Sukses

Astenozoozpermia

27 Jan 2016, 14:41 WIB
Pria, 33 tahun.

Dok saya didiagnosa sm dokter spesialis andrologi mengalami asthenozoospermia, hypospemia, dan leucospermia? Apa yang harus saya lakukan dan apa jenis penyakit tersebut?

dr. Melyarna Putri

Dijawab Oleh:

dr. Melyarna Putri

Terima kasih telah menggunakan layanan e-Konsultasi Tanya Dokter KlikDokter.com.

Astenospermia atau astenozoospermia adalah kondisi di mana kurang dari 50% dari sperma ejakulasi motil (bisa bergerak). Karena masih ada sperma yang bisa bergerak aktif, maka masih ada kemungkinan untuk terjadi pembuahan. Proses pembentukan sperma sangat sensitif terhadap suhu. Dibutuhkan suhu optimal sekitar 34-35 derajat Celcius, sesuai dengan suhu tubuh manusia, untuk terjadinya pembentukan sperma yang baik. Adanya masalah jumlah sperma dan pembentukan sperma yang kurang baik pada pria juga diduga karena adanya peningkatan suhu di daerah genital. Peningkatan suhu di daerah sekitar testis telah diteliti dapat menyebabkan menurunnya gerakan sperma, meningkatnya kerusakan sperma dan menurunnya fungsi sperma untuk pembuahan.

Jumlah sperma normalnya berkisar antara 20 juta / mililiter hingga 120 juta / mililiter. Sperma dikatakan sedikit apabila jumlahnya  < 20 juta / ml cairan ejakulat. Dalam bahasa medis keadaan ini disebut oligozoospermia.  Sedangkan kurangnya gerakan sperma disebut asthenozoospermia. Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan keadaan ini antara lain:

  • - faktor genetik (kromosom)
  • - suhu tinggi
  • - kelainan organ reproduksi (varikokel), saluran kemih dan hormon
  • - kurang nutrisi dan vitamin (vitamin C, selenium, zinc, folat)
  • - kemoterapi, obesitas, merokok, alkohol, logam berat, dsb
  • - faktor psikologis: stres, panik, depresi
  • - faktor lingkungan: air yang tercemar

Tatalaksana dari asthenozoospermia ini tentunya tergantung pada penyebabnya yang dapat dimulai dengan menghindari faktor-faktor di atas, termasuk nutrisi dan pola hidup sehat. Kemudian perlu dicaritau apakah Anda memiliki kondisi medis yang melatarbelakangi seperti varikokel. Varikokel adalah pelebaran pembuluh darah vena pada skrotum (buah zakar) yang mempendarahi testis. Aliran darah di vena diatur dengan katup 1 arah yang mencegah aliran darah kembali. Fungsi katup yang terganggu atau penekanan dari pembuluh darah vena dapat menyebabkan pembesaran dari vena yang berujung terhadap pembentukan varikokel.

Pria dewasa yang memiliki varikokel disertai analisis semen (kualitas dan kuantitas sperma) yang abnormal dan berniat untuk memiliki anak, maka disarankan untuk melakukan terapi yaitu operasi. Repair atau perbaikan dari varikokel telah dibuktikan berdasarkan penelitian dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas sperma atau dalam kata lain dapat memperbaiki kesuburan.

Pengobatan varikokel selain operasi dapat dilakukan embolisasi varikokel dengan memasukkan kateter atau selang kecil ke pembuluh darah vena di bawah bimbingan x-ray. Cincin metal akan diletakkan di pembuluh darah vena spermatika sinistra (kiri) untuk menghambat aliran darah ke vena di bawahnya. Namun hal ini masih di dalam penelitian.

Penelitian tentang varikokel yang diterbitkan oleh Jurnal Urologi Indonesia menghasilkan suatu kesimpulan bahwa didapatkan perbaikan signifikan volume testis kiri dan konsentrasi spermatozoa saat 6 bulan setelah operasi. Namun pergerakan dan bentuk sperma tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Adapun kemungkinan terjadinya kehamilan dapat mencapai 25% pada 3 bulan pasca operasi dan meningkat menjadi 50% pada 6 bulan pasca operasi.

Demikian informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat. 

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar