Sukses

Penyebab Penebalan Dinding Rahim
01 Apr 2016, 15:41 WIB
Wanita, 26 tahun.

Dok, saya tlat haid 2 minggu dan testpack (+) setelah itu sya periksa dan melkukan USG dan hsil nya penebalan dinding rahim dan sya d ksih rsep folavit dan periksa kmbli 2mnggu.apa penebalan dinding rahim bs mnjdi hamil.?sebab dr penebalan dinding rahim.?

Terima kasih karena Anda telah menggunakan fasilitas e-konsultasi dari KlikDokter.com.

Silakan klik next untuk melanjutkan ke penjawaban dr. Muhammad Anwar Irzan.

Penyebab Penebalan Dinding Rahim

Penebalan dinding rahim, istilah medis sering disebut dengan hiperplasia endometrium. Penebalan dinding rahim dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal, dimana terjadi peningkatan hormon estrogen yang tidak diimbangi oleh hormon progesteron. Penebalan dinding rahim sering menyebabkan rasa sakit  atau perdarahan melalui vagina yang memanjang. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya anemia(kurang darah). Hiperplasia endometrium bukanlah kanker, namun dalam beberapa kasus dapat berkembang menjadi kanker. 

Hiperplasia endometrium terbagi menjadi 3 tipe yaitu: Simplek, Kistik, Atipik. Penderita hiperplasia endometrium Simplek dan Atipik masih dapat hamil. Penanganannya individual tergantung pada keparahan ketebalan endometrium apakah dengan tindakan kuretase, pemberian obat hormon atau jika terdeteksi adanya kemungkinan kanker maka biasanya dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi). 

Salah satu pengobatan adalah dengan mengangkat jaringan endometrium dengan cara mengerok dinding dalam rahin atau endometrium , hal ini sering dikenal dengan istilah kuretase. pada tindakan ini dilakukan pembedahan berupa pembersihan di dalam dinding rahim, sedangkan bagian yang dikuret yaitu lapisan dalam dinding rahim yang menebal atau dikenal dengan endometrium.

Pasca kuret seringkali berdampak pada kesehatan wanita, meskipun dampaknya berbeda-beda. Walaupun tidak semua yang telah dilakukan kuretase pada dinding rahimnya ini mengalami dampak yang negatif. Pada beberapa wanita sering kali mengalami gangguan siklus datang bulan. Pada prinsipnya setelah tindakan kuret, normalnya tubuh akan mengalami produksi hormon esterogen dan juga progesteron yang dapat membuat wanita mengalami siklus datang bula seperti biasanya.

Meskipun demikian kesuburan akan mengalami pemulihan minimal sekitar dua minggu setelah dikuret. Adapula yang tidak mengalami datang bulan pasca terjadinya kuret. Siklus datang bulan setelah kuret dapat terjadi perubahan menjadi tidak teratur bahkan tidak sama sekali mengalami datang bulan. Pada beberapa kondisi pasien terkadang dokter akan memberikan hormon (setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu) untuk memicu terjadinya datang bulan pasca kuret atau melakukan serangkaian test yang berhubungan dengan pemeriksaan hormon untuk mengetahui hubungan hormon dengan kesuburan pada pasien tersebut.

Apabila pasien yang telah melakukan kuret dan mengalami masalah dengan datang bulan sering kali berpengaruh pada kesuburan, hal ini dikarenakan adanya siklus normal dalam pembentukan sel telur yang ideal antara 21 sampai 35 hari. Apabila siklus menstruasi telah normal maka dapat dengan mudah menentukan masa subur untuk kembali merencanakan kehamilan berbanding terbalik dengan pasien pasca kuret yang siklus datang bulan tidak teratur bahkan tidak sama sekali. Meskipun dianggap aman melakukan kuret akan tetapi dalam melakukan prosesnya harus sesuai dengan prosedur dan indikasi yang seharusnya.

Sehingga mengurangi kondisi yang buruk, seperti gangguan siklus datang bulan yang berlanjut akan menyebabkan terjadinya asherman’s syndrome dimana terbentuknya perlengketan atau adhesi intrauterine yang umumnya disebabkan oleh luka yang akan berkembang pasca operasi rahim. Pada pasien yang menderita gangguan ini seringkali mengalami pengurangan siklus haid, terjadinya peningkatan rahim dan kejang perut, bahkan mengalami tidak adanya datang bulan sebelum waktunya (amenorrhea) bahkan yang lebih parah akan mengalami kemandulan atau masalah kesuburan (infertilitas).

Terapi atau pengobatan lain adalah sebagai berikut:

  1. Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan.

  2.  Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan sebagainya. Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi.

  3. Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain.

  4. Khusus bagi penderita hiperplasia kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan rahim.

Tanda kesembuhan penyakit hiperplasia endometrium yaitu siklus haid kembali normal. Jika sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehamilan. Namun alangkah baiknya jika terlebih dahulu memeriksakan diri pada dokter. Terutama pemeriksaan bagaimana fungsi endometrium, apakah salurannya baik, apakah memiliki sel telur dan sebagainya.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar