Sukses

Mengompol dan Diabetes

18 Oct 2014, 09:57 WIB
Pria, 11 tahun.
Dokter yang terhormat : anak saya skrang berumur 11 tahun. hampir setiap malam kalau tidak dibangunkan ,dia suka mengompol , terkadang sampai 2 kali walaupun sebelum tidur sudah buang air kecil terlebih dahulu.apakah hal itu bisa merupakan tanda dia terkena diabetes melitus type 1 ? selera makannya biasa saja, namun untuk minum memang agak banyak, dan juga dia jarang berolah raga.untuk berat badan tidak ada kenaikan ataupun penurunan yang mencolok. mohon penjelasan dokter.thanks
Klikdokter

Dijawab Oleh:

Klikdokter


Ibu/Saudari yang Terhormat,

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi dari Klikdokter.

Diabetes diklasifikasikan sebagai Tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus <IDDM>) dan tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus <NIDDM>). Diabetes tipe 1 adalah kasus genetik yang pada umumnya dimiliki sejak kecil dan memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah. Diabetes tipe 2 dipengaruhi oleh keturunan dengan penyebabnya adalah kurangnya jumlah insulin yang dihasilkan tubuh dan berkurangnya sensitifitas jaringan terhadap hormon insulin (resistensis insulin). Insulin sendiri adalah hormon yang membawa glukosa dari darah masuk se dalam sel-sel tubuh dan dihasilkan oleh sel-sel beta di pankreas. Yang khas untuk tipe 1 adalah jika tidak memakai insulin maka pasien tersebut akan jatuh pada ketoasidosis (darah menjadi asam dan biasanya tidak sadar) berulang. Apakah ciri tersebut ada pada diri anak Anda? Apakah anak Anda pernah tidak sadarkan diri karena kadar gulanya sangat tinggi? Mengompol tidak dapat dijadikan patokan gejala terjadinya diabetes melitus tipe 1 pada anak Anda.

 

Kemungkinan, anak Anda memang hanya masih mengompol.

Mengompol atau dalam bahasa medis disebut enuresis adalah suatu keadaan tidak dapat menahan keluarnya air kemih. Apabila terjadi pada malam hari mengompol disebut enuresis nokturnal. Mengompol sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi hingga anak berusia 5 tahun. Meski pada sebagian besar kasus ini dapat sembuh secara spontan saat anak mencapai usia 10-15 tahun, tetap diperlukan monitor lebih lanjut untuk mengevaluasi berbagai kemungkinan yang dapat menyebabkan keadaan tersebut.

Enuresis (mengompol) dapat dikelompokkan menjadi enuresis primer dan sekunder. Disebut enuresis primer apabila mengompol terjadi sejak anak lahir, tetapi apabila pernah terdapat fase tidak mengompol di antaranya, maka disebut enuresis sekunder. Enuresis primer lebih sering terjadi dibandingkan enuresis sekunder. Berdasarkan penelitian enuresis jenis ini dapat terjadi karena adanya faktor keturunan. Apabila kedua orangtua memiliki riwayat mengompol maka 77% anaknya akan mengalami hal yang serupa. Dan apabila hanya salah satu orangtua yang memiliki riwayat mengompol maka sekitar 44% anaknya akan mengalami hal yang serupa. Bahkan mengompol masih dapat terjadi pada 15% anak tanpa riwayat mengompol pada kedua orang tuanya.

Selain faktor keturunan, masih ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi, yaitu:

  • keterlambatan pematangan fungsi susunan saraf pusat. Normalnya ketika kandung kemih penuh, saraf-saraf pada dinding kandung kemih akan mengirimkan sinyal ke otak untuk mengeluarkan air kemih,dan otak akan membalas sinyal tersebut dengan perintah untuk menahan air kemih hingga siap dikeluarkan di toilet. Fungsi ini tidak dapat berjalan baik apabila susuanan saraf pusat terlambat matang.
  • ganguan tidur. Anak yang tidur nyenyak dan sangat dalam dapat menyebabkan anak tidak terbangun meski kandung kemih sudah penuh.
  • Kurangnya kadar hormon antidiuretik (hormon penahan air). Hormon ini membuat produksi air kemih berkurang pada malam hari.
  • Kelainan anatomi organ saluran kemih, misalnya kandung kemih yang kecil sehingga mudah menjadi penuh.

Prinsipnya terapinya adalah membuat kandung kemih dapat menahan lebih banyak air kemih dan membantu ginjal mengurangi produksi air kemih.  Enuresis dapat diatasi tanpa ataupun dengan obat, namun tentu saja obat yang dipakai juga memiliki efek samping tertentu. Yang dapat dilakukan saat ini adalah:

  • membatasi minum anak saat malam hari
  • hindari mengonsumsi teh, cokelat, soft drink, karena mengandung kafein yang bersifat diuretik
  • jadwalkan anak untuk pergi ke kamar mandi sekitar 30 menit sebelum tidur, atau tepat sebelum tidur
  • lakukan toilet training pada anak saat siang hari untuk mengakrabkan rutinitas buang air kemih di toilet.
  • modifikasi perilaku dengan terapi alarm. Alarm diletakkan di dekat alat kelamin anak, apabila mulai mengompol maka alarm berbunyi sehingga anak terbangun dan menahan air kemihnya dan orangtua membantu anak meneruskan buang air kecil di toilet, evaluasi 2 minggu hingga beberapa bulan.
  • beri anak pujian ketika berhasil untuk tidak mengompol (terapi motivasi), evaluasi dalam 3-6 bulan.
  • apabila anak mengompol, jangan memperlakukannya dengan keras. Cobalah untuk memberi pengertian akan tindakannya dan melibatkannya untuk membantu membersihkan tempat tidurnya yang basah.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. (JF)

Salam,

Tim Redaksi Klikdokter

    0 Komentar

    Belum ada komentar