Sukses

Produksi ASI Sedikit

01 Apr 2017, 20:19 WIB
Wanita, 20 tahun.

Sore dok saya mau tanya, saya baru saja dikaruniai seorang anak laki laki, kini usia nya 3bulan. Saya sudah menjalankan ASI esklusif hingga saat ini, tapi beberapa minggu yg lalu anak saya masuk rumah sakit karena awal nya batuk, menjadi sesak karena banyak dahak hingga harus di rawat, minum nya hanya lewat botol sedikit demi sedikit, tidak lewat payudara langsung karena di khawatirkan masih sesak, anak saya dirawat 4hari. Pulang dari rumah sakit anak saya jadi tidak mau menyusui langsung, hanya ingin di botol saja, saya sudah coba banyak cara tetapi hasil nya nihil, yg ada dia malah nangis sekencang kencang nya. Pertanyaan saya, sekarang saya mengalami pengerasan payudara, asi yg keluar hanya sedikit tetapi payudara saya keras sudah 2hari, saya tidak demam, padahal sudah saya pijat sudah saya kompres dengan air hangat berkali kali tetapi hasil nya nihil, yg bermasalah hanya payudara sebelah kanan saja dok, jadi saya harus gimana lagi ya dok? Terimakasih

Terima kasih telah bertanya tentang produksi ASI menggunakan fitur tanya dokter dari Klikdokter.

Apakah payudara Ibu terasa sakit? Adakah pembengkakan yang terjadi pada payudara Ibu?

Payudara Ibu saat ini mengeras dikarenakan banyaknya produksi ASI di payudara. Selama ini ibu aktif memberikan ASI sehingga produksi ASI di payudara akan berjalan terus. Jika terjadi penghentian penghisapan ASI secara tiba-tiba tentunya akan menyebabkan produksi ASI menjadi menumpuk dan menyebabkan tegangnya payudara. Sudah benar Ibu mengatasinya dengan mengompres payudara Ibu dengan air hangat untuk mencegah ASI menggumpal dan menyebabkan mastitis (peradangan pada kelenjar payudara).

Apabila memang terasa sangat keras dan mengencang maka Ibu dapat memerasnya keluar sedikit untuk mengurangi nyeri. Apabila ASi tidak lagi dikonsumsi bayi dan payudara tidak dihisap maka produksi ASI akan perlahan-lahan menurun. Apabila keluhan ini terus berlanjut dan mengakibatkan gangguan terus menerus, Ibu dapat berkonsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Demikian informasi yang dapat kami sampaika. Semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar