Sukses

HBsAg Reaktif, Apakah Boleh Berhubungan Intim

03 Mar 2016, 21:45 WIB
Pria, 21 tahun.

saya mau nanya dok,apakah orang yg HbSag nya reaktif, dapat berhubungan intim dengan pasangannya?? makasih dok

dr. Mega Putri

Dijawab Oleh:

dr. Mega Putri

 

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Jika HBsAg dinyatakan reaktif, maka saat ini orang tersebut sedang terinfeksi oleh hepatitis B. Namun untuk mengetahui virus sedang aktif atau tidak ada beberapa pemeriksaan lain seperti HBeAg untuk mengetahui peluang penularan ke orang lain, HBV DNA untuk mengetahui aktivitas virus, serta pemeriksaan enzim hati seperti SGOT dan SGPT.

Selain itu, hepatitis B juga dapat menular melalui hubungan seksual dan untuk mengetahui status penyakit hepatitis B pada teman sebaiknya ia memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi dan penanganan lebih lanjut. Sekilas izinkan kami menjelaskan mengenai penyakit Hepatitis B. 

Hepatitis (radang pada hati) B  adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB), yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Virus hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi, hal ini dapat terjadi pada keadaan;

  • Kontak langsung darah dengan darah
  • Hubungan seksual yang tidak aman
  • Penggunaan jarum suntik tidak steril
  • Tertusuk jarum suntik yang terinfeksi
  • Jarum yang terkontaminasi yang digunakan untuk membuat tatto, akupuntur, body piercing
  • Pada saat kehamilan, penularan dari ibu-janin pada proses melahirkan
  • Penggunaan pisau cukur bersama
  • Tranfusi darah

Pada 5-10% orang dewasa yang terinfeksi hepatitis B akan 'membawa' atau menyimpan virus tersebut selama hidupnya, yang kemudian disebut hepatitis B carrier. Kebanyakan hepatitis B carrier tidak merasa ataupun terlihat sakit, tetapi mereka dapat mentransmisikan virus tersebut dan membuat orang lain menderita hepatitis B. Bagaimanapun, carrier memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kerusakan hati yang progresif akibat reaktivasi spontan hepatitis B berulang, sehingga memerlukan pengawasan dokter secara rutin.

Hepatitis B memiliki 4 fase untuk menjadi Hepatitis B kronik yaitu:

  1. Fase toleransi imunitas (immune tolerance phase)
  2. Fase pembersihan imunitas (immune clearance phase)
  3. Fase kontrol imunitas (immune control phase)
  4. Fase penurunan imunitas (immune escape phase)

Selama fase 1 dan 3, umumnya pasien tidak memiliki keluhan dan disebut dengan 'inactive carriers'. Bagaimanapun juga, orang tersebut umumnya tidak dapat berada dalam fase ini selamanya, mereka akan berpindah fase dan selalu memiliki risiko untuk terjadinya kerusakan hati progresif dan pembentukan sirosis hati (pengecilan hati).

Pasien pada fase 1 dan 3 umumnya tidak diberikan terapi karena berdasarkan penelitian, pemberian antivirus tidak ada bedanya dengan plasebo. Pasien dengan fase 2 dan 4 akan diberikan terapi antivirus. Yang diperlukan pada pasien carrier tanpa gejala adalah follow-up atau kunjungan ke dokter secara reguler untuk memastikan fase yang terjadi dan perlu tidaknya terapi. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  1. Menjaga kesehatan carrier

  • Mengunjungi dokter teratur (minimal 1x/tahun). Diskusikan mengenai tes darah dan pemeriksaan USG berkala dan penggunaan obat interferon alfa-2b.
  • Diskusikan dengan dokter mengenai obat-obatan yang dijual bebas, bahkan obat herbal, karena beberapa dapat merusak hati.
  • Tidak mengonsumsi alkohol karena dapat merusak hati
  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang (suntik), karena memiliki risiko terkena hepatitis yang lain.
  • Vaksinasi hepatitis A.
  1. Menjaga diri carrier dari menginfeksi orang lain

  • Orang-orang yang berisiko terinfeksi hepatitis B adalah mereka yang  memiliki kontak dekat (dengan darah, semen, atau cairan tubuh lain) dengan carrier. Sebagai contoh: pasangan seksual, orang yang tinggal serumah, anak  yang lahir dari carriers. Beritahu mereka mengenai kondisi carrier, bahwa  tidak masalah untuk berbagi makanan bersama.
  • Carrier yang sedang hamil agar memberitahu dokter mengenai kondisinya, agar bayinya diberi suntikan yang menjaganya dari hepatitis B (12 jam pertama kelahiran).
  • Menggunakan kondom lateks setiap berhubungan seksual
  • Tidak pernah membagi jarum suntik, tindikan, dsb.
  • Tidak mendonorkan darah, plasma, organ tubuh, jaringan atau sperma

      3. Untuk mereka yang memiliki kontak dekat dengan carrier

  • Memeriksakan diri ke dokter untuk tes hepatitis B
  • Vaksinasi hepatitis B
  • Tidak berbagi rokok, sikat gigi, gunting, pisau cukur, dsb
  • Tutup semua luka dengan bandage
  • Cuci tangan, terutama setelah menyentuh darah
  • Bersihkan cipratan darah dengan campuran pemutih dan air (1,5 cangkir pemutih dalam satu galon air) untuk mematikan virus hepatits B.

Namun, pada kebanyakan orang dewasa yang terinfeksi virus hepatitis B akut, tubuh dapat  meningkatkan daya tahan tubuhnya sendiri untuk melawan virus ini dan menghilangkan virus ini dengan sendirinya dalam waktu 6 bulan. Setelah mereka sembuh, mereka sukar terinfeksi oleh virus hepatitis B lagi (sudah memiliki kekebalan terhadap hepatitis B). Namun, tetap berisiko terkena hepatitis jenis lain. Untuk mengetahui hal ini, diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah penderita telah sembuh dari hepatitis B akut atau berlanjut menjadi hepatitis B kronik. 

Berikut kami sertakan artikel untuk melengkapi informasi Anda: Hepatitis B

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Salam,

    0 Komentar

    Belum ada komentar