Sukses

Konstipasi: Penyebab dan Penanganannya
20 Feb 2017, 22:39 WIB
Wanita, 18 tahun.

Dok, saya akhir-akhir ini bab nya tidak lancar bahkan dalam seminggu tidak pernah BAB. saya sudah rajin berolahraga rajin minum air putih 8gelas sehari. tapi saya sulit mengontrol nafsu makan ketika sudah makan saya selalu lapar lagi. sehingga perut saya buncit dan untuk mengatasi itu saya hampir setiap hari minum obat pencahar karna kalo saya biarkan perut saya akan semakin membuncit bagaimana solusinya? 18tahun tinggi 152 berat 51

Terimakasih telah menggunakan layanan e-Konsultasi Tanya Dokter KlikDokter.

Sulit BAB karena konsistensinya yang lebih keras disebut juga dengan konstipasi, dalam istilah awam dikenal dengan sembelit. Konstipasi/sembelit adalah keadaan jarangnya frekuensi buang air besar (BAB), penurunan frekuensi gerakan usus, BAB keras dan sulit. Konstipasi ini dapat mengakibatkan wasir/hemoroid apabila terus-menerus terjadi.

Bila konstipasi yang Anda alami sudah berlangsung lebih dari 3 bulan, kondisi ini disebut dengan konstipasi kronis. Gejala lain dari konstipasi kronis adalah:

BAB kurang dari 3 kali seminggu

BAB keras atau bergumpal-gumpal

Harus mengedan ketika BAB

Terasa seperti ada sumbatan pada rektum yang menghambat pengeluaran tinja

Terasa seperti tidak bisa mengeluarkan tinja secara tuntas

Memerlukan bantuan untuk mengosongkan rektum, seperti menggunakan tangan untuk menekan perut atau jari-jari untuk mengeluarkan tinja dari rektum

Bila Anda mengalami 2 atau lebih dari gejala-gejala di atas selama 3 bulan terakhir, artinya Anda mengalami konstipasi kronis.

Penyebab konstipasi sangat banyak, yaitu:

1. Hambatan pada kolon/usus besar atau rektum, yang disebabkan oleh fisura ani (lecet/luka pada anus), obstruksi usus, kanker usus besar, striktur usus (penyempitan rongga usus besar), kanker rektum, dan rektokel (kantong rektum membonjol ke arah dinding belakang vagina)

2. Gangguan pada saraf-saraf di sekitar kolon dan rektumyang terjadi pada neuropati otonom, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, cedera saraf tulang belakang, dan stroke

3. Gangguan pada otot-otot yang terlibat dalam proses BAB, seperti ketidakmampuan untuk merelaksasi otot-otot panggul yang diperlukan untuk mengeluarkan tinja (anismus), otot panggul melemah atau tidak berkontraksi secara benar

4. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi hormon tubuh, seperti diabetes, hiperparatiroidisme, kehamilan, dan hipotiroidisme.

Selain kondisi-kondisi di atas, hal-hal berikut juga meningkatkan risiko Anda mengalami konstipasi, yaitu:

Usia dewasa

Seorang wanita

Kurang minum/dehidrasi

Diet rendah serat

Kurang berolahraga

Menggunakan obat-obatan tertentu seperti sedatif, narkotik, antidepresan, atau obat-obat penurun tekanan darah

Mengalami gangguan jiwa seperti depresi atau kelainan pola makan

Untuk mengatasi konstipasi, dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:

Makan makanan yang tinggi kadar seratnya. Makanan yang mengandung banyak serat, akan membantu tubuh membentuk tinja yang lebih lunak. Jenis makanan tersebut, diantaranya adalah kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Hindari atau kurangi makanan yang tidak atau hanya sedikit mengandung serta, seperti keju, daging, dan makanan yang mengalami pemrosesan (misalnya diasap). Sebaiknya jumlah konsumsi makanan tinggi serat ini dilakukan secara bertahap, awalnya hanya sedikit, lalu ditingkatkn sedikit-sedikit. Hal ini perlu dilakukan karena jka saluran cerna belum terbiasa dengan serat yang dimakan, justru akan menimbulkan keluhan kembung.
Berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik akan membantu menstimulasi aktivitas usus.
Asupan cairan yang cukup. Minum air atau cairan lain dalam jumlah cukup akan membantu melunakkan tinja
Jangan menunda dilakukannya BAB.
Menggunakan obat yang bersifat laksatif. Obat-obat ini hanya digunakan sebagai cara terakhir, jika cara-cara di atas tidak berhasil. Contoh obat yang bersifat laksatif adalah obat yang mengandung Bisacodyl atau Lactulosa.

Jika langkah-langkah di atas sudah dilakukan namun tidak ada perbaikan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk ditelusuri lebih lanjut penyebab konstipasinya.


Demikian informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat. (FA)

Salam,
Tim Redaksi Klikdokter

0 Komentar

Belum ada komentar