Sukses

Akibat Sering Pindah Rumah dan Asuhan

01 Jan 2016, 21:18 WIB
Pria, 3 tahun.

Dok,mau tanya? 1. anak saya sering pindah rumah antara rmh nenek nya tiap 2 minggu sekali.karena alasan tidak ada yg asuh jadi saya titipkan di rmh nenek nya. mau tanya apakah ada dampak psikologis nya sering pindah-pindah? 2.anak saya ngak punya teman di rmh hanya ada nenek dan tante nya?apakah ada pengaruh nya jarang bergaul dengan sebaya nya. terima kasih

dr. Suci Dwi Putri

Dijawab Oleh:

dr. Suci Dwi Putri

Terimakasih atas pertanyaan Anda.

Hal utama yang dapat berdampak langsung pada perkembangan kondisi kejiwaan anak adalah atensi dan kasih sayang orang tua kepada sang anak.

Dalam kondisi tertentu, terkadang anak mau tidak mau ditempatkan pada situasi terjarak jauh kebutuhan kasih sayang orangtuanya. Dan sedikit banyak situasi ini dapat menenggarai kondisi gangguan perkembangan kejiwaan anak.

Salah satunya adalah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan neurobiologis yang ciri-cirinya sudah tampak pada anak sejak kecil. Anak ADHD mulai menunjukkan banyak masalah ketika SD karena dituntut untuk memperhatikan pelajaran dengan tenang, belajar berbagai ketrampilan akademik dan bergaul dengan teman sebaya sesuai aturan.

Gejala ADHD:

  • Sering tidak dapat memusatkan perhatian pada suatu hal secara detail / rinci
  • sering membuat kesalahan karena ceroboh
  • Sulit mempertahankan perhatiannya pada tugas - tugas atau aktifitas bermai
  • Segera tidak mendengarkan sewaktu diajak bicar
  • Sering tidak mengikuti perintah / cenderung menentang dan tidak memahami perintah
  • Sering tidak dapat mengorganisir / mengatur tugas - tugas / aktivitasnya
  • Sering menolak, tidak menyenangi untuk terikat pada tugas - tugas yang menuntut
  • Sering kehilangan barang
  • Perhatiannya mudah beralih
  • Pelupa

Sekelumit tentang hal yang dapat dikiatkan untuk menekan risiko ADHD pada anak:

1. Sedini mungkin membiasakan anaknya untuk hidup dalam suatu aturan.

Dengan menerapkan peraturan secara konsisten, anak dapat belajar untuk mengendalikan emosinya. Dalam kondisi Anda, jangan sampai terdapat dua peraturan berbeda yang diterapkan antara Anda sebagai orangtua dan mertua. 

Contoh: Nenek atau Kakeknya membolehkan es krim untuk dimakan sebelum tidur tanpa sikat gigi, namun jika anak bersama Anda, Anda melarangnya untuk berbuat demikian. Disorientasi peraturan yang sering terjadi dapat mengarahkan anak kepada gangguan psikologis di masa dewasanya kelak.

Sebaiknya sepakati bersama dengan komunikasi antara wali orang tua mengenai peraturan-peraturan yang diterapkan kepada anak.

2. Sedini mungkin memberikan kepercayaan dan tanggungjawab terhadap apa yang seharusnya dapat dilakukan anak.

3.Kenali kondisi diri dan psikis anak. Dengan mengenali, orang tua tak akanmemberikan tekanan yang berlebihan, yang dapat menyebabkan penolakan anak untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

4.Upayakan untuk menyediakan ruang belajar yang jauh dari gangguan televisi,mainan atau kebisingan.

5.Sedini mungkin melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan, dan konsisten terhadap terapi yang sedang dijalankan oleh anak anda.

6.Biasakan anak untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk tulisan atau gambar.

7.Aturlah pola makan anak, hindari makanan dan minuman dengan kadar gula dan karbohidrat yang tinggi.

8.Ajaklah anak berekreasi ke tempat-tempat yang indah. Hal ini akan membantu anak untuk berpikiran positif.

9.Ajaklah anak untuk berlatih menenangkan diri. Misalnya dengan menarik nafas dalam-dalam dan keluarkan lewat mulut. Latihan ini bisa dilakukan berulang-ulang.

Demikian informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar