Sukses

Epilepsi dengan Riwayat Trauma Kepala

28 Nov 2014, 16:01 WIB
Wanita, 34 tahun.

Suami saya mengalami kejang.Saat kejang badan kaku dan mengeras, dari mulut keluar liur dg sedikit berbusa.Hasil EEG mormal,namun suami lgsg dikatakan positif epilepsi. Waktu semasa sma suami pernah mengalami trauma di kepala.Adakah kemungkinan kejang krn trauma tsb? Terima kasih

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi KlikDokter.

Epilepsi adalah sebuah gangguan saraf kronik yang ditandai oleh kejadian kejang berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak. Manifestasi kejang dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu motorik, sensorik, otonom, dan psikis. Yang biasa dianggap kejang oleh masyarakat awam adalah manifestasi motorik.

Setiap kondisi yang menyebabkan gangguan pola normal aktivitas saraf dapat menyebabkan kejang. Epilepsi dapat timbul dari perkembangan sel saraf yang tidak normal, ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak, atau kombinasi keduanya. Namun tidak semua kejang dapat dikatakan sebagai epilepsi. Diagnosis epilepsi baru ditegakkan setelah dilakukan wawancara medis lengkap dan pemeriksaan EEG, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Dokter yang merawat suami Anda.

Epilepsi biasanya memang dilatarbelakangi oleh riwayat trauma kepala kendati pada sebagian penderita, faktor yang melatarbelakangi diagnosa epilepsi mereka belum diketahui.

Terapi epilepsi sebaiknya dilakukan sedini mungkin setelah diagnosis epilepsi ditegakkan. Terapi pilihan untuk epilepsi adalah dengan pemberian obat anti-kejang. Jenis obat yang dipilih disesuaikan dengan jenis dan variasi kejang yang dialami penderita. Pada umumnya, penderita hanya memerlukan satu jenis obat (monoterapi), walaupun terkadang terdapat beberapa penderita yang memerlukan dua jenis obat anti-kejang atau lebih.

Hingga saat ini belum ada satupun pernyataan bahwa epilepsi belum dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan dan dicegah agar tidak terjadi serangan. Prosedur pembedahan hanya dipertimbangkan sebagai salah satu terapi pada kasus-kasus yang tidak responsif terhadap pengobatan anti-kejang. Selain pembedahan, masih ada beberapa metode lain , yaitu:

  1. Diet ketogenik (diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat). Mekanisme belum diketahui secara pasti dan kerap diterapkan pada kasus epilepsi berat

  2. Stimulasi elektrik.

Terdapat beberapa studi yang meneliti peran metoda pengobatan alternatif sebagai terapi epilepsi, seperti akupuntur, intervensi psikologis, vitamin, dan yoga namun tidak ada satupun dari pilihan terapi tersebut memberikan makna yang berarti.

Jadi dapat disimpulkan bahwa terapi epilepsi yang dilakukan pertama kali adalah dengan memberikan obat anti-kejang. Satu-satunya terapi epilepsi tanpa obat ataupun pembedahan adalah dengan menerapkan diet ketogenik, dan terapi ini baru dipertimbangkan apabila obat-obatan tidak dapat membantu untuk mengendalikan kejang. Yang perlu digarisbaawahi adalah tindakan pencegahan kejang itu sendiri. Sebaiknya penderita mulai mengenali faktor-faktor yang dapat memicu timbulnya kejang sehingga pajanannya dapat diminimalisir. 

Sebagai kesimpulan, orang dengan epilepsi dapat hidup secara normal. Yang terpenting adalah penderita epilepsi tersebut mengikuti terapi yang sudah ditentukan oleh Dokter, hindari pencetus kejang (bila ada), konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan hindari stres. 

Kami sarankan suami Anda untuk tidak berhenti konsultasi Dokter Spesialis Saraf agar epilepsi yang ia miliki dapat terus dievaluasi.

Berikut adalah artikel yang berkaitan dengan pertanyaan Anda:

Pertolongan Pertama pada Kejang Epilepsi

Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam,

Tim Redaksi KlikDokter

0 Komentar

Belum ada komentar