Sukses

Solusi Ingin Memiliki Anak Perempuan

22 Oct 2016, 22:10 WIB
Wanita, 20 tahun.

dok, saya bisakah saya mempunyai peluang mendapatkan anak perempuan ? karna dari sejarah keluarga saya dan suami saya lebih banyak mempunyai anak laki-laki . jika kami mengikuti program berapa presentase keberhasilannya ?

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Kami akan mencoba menjawab pertanyaan Anda.

Secara ilmiah, penelitian hingga saat ini menemukan bahwa yang memegang kendali dalam menentukan jenis kelamin anak adalah sperma dari suami. Laki-laki memiliki kromosom seks jenis X dan Y. Sel telur perempuan memiliki dua kromosom seks yang sama, yaitu X dan X. Sehingga bila dalam hubungan intim, sperma X yang membuahi sel telur maka terjadilah pertemuan kromosom X dengan X, sehingga yang didapat adalah bayi perempuan. Sedangkan, jika sperma Y yang membuahi sel telur, maka terjadilah pertemuan antara kromosom X dan Y, dan didapat bayi laki-laki. 

Ilmu ini dalam mewujudkan keinginan jenis kelamin anak hanya dapat ditempuh dengan metode inseminasi buatan atau bayi tabung, dan keberhasilan dari angka kehamilan dengan bayi tabung baru 30%. 

Namun, apabila ingin mencoba untuk memiliki anak perempuan disarankan untuk berhubungan seksual sebelum masa ovulasi atau keluarnya sel telur dari indung telur. Ovulasi terjadi 14 hari sebelum hari pertama haid berikutnya plus minus 1 hari. Hal ini disebabkan karena sel sperma yang mengangkut genetik-Y (laki-laki) dapat berenang lebih cepat menuju sel telur namun tidak dapat bertahan lama di dalam saluran reproduksi wanita. Berbeda dengan sel sperma yang mengangkut genetik-X (perempuan) yang berenang lebih lambat namun mampu bertahan lebih lama di dalam saluran reproduksi wanita.

Hingga saat ini belum ada penelitian yang memberikan bukti bahwa konsumsi makanan tertentu dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya kelamin tertentu pada anak.

Perlu diingat bahwa peristiwa kehamilan dan penentuan jenis kelamin janin adalah kuasa dari sang Pencipta dan manusia hanyalah sebagai fasilitator di dalamnya. Sehingga, kembali lagi, segala sesuatunya dikembalikan kepada kuasa Sang Pencipta yang memberikan kehidupan.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

0 Komentar

Belum ada komentar