Sukses

Anak Sulit BAB

02 Mar 2015, 11:43 WIB
Wanita, 27 tahun.

Bagaimana mengatasi anak yang susah buang air besar, dan apabila buang air selalu menangis karena keras bahkan sampai luka pantatnya.

 

 

 

Terima kasih telah menggunakan layanan  e-konsultasi.

Sulit BAB merupakan masalah yang sering terjadi pada anak-anak. Orangtua sering menjadi khawatir karena gangguan kebiasaan BAB pada anak. Apa saja yang dapat terjadi dan perlu Anda waspadai jika anak Anda mengalami sulit buang air besar?

  • Pada bayi baru lahir hingga usia 4-6 bulan, tidak mengeluarkan kotoran dan kesulitan untuk buang air besar dapat merupakan suatu pertandan adanya penyakit Hirschprung. Pada penyakit ini usus besar tidak dapat bergerak karena tidak adanya sel-sel saraf pada suatu bagian tertentu usus besar.
  • Pada bayi usia sampai 1 tahun, konstipasi dapat disebabkan karena perubahan makanan, seperti perubahan dari ASI ke susu formula, penambahan MPASI dan perkenalan terhadap makanan yang lebih padat. Frekuensi BAB yang menurun pada bayi dapat juga terjadi karena bayi masih kurang mengerti bagaimana teknik mengedan yang benar, sehingga ia tidak dapat mengeluarkan tinjanya dengan baik. Jika hal ini terjadi pada bayi anda, Anda tidak perlu khawatir karena bayi akan belajar sendiri bagaimana cara mengedan yang benar
  • Pada anak usia 1-3 tahun, sulit buang air besar dapat disebabkan karena kurangnya asupan cairan, belum terbentuknya kebiasaan untuk buang air besar yang teratur dan adanya gangguan pada daerah bokong seperti penyakit ruam popok.
  • Pada anak usia sekolah, konstipasi dapat disebabkan karena perubahan pola buang air besar. Anak yang sudah mulai sekolah biasanya enggan untuk buang air besar di sekolah sehingga cenderung menahan buang air besar yang mengakibatkan kotoran menjadi semakin keras dan semakin sulit untuk dikeluarkan. Selain itu, makanan rendah serat juga berperan menyebabkan kesulitan buang air besar. 

Anda tidak perlu khawatir selama bayi anda tetap tampak sehat, berat badan tetap bertambah, perut tidak kembung dan bayi anda tidak rewel. Memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB. Frekuensi buang air besar pada bayi bervariasi, dapat 4 - 10 kali sehari atau sebaliknya, sekali dalam 3 - 7 hari. Warna feses bayi pun dapat beragam mulai dari kekuningan hingga kehijauan.

Penanganan sulit buang air besar pada anak-anak perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Bila konstipasi tidak disebabkan karena suatu masalah kesehatan yang serius, maka orang tua dapat mencoba beberapa hal berikut:

  • Memberikan makanan-makanan tinggi serat untuk anak-anak seperti gandum, buah, dan sayur.
  • Meningkatkan asupan cairan bagi anak.
  • Menghindari konsumsi susu sapi dan produk susu sapi (keju, es krim). Konstipasi dapat diperparah karena proses mencerna protein susu sapi.
  • Hindari penggunaan obat pencahar, suplemen serat dan pelunak kotoran secara berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan pada kerja saluran cerna. Gunakan obat-obatan ini hanya dengan konsultasi dan pengawasan dokter.

Yang perlu Anda khawatirkan adalah jika penurunan frekuensi BAB pada anak Anda disertai dengan timbulnya keluhan-keluhan seperti ank menjadi lebih rewel, perut kembung dan teraba keras, sering muntah, berat badan tidak naik, dll. Jika hal-hal tersebut terjadi pada ank Anda, kami sarankan sebaiknya Anda segera membawa anak Anda ke dokter spesialis anak.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga dapat bermanfaat.

Salam,

Tim redaksi klikdokter

    0 Komentar

    Belum ada komentar