Sukses

Sering Meludah Saat Puasa ?

19 Oct 2014, 18:12 WIB
Pria, 23 tahun.
Slmt siang Dok.. Ingin tnya Dok, knpa saat puasa saya sering sekali meludah/sllu terasa banyak ludah yg menumpuk di mulut. Kondisi ini jelas membuat saya tidak nyaman dlm beraktifitas, misalnya ketika sdang bekerja, Saya mesti keluar masuk toilet untk membuang ludah, terkesan menjijikkan memang bagi org lain, tp apa boleh buat itu yg membuat saya merasa nyaman. ibu saya pnya penyakit maag, saya pun seperti nya begitu. Yg ingin saya tanyakan Dok, a. Apa penyebab nya sehingga saya selalu ingin meludah saat puasa? B. Apakah maag saya mempengaruhi? C. Bagamana solusi nya agar bisa mengurangi atau menghentikan meludah yg'keseringan' saat puasa.? Mhon jwban ny Dok. Trimakasih.
Klikdokter

Dijawab Oleh:

Klikdokter

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Saya turut prihatin atas kondisi Anda. Air liur atau saliva diproduksi dari kelenjar saliva yang berada di bagian mulut dan rahang. Produksi saliva di bawah pengaruh Sistim Saraf Autonom yang berarti tidak dapat dikendalikan secara sadar. Hipersalivasi atau peningkatan saliva dapat diakibatkan peningkatan produksi atau keadaan kurangnya saliva. Penyebab hipersalivasi diantaranya adalah asupan gandum berlebih, penyakit refluks gastroesofageal, pankreatitis, penyakit hati, ulkus atau luka, suatu rangsangan dan infeksi pada mulut dan obat-obatan tertentu,dll.

Hubungan antara hipersalivasi dan hipersekresi gaster (lambung) juga diteliti dan diterbitkan oleh Psychosomatic medicine. Pada kondisi tertentu dimana asam lambung meningkat dapat menimbulkan gejala lambung seperti mual dan juga dapat menyebabkan terjadinya hipersalivasi. Mungkin hal ini yang terjadi pada Anda. Terapi untuk hipersalivasi tergantung dari penyebabnya masing-masing. Untuk itu kami sarankan anda untuk memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui apa penyebab dari keadaan Anda.

Berikut artikel terkait air liur yang dapat Anda baca

Saliva
Saliva atau Air Liur

 Demikian informasi yang dapat saya berikan, semoga bermanfaat.

Salam.

Drg. Arni Maharani.

0 Komentar

Belum ada komentar