Sukses

Hipertensi dan Konstipasi

11 Oct 2015, 21:44 WIB
Pria, 31 tahun.

apakah ada hubungannya penyakit darah tinggi dengan maslah pencernaan, sperti sulit buang air besar, klo ada bagaimana penanganannya?dan apa solusinya?terima kasih...

dr. Suci Dwi Putri

Dijawab Oleh:

dr. Suci Dwi Putri

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Mohon maaf atas keterlambatan kami dalam menjawab konsultasi Anda. Kami sangat senang karena Anda mempercayakan layanan konsultasi kami untuk membantu mengatasi masalah kesehatan Anda.

Tidak ada hubungan khusus antara hipertensi dengan konstipasi. Untuk itu perlu dinilai lebih lanjut mengenai kondisi yang Anda alami ini. Kami anjurkan anda memeriksakan diri kepada dokter terdekat apabila keluhan terus berlanjut, untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Keluhan sulit buang air besar (sembelit) dalam dunia kedokteran disebut juga dengan konstipasi. Yang disebut konstipasi adalah apabila buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu dan disertai dengan konsistensi kotoran/tahi/feces yang keras. Kotoran yang keras saat buang air besar dapat menimbulkan sensasi nyeri pada anus. Buang air besar yang tidak tuntas dapat  pula memberikan rasa tidak nyaman pada daerah sekitar anus. BAB tidak lancar memang dapat menjadi sumber kekhawatiran tersendiri karena menyebabkan rasa tidak nyaman dan gelisah. 

Jika frekuensi bab anda < dari 3 kali dalam seminggu maka Anda mengalami konstipasi atau sembelit. Faktor risiko konstipasi mencakup minum yang kurang (orang normal minum 2-3 liter/hari), kurang makan sayur-sayuran dan buah-buahan, dan aktivitas fisik yang kurang (sedentary life).

Untuk mengatasi konstipasi, dapat dilakukan beberapa hal berikut :

  • Makan makanan yang tinggi kadar seratnya. Makanan yang mengandung banyak serat, akan membantu tubuh membentuk tinja yang lebih lunak. Jenis makanan tersebut, diantaranya adalah kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Hindari atau kurangi makanan yang tidak atau hanya sedikit mengandung serta, seperti keju, daging, dan makanan yang mengalami pemrosesan (misalnya diasap). Sebaiknya  jumlah konsumsi makanan tinggi serat ini dilakukan secara bertahap, awalnya hanya sedikit, lalu ditingkatkn sedikit-sedikit. Hal ini perlu dilakukan karena jka saluran cerna belum terbiasa dengan serat yang dimakan, justru akan menimbulkan keluhan kembung
  • Berolahraga secara teratur. Aktivitas fisik akan membantu menstimulasi aktivitas usus.
  • Asupan cairan yang cukup. Minum air atau cairan lain dalam jumlah cukup akan membantu melunakkan tinja
  • Jangan menunda dilakukannya BAB.
  • Menggunakan obat yang bersifat laksatif. Obat-obat ini hanya digunakan sebagai cara terakhir, jika cara-cara di atas tidak berhasil. Contoh obat yang bersifat laksatif adalah dulcolax. Dulcolax berfungsi sebagai stimulasi kontraksi ritmik di usus.

Bila dengan perubahan pola hidup ini keluhan belum berkurang juga, maka tidak ada salahnya Anda memeriksakan diri kembali ke dokter dan meminta obat untuk membantu buang air besar. 

Untuk keluhan sulit buang air besar, kami sertakan artikel: 7 Tips Mencegah Sulit BAB. serta Fakta dan Mitos Sulit BAB

Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

 

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar