Sukses

Anak Masih Mengompol

22 Nov 2013, 11:31 WIB
Wanita, 33 tahun.
pagi dok,anak sy usia 10th 135/36tp kl tidur msh ngompol. pdhl bbrpa jam sblmnya dy g mkn/mnum tp ttp sj msh ngmpol. sy dh prnh bw kdoktr ank tp kty nnti jg brhnti sndri,oya apa ukuran penis jg mempengaruhi krn ukuran penis ank sy lbh kecil dbndg ank seusianya..mohon solusinya. trims
dokter

Dijawab Oleh:

dokter

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter

Saya mengerti rasa khawatir yang Anda rasakan. Ngompol atau dalam bahasa medis disebut enuresis adalah suatu keadaan tidak dapat menahan keluarnya air kemih. Apabila terjadi pada malam hari mengompol disebut enuresis nokturnal. Mengompol sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi hingga anak berusia 5 tahun. Meski pada sebagian besar kasus ini dapat sembuh secara spontan saat anak mencapai usia 10-15 tahun, tetap diperlukan monitor lebih lanjut untuk mengevaluasi berbagai kemungkinan yang dapat menyebabkan keadaan tersebut.

Enuresis (mengompol) dapat dikelompokkan menjadi enuresis primer dan sekunder. Disebut enuresis primer apabila mengompol terjadi sejak anak lahir, tetapi apabila pernah terdapat fase tidak mengompol di antaranya, maka disebut enuresis sekunder. Enuresis primer lebih sering terjadi dibandingkan enuresis sekunder.

Berdasarkan penelitian, enuresis jenis ini dapat terjadi karena adanya faktor keturunan. Apabila kedua orangtua memiliki riwayat mengompol maka 77% anaknya akan mengalami hal yang serupa. Dan apabila hanya salah satu orangtua yang memiliki riwayat mengompol maka sekitar 44% anaknya akan mengalami hal yang serupa. Bahkan mengompol masih dapat terjadi pada 15% anak tanpa riwayat mengompol pada kedua oarngtuanya.

Selain faktor keturunan, masih ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi, yaitu:

  • keterlambatan pematangan fungsi susunan saraf pusat. Normalnya ketika kandung kemih penuh, saraf-saraf pada dinding kandung kemih akan mengirimkan sinyal ke otak untuk mengeluarkan air kemih,dan otak akan membalas sinyal tersebut dengan perintah untuk menahan air kemih hingga siap dikeluarkan di toilet. Fungsi ini tidak dapat berjalan baik apabila susuanan saraf pusat terlambat matang.
  • ganguan tidur. Anak yang tidur nyenyak dan sangat dalam dapat menyebabkan anak tidak terbangun meski kandung kemih sudah penuh.
  • Kurangnya kadar hormon antidiuretik (hormon penahan air). Hormon ini membuat produksi air kemih berkurang pada malam hari.
  • Kelainan anatomi organ saluran kemih, misalnya kandung kemih yang kecil sehingga mudah menjadi penuh.

Prinsipnya terapinya adalah membuat kandung kemih dapat menahan lebih banyak air kemih dan membantu ginjal mengurangi produksi air kemih.  Enuresis dapat diatasi tanpa ataupun dengan obat, namun tentu saja obat yang dipakai juga memiliki efek samping tertentu. Yang dapat dilakukan saat ini adalah:

  • membatasi minum anak saat malam hari
  • hindari mengonsumsi teh, cokelat, soft drink, karena mengandung kafein yang bersifat diuretik
  • jadwalkan anak untuk pergi ke kamar mandi sekitar 30 menit sebelum tidur, atau tepat sebelum tidur
  • lakukan toilet training pada anak saat siang hari untuk mengakrabkan rutinitas buang air kemih di toilet.
  • modifikasi perilaku dengan terapi alarm. Alarm diletakkan di dekat alat kelamin anak, apabila mulai mengompol maka alarm berbunyi sehingga anak terbangun dan menahan air kemihnya dan orangtua membantu anak meneruskan buang air kecil di toilet, evaluasi 2 minggu hingga beberapa bulan.
  • beri anak pujian ketika berhasil untuk tidak mengompol (terapi motivasi), evaluasi dalam 3-6 bulan.
  • apabila anak mengompol, jangan memperlakukannya dengan keras. Cobalah untuk memberi pengertian akan tindakannya dan melibatkannya untuk membantu membersihkan tempat tidurnya yang basah.

 

Mengatasi kebiasaan mengompol bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan kerjasama dan kesabaran dari orangtua, anak, bahkan dokter. Sebagai orangtua atau orang yang lebih dewasa kita harus menyingkapi masalah ini dengan penuh kesabaran dan pengertian kepada anak dengan tidak memojokkan atau mengolok-oloknya.

Apabila dengan cara di atas, anak tetap saja mengompol, maka sebaiknya Anda segera membawa anak Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk tatalaksana yang optimal.

Demikian informasi kami sampaikan, semoga bermanfaat. (AN)

Salam,

Tim Redaksi Klikdokter

 

 

 

    0 Komentar

    Belum ada komentar