Sukses

Melakukan Anal Seks = Risiko HIV?

16 Mar 2017, 15:30 WIB
Pria, 20 tahun.

Dok saya mau nanya, saya 2 hari yang lalu sempat mau berhubungan badan dengan pasangan saya melalui anal sex namun hal itu tak sepenuhnya saya lakukan karena tidak berhasil masuk kedalam lubangnya dan hanya ketahan di luar lubang saja dengan sedikit sekali yg masuk kedalam dan saya sendiri menyesal mau melakukan itu, saya dan pasangan saya sama sama tidak punya riwayat penyakit menular, apakah saya tetap beresiko terkena hiv/aids? Mohon jawaban nya

Terima kasih telah menggunakan Fitur Tanya Dokter. 

Perlu diketahui bahwa saat melakukan anal seks, pria akan memasukkan alat kelaminnya ke dalam lubang anus pasangannya. Tentunya keadaan ini tidak higienis sama sekali karena lubang anus merupakan tempat keluarnya kotoran. Dari perilaku anal seks ini dapat timbul berbagai macam penyakit, bahkan anal seks dianggap sebagai perilaku seks yang paling berisiko.

Berikut beberapa risiko dan dampak dari hubungan seks melalui lubang dubur (anal seks):

Lubang anus tidak menghasilkan lubrikan seperti vagina, sehingga selain hanya akan merasakan nyeri sepanjang penetrasi di dubur, penetrasi ke dalam anus juga dapat menyebabkan luka pada anus.
Luka tersebut memungkinkan masuknya virus dan bakteri ke dalam pembuluh darah.
Bagian dalam anus tidak dilapisi kulit seperti bagian luar anus sehingga tidak ada yang memproteksi masuknya virus ataupun bakteri.
Dengan demikian perilaku anal seks menjadi rentan terkena penyakit menular seperti HIV– AIDS, hepatitis, HPV dan lain-lain.
Selain itu, otot di sekitar anus yang berbentuk cincin dapat menjadi longgar bila anal seks dilakukan berulang-ulang sehingga lambat laun, dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk menahan BAB (buang air besar)karena ototnya telah menjadi longgar.

Jadi risiko tetap ada, namun jika Anda dan pasangan tidak sering berganti pasangan seksual maka risiko tersebut dapat menurun. Jika Anda sangat khawatir Anda dapat konsultasi lebih lanjut dengan dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang terkait HIV.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Salam sehat, 

0 Komentar

Belum ada komentar