Sukses

Anak Sulit Makan & Gangguan BAB

13 Nov 2014, 23:40 WIB
Wanita, 23 tahun.

selamat siang dokter. anak saya umur 17 bulan (laki - laki),sejak umur 2 bulan dia saya kasih asi + susu formula karena saya kerja Dia susah sekali makan, sudah dikasih vitamin tambah nafsu makan tetep susah makan. Dan setiap kali BAB dia selalu menangis, walaupun bentuk fesesnya lembek / cair dia juga menangis,, kadang kalu fesesnya keras, ada darahnya walau sedikit. dia juga sering sekali sariawan,. trimakasih dokter atas waktunya, dan apa yang harus saya lakukan

Terimakasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Kadangkala bila anak sering sakit, memang pertumbuhannya agak terhambat, karena ia jadi membutuhkan lebih banyak energi untuk tumbuh normal, dan untuk proses penyembuhan sakitnya itu. 

Selain itu pada anak yang sakit, biasanya nafsu makannya akan menurun. Bila anak sering sakit, ada baiknya periksa ke dokter anak, sebab bisa jadi ada proses yang sifatnya kronis, atau bisa juga ada masalah lain yang belum diketahui, misalnya ada suatu infeksi. 
Beberapa hal yang dapat dilakukan agar si kecil mau makan, antara lain:

  1. Mengurangi cemilan yang membuat anak kenyang. Jangan biarkan anak terlalu sering jajan di luar makanan utama karena dapat menyebabkan anak kenyang. Jika terlalu sering    jajan, dia tidak akan merasa lapar saat tiba saatnya makan, selain itu cakupan gizi dalam jajanan tersebut belum tentu mencukupi kebutuhan anak.
  2. Buat suasana makan yang menyenangkan bagi anak. Sajikan makanan yang cukup bervariasi kepada anak sehingga anak tidak bosan. Buatlah suasana yang menimbulkan anggapan bahwa makan adalah sesuatu yang menyenangkan. Jangan cepat menyerah jika anak tidak menyukai makanan yang kita tawarkan. Coba ulangi lagi dengan suasana yang berbeda.
  3. Tambahkan susu secukupnya. Jangan berikan susu pada anak dalam jumlah berlebihan. Cukup 2-3 gelas susu formula sehari didampingi ASI. Jumlah susu yang berlebihan akan menyebabkan anak kekenyangan sehingga anak tidak mau makan lagi.

BAB pada anak memang bergantung pada asupan makanan yang diberikan. Jika memang asupannya sedikit maka BABnya juga menjadi jarang dan jika telah mengkonsumsi susu formula maka akan mempengaruhi frekuensi BAB anak. Bayi yang disusui ASI memiliki tinja yang lebih lunak, sehingga gerakan usus menjadi lebih mudah, dan memiliki kadar hormon tertentu lebih tinggi sehingga ada peningkatan gerakan usus. Sedangkan susu formula lebih sulit untuk dicerna, umumnya gerakan usus pada bayi-bayi ini lebih lambat sehingga mengakibatkan BAB lebih jarang, tinjanya lebih tebal. Selain itu jika frekuensi masuknya susu juga kurang, bayi cenderung lebih sulit BAB.

Bagaimana dengan frekuensi minum ASI dan susu formula anak Ibu?

Selain itu, memang wajar terjadi perubahan dalam frekuensi BAB bayi dengan semakin bertambahnya usia bayi, hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh produk yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi. Tidak ada batas waktu yang dapat dijadikan patokan waktu yang normal bagi bayi untuk BAB. Frekuensi buang air besar pada bayi bervariasi, dapat 4 - 10 kali sehari atau sebaliknya, sekali dalam 3 - 7 hari.

Beberapa kemungkinan penyebab timbulnya kesulitan buang air besar:

  • Pada umumnya, kesulitan buang air besar terjadi pada bayi yang pertama kali diberikan susu formula atau makanan pendamping atau dalam kata lain bayi mulai diperkenalkan dengan makanan padat.

  • Frekuensi BAB yang menurun pada bayi dapat juga terjadi karena bayi masih kurang mengerti bagaimana teknik mengedan yang benar, sehingga ia tidak dapat mengeluarkan tinjanya dengan baik. Jika hal ini terjadi pada bayi anda, Anda tidak perlu khawatir karena bayi akan belajar sendiri bagaimana cara mengedan yang benar

Yang perlu Anda khawatirkan adalah jika penurunan frekuensi BAB pada bayi Anda disertai dengan timbulnya keluhan-keluhan seperti bayi menjadi lebih rewel, perut kembung dan teraba keras, sering muntah, berat badan tidak naik, dll. Jika hal-hal tersebut terjadi pada bayi Anda, kami sarankan sebaiknya Anda segera membawa bayi Anda ke dokter spesialis anak.

Demikian informasi yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar