Sukses

Perdarahan Dibawah Lapisan Plasenta

18 Dec 2014, 09:27 WIB
Wanita, 26 tahun.

Selamat siang dokter, saya mau konsultasi. Saya bumil u.k 16w3d. Udh 3 minggu ini sy bedrest krn hasil usg menyatakan saya ada perdarahan dibawah lapisan plasenta. Alhamdulillah janin msh aktif & tdk pernah mules. Cuma kalau stres/cape sedikit pasti keluar flek coklat & 2 minggu lalu pernah flek darah. Sdh diberikan obat anti kontraksi & penguat kandungan oleh dokter saya. 2 minggu lalu lebar perdarahan saya 5,24 & hari kamis kmrn sdh mengecil jadi 5,11. Yg saya mau tanyakan, knp progress kesembuhan saya sangat pelan pdhl saya sdh bedrest & mengurangi stres ya dok?

dr. Suci Dwi Putri

Dijawab Oleh:

dr. Suci Dwi Putri

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Kami memahami kegelisahan yang Anda rasakan. Perdarahan dibawah lapisan plasenta disebut dengan solutio plasenta. Kami akan sedikit menjelaskan mengenai kondisi tersebut.

Solutio plasenta (ari-ari) adalah pemisahan prematur (sebelum waktunya) plasenta dari perlekatannya yang normal pada dinding rahim sebelum janin lahir. Merupakan salah satu penyebab perdarahan di triwulan ketiga yang menyebabkan peningkatan angka kecacatan dan kematian janin. Di USA, frekuensi kejadian solutio plasenta adalah 1% dengan angka kematian janin 0,12% dari seluruh kehamilan. Komplikasi janin dan ibu yang dapat terjadi adalah operasi caesar, perdarahan/koagulopati, dan kelahiran prematur.

Penyebab primernya masih belum diketahui namun kejadiannya melibatkan berbagai faktor yang berkaitan dengan :

  • Merokok. Meningkatkan 40% risiko solutio plasenta. Semakin banyak merokok semakin besar risiko solutio plasenta
  • Penggunaan narkotik. Risiko solutio plasenta berkisar 13-35% dan berkaitan dengan peningkatan dosis
  • Trauma. Trauma pada perut adalah faktor risiko mayor untuk solutio plasenta. Trauma dapat berkaitan dengan kekerasan rumah tangga dan kecelakaan kendaraan bermotor. Sabuk pengaman sebaiknya diletakkan di panggul (bawah perut), bukan di tengah perut
  • Faktor risiko lain seperti riwayat solutio plasenta sebelumnya, korioamnionitis (radang pada korion dan cairan ketuban), ketuban pecah dini (≥24jam), preeklampsia, nutrisi buruk, usia ibu ≥ 35 tahun, sosioekonomi rendah

Gejala yang dapat terjadi adalah perdarahan dari vagina berwarna merah terang atau merah gelap, sedikit atau banyak (tergantung dari lokasi terlepasnya plasenta dan berapa lama waktu yang dibutuhkan darah untuk keluar),  dan hilang timbul sesuai dengan kontraksi rahim (20% perdarahan tersembunyi di dalam rahim, tidak terjadi perdarahan pervaginam), kontraksi rahim yang menimbulkan rasa nyeri, shock (penurunan tekanan darah dan tingkat kesadaran), perut terasa keras, denyut jantung janin tidak terdengar, dan penurunan gerak janin.

Terapi tokolitik (pengurangan kontraksi dengan obat-obatan) merupakan terapi konvensional yang hanya dilakukan pada pasien dengan kondisi hemodinamik stabil, kehamilan usia muda, tidak ada risiko bahaya pada janin, pada kasus dimana pemisahan plasenta hanya sebagian, dan kondisi janin yang diuntungkan dengan pematangan paru terlebih dahulu atau penundaan kelahiran hingga kehamilan 35 minggu. Terapi konvensional ini harus sangat dipertimbangkan dan dievaluasi secara ketat karena gangguan pada ibu dan janin dapat terjadi dalam waktu singkat.

Terapi lainnya adalah melahirkan janin dengan syarat mengatasi kondisi umum dari ibu agar stabil terlebih dahulu. Melahirkan pervaginam merupakan pilihan apabila janin meninggal di kandungan atau janin stabil dan tergantung dari kondisi hemodinamik ibu. Operasi caesar terkadang diperlukan untuk stabilisasi kondisi ibu dan janin. Operasi ini dapat dipersulit dengan status gangguan koagulasi (pembekuan darah) ibu yang membuat kondisi perdarahan sulit dihentikan. Apabila perdarahan tidak dapat dikendalikan maka dapat dilakukan tindakan koreksi koagulopati seperti pengikatan pembuluh darah rahim, obat-obatan merangsang kontraksi rahim, dan cara terakhir adalah histerektomi (pengangkatan rahim).

Tidak ada terapi yang dapat menghentikan plasenta dari robek atau terpisah dari dinding rahim dan tidak ada cara untuk melekatkannya kembali. Hanya asaa, jika sistem dalam tubuh bagus, maka akan ada mekanisme penyerapan penumpukan darah tersebut, dan proses ini memang tidak berjalan cepat (dipengaruhi oleh tubuh individu sendiri: daya tahan tubuh, imunitas, faktor pembekuan darah, adanya penyakit sistemik yang menyertai, dll)

Untuk itu, sekiranya Anda bisa bersabar dala kondisi ini, lanjutkan bed rest dan jaga daya tahan tubuh dengan mencukupi kebutuhan nutrisi ibu dan janin.

sebagai tambahan, Anda dapat membaca artikel kami yang berjudul Makanan Selama Kehamilan dan Nutrisi Kehamilan.

Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.

 

Salam,

Tim Redaksi Klikdokter

0 Komentar

Belum ada komentar