Sukses

Tertawa Saat Terjadi Gejala Epilepsi

17 Oct 2014, 11:39 WIB
Wanita, 35 tahun.
Selamat Siang Dokter, 5 th ini saya di diagnosa dktr mengidap epilepsy. Awalnya setelah melahirkan anak pertama, sekitar 1bln kemudian,tiba tiba pikiran saya blank. kata yang melihat saya, saya tdk ingat siapa2, bahkan anak saya, tetapi saya melakukan kegiatan spt biasa (saat itu sedang meyusui anak saya). Setelah itu tertidur. Bahkan saat melahirkan anak kedua, saya tidak merasa melahirkan anak, tiba2 sadar sdh kondisi perut kosong. sampai dng saat ini, saya mengkonsumsi obat sehari sekali. Sekarang, jika saya akan kumat, saya bisa merasakan, sehingga bs memberitahu orng disebelah saya jika akan kumat. saat kumat, kata orng yg melihat, saya bisa tertawa, pandangan kosong, atau kadang ngompol, tp bisa jg tetap melakukan pekerjaan spt biasa dng pandangan kosong. Menurut dokter, apa yg penyakit saya, dan apa yg hrs saya lakukan??

Terima kasih atas pertanyaan Anda

Kami mengerti kekhawatiran yang Anda rasakan. Merujuk dari keluhan Anda, kemungkinan gejala yang Anda rasakan merupakan bagian dari gejala epilepsi. Manifestasi kejang, dapat dikelompokkan menjadi empat. Yakni, motorik, sensorik, otonom, dan psikis. Yang biasa dianggap kejang oleh masyarakat awam adalah manifestasi motorik. namun tertawa, menangis bisa menjadi salah satu gejala epilepsi yang termasuk manifestasi psikis. Selain tertawa atau menangis sendiri, gejala lain kejang adalah ketakutan berlebihan. Padahal, pasien tidak sedang melihat hal yang menakutkan. Bahkan, ada kejang yang manifestasinya berupa tindakan kekerasan. Kami sarankan Anda melakukan konsultasi kembali dengan dokter spesialis saraf untuk dilakukan pemeriksaan kembali lebih lanjut. 

Epilepsi adalah sebuah gangguan saraf kronik yang ditandai oleh kejadian kejang berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak. Kondisi yang Anda alami bisa jadi merupakan sebuah serangan minor.

Setiap kondisi yang menyebabkan gangguan pola normal aktivitas saraf dapat menyebabkan kejang. Epilepsi dapat timbul dari perkembangan sel saraf yang tidak normal, ketidakseimbangan senyawa kimia dalam otak, atau kombinasi keduanya. Namun tidak semua kejang dapat dikatakan sebagai epilepsi. Diagnosis epilepsi baru ditegakkan setelah dilakukan wawancara medis lengkap dan pemeriksaan EEG.

Terapi epilepsi sebaiknya dilakukan sedini mungkin setelah diagnosis epilepsi ditegakkan. Terapi pilihan untuk epilepsi adalah dengan pemberian obat antikejang. Jenis obat yang dipilih disesuaikan dengan jenis dan variasi kejangnya. Kebanyakan pasien hanya memerlukan satu jenis obat (monoterapi), meski masih terdapat beberapa yang memerlukan dua jenis obat antikonvulsan atau lebih.

Sampai saat ini, epilepsi belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol dengan obat-obatan yang mencegah terjadinya epilepsi. Operasi untuk menyembuhkan operasi pun termasuk salah satu operasi yang sulit. Prosedur pembedahan hanya dipertimbangkan sebagai salah satu terapi pada kasus-kasus yang tidak responsif terhadap pengobatan antikejang. Selain pembedahan, masih ada beberapa metoda lain , yaitu:

  1. Diet ketogenik (diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat). Mekanisme tidak diketahui dan terutama diterapkan pada kasus epilepsi berat.
  2. Stimulasi elektrik

Terdapat beberapa studi yang meneliti peran metoda pengobatan alternatif sebagai terapi epilepsi, seperti akupuntur, intervensi psikologis, vitamin, dan yoga namun tidak ada satupun diantaranya yang terbukti bermakna. Jadi dapat disimpulkan bahwa terapi epilepsi yang dilakukan pertama kali adalah dengan memberikan obat antikejang. Satu-satunya terapi epilepsi tanpa obat ataupun pembedahan adalah dengan menerapkan diet ketogenik, dan terapi ini baru dipertimbangkan apabila obat-obatan tidak dapat membantu untuk mengendalikan kejang. Dan yang tidak kalah penting adalah tindakan pencegahan kejang itu sendiri. Sebaiknya pasien mulai mengenali faktor-faktor yang dapat memicu timbulnya kejang sehingga pajanannya dapat diminimalisir. 

Sebagai kesimpulan, orang dengan epilepsi dapat hidup secara normal. Yang terpenting adalah penderita epilepsi tersebut mengikuti terapi yang sudah ditentukan oleh dokter, hindari pencetus kejang (bila ada), makan makanan bergizi, olahraga teratur, dan hindari stres. 

Demikian penjelasan kami. Semoga bermanfaat. (DNA)

Salam,


Tim Redaksi KlikDokter

0 Komentar

Belum ada komentar