Sukses

Terapi Hepatitis B

24 Nov 2014, 14:01 WIB
Wanita, 23 tahun.

Dok, obat untuk Hepatitis B apa ya..selain curcuma tablet, saya sudah mengkonsumsi secara rutin SGF (Super green food), terimakasih..

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Hepatitis (radang pada hati) B  adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB), yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Hepatitis B merupakan penyakit hepatitis yang paling sering terjadi yang jarang diketahui orang awam, padahal virus ini lebih infeksius 100 kali daripada HIV.  Virus hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi, hal ini dapat terjadi pada keadaan;

  • Kontak langsung darah dengan darah
  • Hubungan seksual yang tidak aman
  • Penggunaan jarum suntik tidak sterilTertusuk jarum suntik yang terinfeksi
  • Jarum yang terkontaminasi yang digunakan untuk membuat tatto, akupuntur, body piercing
  • Pada saat kehamilan – penularan dari ibu-janin pada proses melahirkan
  • Penggunaan pisau cukur bersama
  • Tranfusi darah

Sekitar sepertiga kasus dari penderita hepatitis B dapat tidak mengalami gejala sama sekali. Sisanya, penderita hepatitis B dapat mengalami beberapa gejala seperti penyakit flu, disertai dengan badan leas dan nyeri, sakit kepala, demam, nafsu makan menurun, diare, badan terlihat kuning (ikterik), mual dan muntah.

Bila benar anda dinyatakan hepatitis B maka yang perlu diperiksa adalah apakah hepatitis B yang Anda derita masih menularkan ke orang lain atau tidak . Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan yaitu melakukan pemeriksaan HBeAg dan Anti HBe. Apabila hasil yang didapat seperti ini :

  • HBe Ag reactive/ positif dan Anti HBe non reaktiv/negatif artinya Hepatitis B masih infeksius
  • HBe Ag non reactive/negatif dan anti HBe reaktiv/positif artinya Menderita Hepatitis B tapi sudah tidak menular lagi , disebut dengan Hepatitis B carrier .

 

Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) merupakan salah satu pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat infeksi hepatitis B akut dan kronik. Apabila hasilnya  positif, maka pada umumnya orang tersebut menderita hepatitis B kronik, dimana nilai HBsAg akan tetap positif setelah jangka waktu beberapa bulan pada 5-10% pasien yang mengalami infeksi hepatitis B.

Pengobatan untuk hepatitis B kronik mencakup pemberian antiviral seperti lamivudine dan interferon alpha. Namun, sebelum diberikan pengobatan, diperlukan pemeriksaan serologi hepatitis B yang lengkap, misalnya kadar HBV-DNA serta fungsi hati (SGPT dan SPOT). Hal tersebut bertujuan untuk menilai apakah Anda memiliki indikasi untuk diberikan terapi antiviral, dan untuk memantau perkembangan penyakit setelah diberikan obat. Jadi mungkin memang pemberian obat anti-viral belum indikasi untuk Anda, mungkin dari hasil lab Anda. 

Anda juga harus berkonsultasi lebih lanjut kepada dokter spesialis ilmu penyakit dalam divisi hepatologi karena pengobatan untuk hepatitis B tidak sederhana.

 

-10% dewasa yang terinfeksi hepatitis B akan 'membawa' atau menyimpan virus tersebut selama hidupnya, yang kemudian disebut hepatitis B carriers.  Hepatitis B memiliki 4 fase untuk menjadi Hepatitis B kronik yaitu:

  1. Fase toleransi imunitas (immune tolerance phase)
  2. Fase pembersihan imunitas (immune clearance phase)
  3. Fase kontrol imunitas (immune control phase)
  4. Fase penurunan imunitas (immune escape phase)

Selama fase satu dan tiga, umumnya pasien tidak memiliki keluhan dan disebut dengan 'inactive carriers'. Bagaimanapun juga, orang tersebut umumnya tidak dapat bertahan selamanya di dalam fase ini, mereka akan berpindah fase dan selalu memiliki risiko untuk terjadinya kerusakan hati progresif dan pembentukan sirosis hati (pengecilan hati).

Pasien pada fase 1 dan 3 umumnya tidak diberikan terapi karena berdasarkan penelitian, pemberian antivirus tidak ada bedanya dengan plasebo. Pasien dengan fase 2 dan 4 akan diberikan terapi antivirus. Yang diperlukan pada pasien carrier tanpa gejala adalah follow-up atau kunjungan ke dokter secara reguler untuk memastikan fase yang terjadi dan perlu tidaknya terapi. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  1. Menjaga kesehatan carriers
  • Mengunjungi dokter teratur (minimal 1x/tahun). Diskusikan mengenai tes darah    dan pemeriksaan USG berkala dan penggunaan obat interferon alfa-2b.
  • Diskusikan dengan dokter mengenai obat-obatan yang dijual bebas, bahkan obat herbal, karena beberapa dapat merusak hati.
  • Tidak mengonsumsi alkohol karena dapat merusak hati
  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang (suntik), karena memiliki risiko terkena hepatitis yang lain.
  • Vaksinasi hepatitis A.
  1. Menjaga diri carriers dari menginfeksi orang lain
  • Orang-orang yang berisiko terinfeksi hepatitis B adalah mereka yang  memiliki kontak dekat (dengan darah, semen, atau cairan tubuh lain) dengan carriers. Sebagai contoh: pasangan seksual, orang yang tinggal serumah, anak  yang lahir dari carriers. Beritahu mereka mengenai kondisi carriers, bahwa  tidak masalah untuk berbagi makanan bersama.
  • Carrier yang sedang hamil agar memberitahu dokter mengenai kondisinya, agar bayinya diberi suntikan yang menjaganya dari hepatitis B (12 jam pertama kelahiran).
  • Menggunakan kondom lateks setiap berhubungan seksual
  • Tidak pernah membagi jarum suntik, tindikan, dsb.
  • Tidak mendonorkan darah, plasma, organ tubuh, jaringan atau sperma
  1. Untuk mereka yang memiliki kontak dekat dengan carriers.
  • Memeriksakan diri ke dokter untuk tes hepatitis B
  • Vaksinasi hepatitis B
  • Tidak berbagi rokok, sikat gigi, gunting, pisau cukur, dsb
  • Tutup semua luka dengan bandage
  • Cuci tangan, terutama setelah menyentuh darah
  • Bersihkan cipratan darah dengan campuran pemutih dan air (1,5 cangkir pemutih dalam satu galon air) untuk mematikan virus hepatits B.

 

Berikut kami sertakan artikel berkaitan dengan hepatitis B:

Hepatitis B.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Salam,

Tim Redaksi Klikdokter

 

 

 

0 Komentar

Belum ada komentar