Sukses

Sakit Saat Buang Air Kecil

16 Aug 2015, 09:26 WIB
Wanita, 26 tahun.

Dok selama seminggu belakangan ini saya mengalami sakit saat buang air kecil, namun sakit itu hanya terasa saat di akhir. Apakah itu penyakit serius? Jika tidak, apa yang harus saya lakukan? Terimakasih

dr. Suci Dwi Putri

Dijawab Oleh:

dr. Suci Dwi Putri

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Kami memahami kekhawatiran yang Anda rasakan. Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan keluhan sakit saat BAK adalah Infeksi saluran kemih.

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi bakteri yang terjadi pada uretra (uretritis), kandung kemih (sistitis), ureter (ureteritis), atau ginjal (pielonefritis). Saluran kemih dapat terserang infeksi dari atas (dimana bakteri masuk kedalam ginjal melalui aloran darah yang masuk ke ginjal) atau dari bawah (dimana bakteri masuk dari uretra). Kebanyakan ISK berawal dari saluran kemih bagian bawah (kandung kemih dan uretra) dan jika tidak diberikan terapi infeksi tersebut dapat menyebar ke saluran kemih bagian atas (ureter dan ginjal).

Jenis ISK yang paling sering dijumpai yaitu sistitis ( infeksi kandung kemih). Biasanya sistitis terjadi pada wanita sesudah melakukan hubungan seksual, dimana bakteri memasuki kandung kemih melalui uretra. 90% kasus sistitis disebabkan Escherichia coli, yaitu bakteri yang dalam kondisi normal terdapat dalam kolon dan rektum. Uretritis (infeksi pada uretra) menimbulkan gejala-gejala yang menyerupai gejala sistitis. Pada beberapa kasus, bakteri dapat mencapai saluran kemih bagian atas lalu menyebabkan infeksi ginjal (pielonefritis). Terapi perlu segera diberikan karena infkesi dpat menyebabkan penurunan fungsi ginjal, terutama pada pasien lanjut usia atau individu yang memiliki sistem imun tubuh lemah.

ISK terjadi pada kurang lebih 3% anak perempuan dan 1% anak laki-laki yang berusia 11 tahun. Wanita lebih rentan terkena ISK karena memiliki uretra yang lebih pendek dan posisinya dekat dengan anus.

Faktor-faktor yang paling banyak menyebabkan ISK yaitu hubungan seksual yang tidak aman (berganti-ganti pasangan seksual atau tidak menggunakan alat pelindung selama berhubungan seksual), migrasi bakteri yang berasal dari feses/anus (pada wanita), pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas, atau gangguan fungsi organ saluran kemih. Faktor lainnya yang meningkatkan resiko ISK meliputi kehamilan, obstruksi saluran kemih, dan virulensi bakteri. Jenis bakteri penyebab ISK lainnya; staphylococcus saprophyticus, chlamydia trachomatis, dan mycoplasma hominis.

Gejala yang biasanya dirasakan pada penderita ISK adalah;

  • Rasa tidak nyaman atau nyeri saat BAK.
  • Terus menerus mengalami dorongan untuk BAK / anyang-anyangan
  • Bisa dijumpai keluhan kurang sehat dan/atau disertai demam.
  • Disertai rasa nyeri atau rasa penuh pada bagian bawah perut
  • Urin dapat keruh, bercampur darah dan/atau berbau sangat tajam (menyengat)

Agar dapat diberikan terapi yang tepat, perlu terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab keluhan. untuk itu, anda perlu memeriksakan diri langsung kepada dokter.

Selain itu, perlu juga melakukan upaya berikut ini;

  • Minum banyak air dan/atau cairan (8-10 gelas per hari)
  • Mengkonsumsi suplemen vitamin C secara teratur karena vitamin ini diketahui dapat menurunkan jumlah bakteri di urin.
  • Hindari konsumsi minuman berakhohol, makanan yang kaya rempah, dan kopi karena dapat mengiritasi kandung kemih.
  • Jangan menunda keinginan BAK karena tindakan ini dapat membuat urin tertahan didalam kandung kemih dalam waktu lebih lama sehingga mudah ditumbuhi bakteri. Wanita yang cenderung mengalami ISK harus BAK segera sesudah berhubungan seksual guna menyingkirkan bakteri yang mungkin memasuki saluran kemih dan kelamin.
  • Cuci tangan dan alat kelamin sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual.
  • Menjaga kebersihan tubuh dengan membilas anus dan daerah kelamin sekurang-kurangnya sekali sehari, terutama sesudah BAK dan BAB. Bagi wanita; basuh daerah kemaluan dari depan (uretra) ke belakang (anus) untuk mencegah terjadinya migrasi bakteri dari anus ke vagina atau uretra.
  • Sebaiknya mandi menggunakan pancuran, dibandingkan dengan mandi berendam di bath up
  • Ganti pembalut atau tampon sesering mungkin
  • Hindari penggunaan pakaian / celana ketat. Lebih dianjurkan untuk menggunakan celana dalam dari bahan katun.

Dalam pengobatannya dapat diberikan antibiotik, dibawah pengawasan dokter, yang digunakan selama seminggu atau sesuai anjuran dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri.

Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

 

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar