Sukses

Mengindari Gigi Berlubang, Gigi Kuning dan Bau Mulut

20 Oct 2015, 10:02 WIB
Wanita, 23 tahun.

selamat siang dok, menanyakan apa solusi menghindari gigi berlubang dan gigi berkuning serta bau nafas tolong ditanggapi terimakasih

drg. Arni Maharani

Dijawab Oleh:

drg. Arni Maharani

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi KlikDokter.com.

Kami memahami rasa khawatir Anda. Kami akan menjawab pertanyaan Anda satu persatu. Penyakit gigi berlubang atau karies gigi bisa timbul karena kebersihan mulut yang buruk, dan disebabkan oleh pertemuan antara bakteri dan gula. Bakteri yang terdapat pada mulut akan mengubah gula dari sisa makanan menjadi asam, yang kemudian membuat lingkungan gigi menjadi asam. Asam inilah yang akhirnya membuat lubang pada gigi.

Bila tidak dirawat atau ditambal, tentu lama-lama lubang akan bertambah besar dan dalam. Sedikit demi sedikit jaringan keras gigi akan hancur, dan pada saatnya lubang akan mencapai ruang pulpa (rongga di dalam gigi yang berisi pembuluh darah, persyarafan gigi, dan sel-sel lainnya). Jagalah kebersihan gigi Anda dengan menyikatnya minimal 2 kali sehari pada saat pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride, bersihkan pula sela-sela gigi menggunakan benang gigi.

Untuk menjaga kesehatan gigi maka sebaiknya kurangi atau hindari makanan dan minuman yang banyak mengandung gula serta asam, karena selain dapat membuat gigi berlubang, zat asam pada makanan dan minunam dapat menyebabkan erosi pada permukaan gigi yang kemudian menyebabkan gigi menjadi sensitif. Makanlah makanan yang mengandung serat seperti buah dan sayur karena makanan jenis ini dapat membantu dalam menjaga kebersihan gigi. Gigi yang bersih akan terhindar dari resiko gigi berlubang. 

Gigi yang mengalami perubahan warna baik menjadi kuning atau warna lainnya disebabkan olah dua faktor yaitu  intrinsik (dari dalam tubuh) dan ekstrinsik (dari faktor di luar tubuh). Makanan dan minuman seperti kopi, teh, wine serta kebiasaan  merokok dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi, konsumsi obat antibiotik jenis tetrasiklin pada masa kanak-kanak atau pada ibu hamil juga menyebabkan terdapatnya perubahan warna yang cukup berat pada gigi. Perlu dipastikan terlebih dulu apa yang menyebabkan gigi berubah warna/menguning, baru dapat ditentukan rencana perawatan yang tepat untuk memutihkan gigi.

Memutihkan gigi sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dahulu ke dokter gigi. Memang ada bahan-bahan pemutih gigi yang beredar di pasaran dan dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter, namun konsumen sebaiknya terlebih dahulu mendapatkan informasi secara lengkap mengenai indikasi dan macam bahan pemutih gigi serta efek samping yang mungkin akan dialami pasien.

Metode bleaching diindikasikan untuk memutihkan gigi yang mengalami perubahan warna akibat makanan, kebiasaan merokok dan hal lainnya. Namun tidak semua perubahan warna yang terjadi pada gigi dapat diputihkan dengan dental bleaching, contohnya seperti pada perubahan warna akibat obat antibiotik jenis tetrasiklin. 

Hasil dari perawatan bleaching bersifat sementara. Gigi mungkin kembali kuning, meski lamanya ketahanan efek dari perawatan ini masih diperdebatkan. Pola makan dan minum serta penjagaan kebersihan mulut sangat mempengaruhi efek jangka panjang dari perawatan bleaching. Setelah beberapa lama, perawatan bleaching dapat kembali dilakukan.

Halitosis adalah istilah yang digunakan untuk bau mulut, dan keadaan ini dialami oleh banyak orang serta menggangu dalam aktivitas sehari-hari terutama saat sedang bersosialisasi. Halitosis dapat disebabkan oleh banyak hal, yaitu :

  1. Kebersihan mulut yang buruk, sehingga jumlah bakteri sangat banyak dalam mulut dan di permukaan lidah. Tanpa pembersihan mulut yang baik, sisa makanan akan tertinggal dalam mulut dan menjadi lingkungan yang cocok untuk bakteri berkembang biak yang akan menyebabkan bau pada mulut. Selain itu, sisa makanan yang menempel pada gigi, gusi, dan lidah akan menyebabkan gingivitis (radang gusi) dan gigi berlubang, sehingga akan meningkatkan bau mulut dan rasa yang tidak enak di dalam mulut.
  2. Pembersihan gigi tiruan yang kurang baik .
  3. Penyakit gusi atau jaringan periodontal (jaringan penyangga gigi).
  4. Penyakit sistemik. Bau mulut dapat merupakan salah satu gejala dari penyakit tertentu, misalnya infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, diabetes, atau kelainan pada hati.
  5. Xerostomia (mulut kering).
  6. Pemakaian beberapa obat-obatan tertentu dapat menyebabkan mulut menjadi kering, terutama obat-obatan untuk mengatasi depresi dan tekanan darah tinggi. Xerostomia juga dapat disebabkan oleh kelainan pada kelenjar ludah sehingga produksi ludah menurun. Selain itu, kebiasaan bernapas lewat mulut juga dapat menyebabkan mulut cenderung menjadi lebih kering.
  7. Merokok.

Perawatan

  1. Sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
  2. Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi.
  3. Pembersihan permukaan lidah secara teratur. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan sikat gigi yang lembut atau kassa.
  4. Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut, misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut.
  5. Scaling (pembersihan karang gigi).
  6. Perbaikan dan penambalan gigi-gigi yang berlubang.
  7. Berhenti merokok
  8. Pada kasus-kasus xerostomia (air liur berkurang atau sedikit) tertentu, dokter gigi mungkin akan memberikan saliva buatan. Perbanyak minum air putih dan konsumsi sayuran serta buah-buahan.
  9. Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan.
  10. Lakukan konsultasi dengan dokter bila halitosis berkaitan dengan penyakit sistemik.

Demikian informasi yang dapat Kami berikan, semoga bermanfaat. 

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar