Sukses

Sulit Buang Air Besar?

06 Nov 2015, 15:58 WIB
Pria, 32 tahun.

Dokter, saya bermasalah dengan pencernaan. Perut terasa penuh, BAB lama dan tidak tuntas. Bahkan sering beberapa hari tidak BAB. Padahal saya rutin makan sayur dan buah. Pernah dulu saya dipijat dan tukang pijatnya bilang bahwa usus saya ada penyempitan atau kelainan yg menyebabkan sisa makanan yang akan dibuang dg BAB tertumpuk di sana. Benarkah hal itu? Pemeriksaan apa yg harus saya jalani agar mengetahui apa yg sebenarnya terjadi dg pencernaan saya? Untuk diketahui dulu saya (6 th yll) pernah sakit kencing batu, namun tidak sampai dioperasi, hanya minum obat saja dan batunya sdh keluar. Waktu itu saya memang jarang minum air putih tetapi sekarang sudah sering. Mohon jawabannya, Dokter. Terima kasih

dr. Atika

Dijawab Oleh:

dr. Atika

Terima kasih telah menggunakan layanan e-Konsultasi Tanya Dokter KlikDokter.com

Sulit buang air besar, atau yang biasa disebut dengan konstipasi, merupakan suatu keadaan dimana feses menjadi lebih keras dan sulit untuk dikeluarkan sehingga frekuensi buang air besar menjadi lebih jarang dari biasanya. Frekuensi buang air besar berbeda-beda pada setiap orang. Tidak semua orang mampu buang air besar setiap hari, selama masih ada 1x BAB dalam tiga hari maka masih tergolong normal. Susah buang air besar disebut juga konstipasi.

Konstipasi terjadi karena kecepatan makanan melewati kolon (usus besar) terlalu lambat, sehingga kolon memiliki waktu yang lebih banyak untuk menyerap air yang terkandung dalam sisa-sisa makanan, dan hal ini menyebabkan feses menjadi keras dan kering. Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya konstipasi antara lain:

  • Kurang minum untuk waktu yang lama

  • Kurang olah raga

  • Kurang asupakan makanan berserat

  • Konsumsi kafein, teh atau alkohol yang berlebihan

  • Kebiasaan menunda buang air besar.

  • Penggunaan beberapa jenis obat, seperti obat penghilang rasa sakit dan pereda batuk yang mengandung kodein, obat antidepresi, obat antikejang, suplemen zat besi, beberapa jenis obat-obatan antihipertensi, dan obat-obatan yang mengandung kalsium dan aluminium

  • Penggunaan obat-batan pencahar secara berlebihan dan untuk waktu yang lama. Penggunaan obat pencahar secara berlebihan dapat merusak persarafan dan dinding usus besar sehingga menimbulkan terjadinya konstipasi.

  • Kelainan hormonal, seperti pada keadaan hipotiroidisme, hiperparatiroidisme, dan keadaan dimana kadar estrogen dan progesteron tinggi dalam darah seperti saat menstruasi dan saat hamil.

  • Adanya penyakit yang diderita yang menimbulkan gangguan pada persarafan dinding kolon seperti : kencing manis, skleroderma, dan kanker kolon.

  • Adanya kelainan pada sistem persarafan tubuh, seperti pada penderita penyakit parkinson, multiple sklerosis, dan kelainan tulang belakang.

  • Adanya luka pada kulit anus

  • Adanya kelainan psikologis akibat kecemasan yang berlebihan, dan sebagainya.

Sebagian besar kasus konstipasi dapat diatasi dengan melakukan perubahan gaya hidup, seperti :

  • Konsumsi makanan berserat tinggi setiap hari.

  • Tingkatkan asupan cairan ke dalam tubuh minimal 8 gelas sehari (2 gelas saat bangun pagi, 4 gelas sepanjang hari, 2 gelas saat akan tidur). Konsumsi makanan yang kaya akan serat harus diimbangi dengan minum cairan dalam jumlah banyak. Peningkatan asupan cairan ke dalam tubuh tanpa diikuti oleh peningkatan asupan serat tidak akan memberikan pengaruh yang bermakna dalam mengatasi konstipasi.

  • Olahraga secara teratur

  • Jangan menunda keinginan untuk BAB.

Adapun pemeriksaan untuk mengetahui adanya penyempitan usus sebaiknya dilakukan melalui pemeriksaan seperti USG, CT scan, MRI, endoskopi, hingga kolonoskopi. Pemeriksaan tersebut objektif dan terpercaya untuk mengetahui adanya penyempitan tersebut, dibandingkan hanya pemeriksaan dari luar. Saat dokter menemui suatu kasus sulit buang air besar, pertama-tama yang harus dilakukan adalah perubahan gaya hidup. Sudah berapa lama kondisi ini Anda rasakan? Bila memang telah berlangsung lama, kami sarankan Anda melakukan pemeriksaan langsung ke dokter karena pemeriksaan akan lebih akurat bila dengan bertatap muka dan pemeriksaan fisik langsung. Adapun riwayat diagnosis batu saluran kencing tidak berhubungan secara langsung dengan proses buang air besar.

Demikian penjelasan yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar