Sukses

Anak Sering Marah

08 Nov 2016, 16:39 WIB
Wanita, 30 tahun.

Slamat pagi dok,anak saya umur 2 th prempuan.Anak saya itu klo marah psti mukul-mukul kepala dirinya sndiri dngan keras pake tangan,pdhl saya dan suami ga prnh ngajari sperti itu.setiap harinya jg sama saya.Atau krena itu pengaruh wktu saya hamil saya bkerja dan wktu itu bnyak tekanan dlam perjuangan.Yang saya tanyakan normal ga se dok anak saya meluapkan emosinya sperti itu?saya takut itu kebawa dia sampai besar dan berpengaruh dalam psikologis dia.Bgaimana cara menghilangkan kebiasaan dia yang sperti itu?atau bgaimana saya n suami menghadapinya.

dr. Nadia Octavia

Dijawab Oleh:

dr. Nadia Octavia

Terimakasih telah menggunakan layanan E-Konsultasi Tanya Dokter di Klikdokter.com.

Kami memahami kekhawatiran yang Anda rasakan saat ini. Apakah anak Anda sudah lancar berbicara? Saat mengalami temper tantrum, anak menunjukkan timbulnya emosi berupa amarah maupun emosi lainnya secara tiba-tiba, tanpa direncanakan. Hal ini bukan hanya untuk cara untuk mendapatkan perhatian. Anak akan menangis, berteriak, menghentak-hentakkan lengan dan tungkainya umumnya selama 30 detik hingga 2 menit. Kadang temper tantrum berlangsung lebih lama dan lebih "heboh" ditunjukkan dengan tindakan memukul, menggigit, dan mencubit.  Tindakan-tindakan ini tentunya dapat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain dan dapat mengindikasikan masalah yang lebih serius. Waspadai jika anak membenturkan kepalanya ke dinding karena ditakutkan dapat terjadi bahaya pada dirinya, sebaiknya Anda membawa anak Anda untuk berkonsultasi ke spesialis anak agar dapat dilakukan pemeriksaan.

Temper tantrum terutama ditemukan pada anak berusia 1 - 4 tahun. Sebuah tantrum merupakan respon normal ketika sesuatu memblok anak dari mendapatkan kebebasan atau mempelajari keahlian tertentu. Anak mungkin belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan amarah dan rasa frustasinya dengan cara lain. Sebagai contoh, temper tantrum dapat terjadi ketika seorang anak mengalami frustasi saat mencoba mengancingkan bajunya atau saat ia masih ingin bangun ketika waktu tidur tiba. 

Beberapa anak memiliki kecenderungan untuk mengalami temper tantrum lebih tinggi dibandingkan anak lain. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi antara lain:

  • Seberapa lelah anak tersebut

  • Usia anak

  • Tingkat stres anak

  • Apakah anak memiliki masalah fisik, mental, maupun emosional lain

Sikap orangtua juga berpengaruh. Anak akan mengalami temper tantrum ketika oranguta bereaksi terlalu keras terhadap sikap buruk anak atau justru mengalah terhadap permintaan anak. Mengabaikan tantrum dan menolong anak untuk belajar menghadapi rasa amarah dan frustasi merupakan cara yang baik untuk menangani tantrum. Perhatikan apa yang biasanya mencetuskan tantrum.

Ibu dapat menggunakan time-out pada anak berusia 2 tahun atau lebih yang sering mengalami tantrum. Sebuah time-out mengeluarkan anak dari situasi yang mencetuskan tantrum tersebut dan memberikannya kesempatan untuk kembali tenang. Tindakan ini juga mengajarkan anak bahwa temper tantrum merupakan sikap yang tidak bisa ditoleransi. 

Temper tantrum akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia anak. Anak akan belajar cara yang sehat untuk menghadapi emosi kuat yang dapat berujung ke temper tantrum. Jika setelah usia 5 tahun anak masih mengalami tantrum, anak perlu belajar menghadapi emosinya. Jika hal ini berlanjut sampai usia sekolah, tantrum dapat menjadi tanda masalah lain seperti masalah belajar atau masalah bergaul dengan teman sekolah. 

Demikian penjelasan yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar