Sukses

Pertanyaan - #162469

21 May 2017, 11:34 WIB
Wanita, 29 tahun.

Dok, saya jelas menderita hipoplasia payudara dengan tanda seperti yang disebutkan tidak adanya perubahan pada payudara sejak pubertas, tidak ada perubahan saat hamil maupun menyusui terhadap puting maupun bentuk, ada jaringan parut, bentuk seperti kantung kosong dan asimetris. Saya ibu menyusui, usia 29 tahun dan sekarang anak pertama saya sudah berusia 1tahun. Tidak menggunakan alat kontrasepsi kb pil, suntik dan semacamnya. Ketika hamil ukuran payudara saya tidak berubah sama sekali setelah melahirkan dan menyusui. Saya memberi asi eksklusif 6bulan, sewaktu menyusui bayi sering menangis ketika menyusui(padahal saya sudah mencoba berbagai cara menambah asi dari makan sayur, menyusui tiap saat bayi, minum air banyak, pijat relaksasi, sampai minum jamu, tetapi saya juga merasakan payudara sangat gampang kosong dan sulit terisi penuh asi) Kondisi saya sewaktu menyusui; 1. Payudara tidak berubah sama sekali. 2. Asi tetap keluar namun cepat kosong, dan lama penuhnya. 3. Bayi selalu menangis. (Kemungkinan tidak cukup mendapat asi, padahal saya sudah menyusui di payudara kiri dan kanan. Tapi saya sendiri merasa payudara gampang kosong) Saya meyakini bahwa asi itu yang terbaik bagi bayi kekebalan tubuh bayi saya, maka dari itu saya tetap pertahankan memberi asi 6bulan. Saya juga berfikir positif saja bahwa bayi saya mendapat asi yang melimpah. Tetapi mengetahui adanya penyakit hipopasia payudara, saya sangat sedih dan jadi merasa bersalah pada bayi saya karena besar kemungkinan pada waktu itu dia kekurangan asi. Jadi kalau untuk anak kedua suatu hari nanti, apa lebih baik menambah susu formula saja daripada menunggu 6bulan? Apa kondisi saya ini bisa diperbaiki dengan suntik hormon? Saya sangat sangat ingin menyusui bayi saya tanpa khawatir dia kekurangan asi.

dr. Aldo Ferly

Dijawab Oleh:

dr. Aldo Ferly

ipoplasia payudara pada dasarnya adalah kondisi dimana jaringan payudara tidak berkembang sebagaimana normalnya, dan tidak memiliki jaringan kelenjar yang memadai, dan hanyaterdiri dari jaringan lemak saja. Ciri-ciri payudara yang mengalami hipoplasia:

Bentuk payudara yang terpisah jauh satu sama lain (lebih dari 1,5 inci).
Adanya asimetri payudara (salah satu payudara tampak jauh lebih besar dibanding lainnya).
Adanya stretch mark pada payudara, tanpa diikuti pembesaran payudara (baik saat pubertas maupun saat hamil).
Bentuk payudara tubular (menyerupai ‘kantung yang kosong’).
Areola yang berukuran besar namun tidak proporsional
Pada wanita yang telah berkeluarga, tidak adanya perubahan pada payudara baik saat hamil, setelah melahirkan, maupun keduanya.
Payudara hipoplastik tidak selalu harus berukuran kecil maupun besar. Istilah hipoplastik sesungguhnya lebih merujuk pada tidak timbulnya jaringan kelenjar pada payudara, sehingga hal yang lebih berpengaruh adalah bentuk, posisi, dan asimetri.

Penyebab kondisi ini beragam, bisa disebabkan oleh gangguan hormon, kelainan kromosomal atau genetik, atau faktor lain yang belum diketahui mekanismenya, seperti paparan pestisida atau zat kimia tertentu seperti dioxin.

Hipoplasia payudara tidak memiliki penanganan khusus. Bila penyebabnya karena gangguan hormonal dan dapat diketahui saat awal pertumbuhan payudara, terapi hormon dapat menjadi solusi. Namun Pada umumnya jika wanita telah melewati masa pubertas dan payudara mengalami hipoplasia, akan sulit mengatasinya agar dapat tumbuh dengan normal. Permasalahan sesungguhnya adalah pada menyusui, karena yang memproduksi ASI adalah kelenjar laktasi yang pada hipoplasia tidak tumbuh.

Sebaiknya tidak langsung memberikan susu formula. Pastikan dulu sampai benar-benar Anda tidak dapat memproduksi ASI sama sekali. Pemberian ASI sangat bermanfaat bagi anak kita karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah beberapa penyakit.

Diagnosis pasti hipoplasia payudara dapat ditegakkan dengan perabaan (palpasi) yang dilakukan oleh ahli dalam laktasi, serta adanya kegagalan dalam menyusui, meskipun telah dilakukan persiapan secara nutrisional, dan lingkungan yang memadai. Untuk itu, agar dapat ditegakkan dengan pasti, sebaiknya dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter, dan apakah bisa sembuh atau tidak tergantung dari kondisi pada masing-masing individu.

Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

    0 Komentar

    Belum ada komentar