Sukses

Kebal Terhadap Obat Bius

25 Oct 2015, 20:23 WIB
Wanita, 22 tahun.

dok, apa yang menjadi penyebab jika kebal terhadap obat bius? terima kasih

dr. Suci Dwi Putri

Dijawab Oleh:

dr. Suci Dwi Putri

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Mohon maaf atas keterlambatan kami dalam menjawab konsultasi Anda. Kami sangat senang karena Anda mempercayakan layanan konsultasi kami untuk membantu mengatasi masalah kesehatan Anda.

Pada kasus-kasus tertentu, pembiusan bisa saja berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pasien masih saja merasakan kesakitan, walaupun dosis obat bius telah ditingkatkan.

Berikut ini merupakan faktor yang dapat menyebabkan 'kegagalan' dalam bius lokal, yaitu;

  • Infeksi pada area suntikan obat bius

Adanya infeksi pada area suntikan merupakan salah satu kontraindikasi dari anestesi. Ini disebabkan karena dalam kondisi tersebut, obat bius (anesthesi) tak akan bekerja secara sempurna. Obat anesthesi ini dipengaruhi oleh derajat keasaman (pH) di mana dia disuntikkan. Pada kondisi infeksi akut, daerah bersangkutan berubah menjadi sangat asam (acidic) dan cairan anesthesi tak mampu menembus meresap ke jaringan syaraf. Sehingga pasien akan tetap merasa kesakitan, sekalipun dosis cairan bius ini ditambahkan dari takaran normalnya.

  • Mengkonsumsi Alkohol

Pasien yang suka minuman keras (minuman beralkohol) terbukti 'kebal' dengan suntikan obat bius ini. Khususnya untuk pecandu alkohol, harus diberikan dosis yang berlipat ganda untuk menghasilkan efek bius. Kandungan alkohol dalam darah memberikan dua pengaruh terhadap kerja obat bius. Yang pertama, alkohol menyebabkan systemic acidosis (keasaman sistemik) dan kedua, efek pelebaran pembuluh darah (vasodilation) sehingga cairan anesthesi ini akan ‘disapu’ oleh aliran darah yang lebih cepat. Pasien dengan riwayat kebiasaan mengkonsumsi minuman keras, perlu menginformasikan hal ini kepada dokter, agar dapat diambil tindakan pengamanan yang sepadan.

  • Ehler-Danlos Syndrome (EDS)

Ehler-Danlos syndrome (EDS) adalah kelainan genetik yang berpengaruh pada jaringan ikat (connective tissue) seperti kulit, tulang, otot, persendian, pembuluh darah. EDS ini mengakibatkan kerusakan (defect) dari sintesa kolagen, zat yang berfungsi sebagai ‘perekat’ sel. Tanpa adanya kolagen ini menyebabkan otot dan kulit menjadi kendur, persendian menjadi ‘loncer’ dan pembuluh darah mudah pecah (rupture). Banyak selebritas ‘manusia plastik’, ‘manusia karet’ yang dengan mudahnya menekuk-nekukkan badannya adalah penyandang kelainan EDS. Prevalensi EDS ini ternyata cukup ‘tinggi’ yaitu 1 berbanding 5.000 kelahiran bayi. Secara kasat mata mereka tak menampakkan kelainan fisik maupun inteletualnya.

  • Cemas

Pasien yang akan dilakukan prosedur pembedahan pasti merasakan kecemasan. Pada pasien-pasien tertentu, kecemasan ini dapat menyebabkan obat bius tidak bekerja dengan baik. Ini disebabkan kecemasan dapat memicu terjadinya alkalosis (kadar basa yang tinggi) atau asidosis (kadar asam yang tinggi). Kedua kondisi ini memang tidak kondusif bagi obat bius yang membutuhkan pH normal untuk bisa bekerja dengan optimal. Memang tidak semua kecemasan menyebabkan ‘gagalnya’ pembiusan dan nampaknya hanya bersifat individualistis saja.

  • Ras/Keturunan

Pada ras kulit putih yang berambut merah (red hair) , Fakta menunjukkan bahwa mereka ternyata lebih kebal untuk dibius dibandingkan dengan mereka dengan warna rambut lain. Ini dipengaruhi oleh adanya mutasi melanocortin-1 receptor gene. Bukan hanya terhadap anesthesi local saja, namun ras rambut merah juga dapat kebal terhadap bius umum (general anesthetic) dan midazolam (obat bius yang dimasukkan lewat infus).

Adakah dari faktor diatas ini yang Anda miliki?

Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

 

Salam,

    0 Komentar

    Belum ada komentar