Sukses

Enuresis Nokturnal, sering ngompol di malam hari

13 Dec 2014, 22:10 WIB
Wanita, 13 tahun.

saya sering ngompol di malam hari, tetapi saya tidak sadar akan hal itu, saya tidak pernah terasa jika ingin buang air kecil. saya sering search di internet tentang cara pengobatan alternatif, tapi tak kunjung berhenti ngompolnya. dok bantu saya untuk mengobati ngompol pada malam hari, terima kasih

dr. Suci Dwi Putri

Dijawab Oleh:

dr. Suci Dwi Putri

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Ngompol atau dalam bahasa medis disebut enuresis adalah suatu keadaan tidak dapat menahan keluarnya air kemih. Apabila terjadi pada malam hari mengompol disebut enuresis nokturnal. Mengompol sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi hingga anak berusia 5 tahun. Meski pada sebagian besar kasus ini dapat sembuh secara spontan saat anak mencapai usia 10-15 tahun, tetap diperlukan monitor lebih lanjut untuk mengevaluasi berbagai kemungkinan yang dapat menyebabkan keadaan tersebut.

Enuresis (mengompol) dapat dikelompokkan menjadi enuresis primer dan sekunder. Disebut enuresis primer apabila mengompol terjadi sejak anak lahir, tetapi apabila pernah terdapat fase tidak mengompol di antaranya, maka disebut enuresis sekunder. Enuresis primer lebih sering terjadi dibandingkan enuresis sekunder. Berdasarkan penelitian enuresis jenis ini dapat terjadi karena adanya faktor keturunan. Apabila kedua orangtua memiliki riwayat mengompol maka 77% anaknya akan mengalami hal yang serupa. Dan apabila hanya salah satu orangtua yang memiliki riwayat mengompol maka sekitar 44% anaknya akan mengalami halyang serupa. Bahkan mengompol masih dapat terjadi pada 15% anak tanpa riwayat mengompol pada kedua oarngtuanya.

Selain faktor keturunan, masih ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi, yaitu:

  • keterlambatan pematangan fungsi susunan saraf pusat. Normalnya ketika kandung kemih penuh, saraf-saraf pada dinding kandung kemih akan mengirimkan sinyal ke otak untuk mengeluarkan air kemih,dan otak akan membalas sinyal tersebut dengan perintah untuk menahan air kemih hingga siap dikeluarkan di toilet. Fungsi ini tidak dapat berjalan baik apabila susuanan saraf pusat terlambat matang.
  • ganguan tidur. Jika Anda tidur terlalu  nyenyak dan sangat dalam dapat menyebabkan Anda tidak terbangun meski kandung kemih sudah penuh.
  • Kurangnya kadar hormon antidiuretik (hormon penahan air). Hormon ini membuat produksi air kemih berkurang pada malam hari.
  • Kelainan anatomi organ saluran kemih, misalnya kandung kemih yang kecil sehingga mudah menjadi penuh.

Prinsipnya terapinya adalah membuat kandung kemih dapat menahan lebih banyak air kemih dan membantu ginjal mengurangi produksi air kemih.  Enuresis dapat diatasi tanpa ataupun dengan obat, namun tentu saja obat yang dipakai juga memiliki efek samping tertentu. Yang dapat dilakukan saat ini adalah:

  • membatasi minum saat malam hari
  • hindari mengonsumsi teh, cokelat, soft drink, karena mengandung kafein yang bersifat diuretik
  • jadwalkan untuk pergi ke kamar mandi sekitar 30 menit sebelum tidur, atau tepat sebelum tidur
  • lakukan toilet training pada saat siang hari untuk mengakrabkan rutinitas buang air kemih di toilet.
  • Mintalah dukungan orang tua dan keluarga terdekat dalam usaha mencegah enuresis ini.
  • modifikasi perilaku dengan terapi alarm. Alarm diletakkan di dekat alat kelamin Anda, apabila mulai mengompol maka alarm berbunyi sehingga Anda terbangun dan menahan air kemihnya dan orangtua dapat membantu Anda buang air kecil di toilet, evaluasi 2 minggu hingga beberapa bulan.
  • Jika Anda tetap mengompol, tidak perlu stress atau menjadi beban pikiran. Segala sesuatu membutuhkan proses, dan proses membutuhkan waktu. Anda tidak perlu terpacu untuk segera mungkin harus berhenti dari kebiasaan ini. Secara perlahan namun rutin cobalah untuk selalu melakukan cara-cara yang telah disebutkan di atas.

Jika dengan cara-cara tersebut keluhan Anda belum juga teratasi, mintalah orangtua menemani Anda melakukan pemeriksaan kepada dokter terdekat untuk mencari kemungkinan adanya gangguan yang mendasari, dan apakah diperlukan obat untuk mengatasina.

Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

 

Salam,

Tim Redaksi Klikdokter

 

0 Komentar

Belum ada komentar