parah. Batuk sy smakin menjadi, dada sy sakit sprti ditusuk-tusuk, utk tidur miring kanan kiri sangat sakit, dan badan menjadi panas meriang. Kemudian sy kembali lagi ke dokter dengan hasil rontgen bertuliskan : Curiga KP aktif. Pleural effusi dextra. Dokter langsung mengatakan sy terkena TB tanpa pemeriksaan lain-lain selain stetoskop dan tekanan darah. Kemudian sy dirujuk di RS utk punksi pleura. Di RS, sy dites darah hasilnya sbb: *yg di dalam kurung adl nilai rujukannya Hemoglobin : 11.2 (12.0-16.0) Hematrocit : 33.3 (4.30-10.8) Trombosit : 455 (150-350) Limfosit : 16 (24-44) Monosit : 15.5 (3.0-7.0) Eosinofil : 0.1 (2.0-4.0) Basofil : 0.4 (0.5-1.0) MCV : 78.7 (84.0-96.0) MCH : 26.5 (28.0-34.0) PCT : 0.41 (0.15-0.32) PDW : 9.1 (15.5-17.5) LED : 122 (

Terima kasih telah bertanya melalui fitur Tanya Dokter
Halo,

Terima kasih untuk penjelasan anda, sayangnya kami belum menangkap pertanyaan yang ingin anda ajukan. Walau demikian, akan kami jelaskan seputar TBC.

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis yang bersifat sistemik, yang dapat bermanifestasi pada hampir semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. TBC ditularkan melalu airbone/udara.

Tuberkulosis dapat dikalsifikasikan menjadi TB paru dan TB di luar paru (ekstra paru). Tujuan melakukan klasifikasi penyakit dan penderita adalah penting untuk menetapkan panduan OAT yang sesuai. Klasifikasi penyakit dan tipe penderita dilakukan sebelum pengobatan dimulai.

Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan parenchyma paru, sebab itu TB pada selaput paru (pleura) atau TB pada kelenjar hilus dianggap sebagai TB Ekstra Paru. Bila penderita TB paru juga bisa mengalami TB Ekstra Paru, maka untuk kepentingan pencatatan maka penderita tersebut hanya dicatat sebagai penderita TB paru. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB paru dapat dibagi menjadi :

TB paru BTA positif, yaitu bila sekurang-kurangnya 2 dari 3 pemeriksaan sediaan dahak SPS hasilnya positif atau sediaan dahak hasilnya BTA positif dan pemeriksaan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
TB paru BTA negatif rontgen positif, yaitu bila semua sediaan dahak SPS hasilnya negatif tapi foto rontgen ada menunjukkan gambaran TB aktif. TB paru BTA negatif rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan kerusakan paru yang luas, seperti adanya proses milier dan atau keadaan umum penderita buruk.

TB Ekstra Paru
TB Ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ lain selain paru, misalnya pleura, selaput jantung, selaput otak, persendian, limfa, kulit, tulang, ginjal, usus, alat kelamin, saluran kemih, dan lain-lain. TB ekstra paru dibagi menurut tingkat keparahan yaitu :

TB ekstra paru ringan, misalnya TB kelenjar limfa, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
TB ekstra paru berat, misalnya meningitis, milier, perikarditis, perioritis, tulang belakang, usus, saluran kencing, dan alat kelamin.

Pengobatan TB memang membutuhkan kedisiplinan dan waktu yang panjang. Hingga kini, belum ada obat TB terbaru yang dapat menyembuhkan TB dalam waktu yang singkat. Seseorang dengan TB harus menuntaskan pengobatan yang lama tersebut hingga benar-benar dinyatakan terbebas dari penyakit TB. Lama pengobatan TB pada penderita dapat berkisar 6- 9 bulan, tergantung dari jenis TB dan respon penderita terhadap pengobatan. Sejauh ini, jenis obat TB yang efektif memang kombinasi dari penggunaan empat obat-Rifampisin, INH, Pirazinamid, dan Etambutol, ditambah dengan suntikan Streptomisin pada mereka yang tergolong dalam Penderita TB kategori 2 ( pasien kambuh, gagal ataupun dengan riwayat pengobatan terputus).


Demikian informasi yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar