Sukses

Prolaktin dan Azoospermia

16 Oct 2014, 13:23 WIB
Wanita, 28 tahun.
Selamat sore dok, Terimakasih atas jawaban dari pertanyaan saya mengenai adanya gangguan hormon bbrp wkt yg lalu. Yg ingin saya tanyakan lg skr ada bbrp poin dok : 1. Kapankah wkt yg paling tepat untuk melakukan tes ulang prolaktin? (apakah harus hari ke-brp mens? atau bagaimana?) 2. Suami saya bbrp hr yg lalu melakukan analisa sperma di laboratorium. Hasilnya adalah Azoospermia. Apa tindakan selanjutnya yg hrs kami ambil? Untuk informasi, kami blm konsultasi ke dr.andrologi mengenai hasil lab tsb. Apakah sebaiknya dilakukan tes ulang br ke dr.andrologi, atau bagaimana dok? 3. Apakah penyebab Azoospermia? Apakah masih ada harapan untuk memiliki keturunan? 4. Apakah pria dg riwayat pernah mengidap PMS (krn HPV, dg ciri kutil di penis), merokok, konsumsi ganja dlm jangka wkt tertentu, konsumsi alkohol dlm wkt tertentu, rutin melakukan onani (ejakulasi, baik onani maupun hub.seksual dlm wkt kurang dr 48 jam)--apakah smua hal tsb bs mengakibatkan azoospermia? 5. apabila suami saya pernah memiliki riwayat pms krn hpv sekitar 5-7 thn yg lalu bs menular pada saya? (kami menikah 2 thn yg lalu). Sekian pertanyaan dari saya. terimakasih sblmnya atas bantuan dokter. Salam
Klikdokter

Dijawab Oleh:

Klikdokter

Ibu yang Terhormat.

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Pemeriksaan kadar hormon prolaktin dapat dilakukan kapan saja tanpa berhubungan dgn hari pada siklus haid,tetapi biasanya diperiksa sekaligus bersamaan dengan pemeriksaan hormon lain utk menilai fungsi ovarium yg harus dilakukan pada hari ke 3-5 siklus haid.

Dalam kasus Anda, saat ini, analisis sperma suami Anda menunjukkan bahwa suami Anda mengalami azoospermia.

Azoospermia adalah suatu keadaan dimana tidak ditemukan satupun sperma dalam cairan ejakulat. Sekitar 10-15% kasus infertilitas pada pria diakibatkan oleh keadaan ini.

Berdasarkan penyebabnya, azoospermia dibagi menjadi dua:

1. Azoospermia obstruktif

    Terjadi akibat sumbatan pada saluran sperma yang menyebabkan gangguan transportasi sperma

2. Azoospermia non-obstruktif

    Terjadi akibat penurunan produksi sperma pada testis

Bila azoospermia yang terjadi telah ditemukan penyebabnya dan penyebab tersebut dapat dikoreksi, misal pada azoospermia obstruktif karena varikokel maka masih terdapat kemungkinan analisa sperma dapat membaik. Namun hal tersebut sangat bergantung pada keparahan kondisi masing-masing individu.

Yang terpenting saat ini adalah dengan mengonsultasikan diri Anda ke dokter spesialis andrologi, agar dapat diketahui penyebab azoospermia yang Anda alami baru dapat ditentukan terapi yang sesuai.

Sumbatan pada saluran sperma yang menyebabkan azoospermia dapat disebabkan antara lain karena kelainan bawaan, faktor genetik, tindakan pemotongan vas deferens (vasektomi),  atau infeksi yang kemudian membentuk jaringan parut.


Apakah Suami Anda telah menjalani pengobatan untuk infeksi HPVnya sebelumnya?

Orang yang tidak menunjukkan tanda atau gejala infeksi HPV tetap dapat menularkan infeksinya.

Laki-laki dan perempuan yang aktif secara seksual dan pernah dinyatakan mengalami infeksi HPV sebaiknya melakukan tes Pap secara berkala pada penis dan/atau vagina dan/atau dubur untuk mencari sel yang abnormal atau tanda awal kutil. Hasil positif dapat ditindaklanjuti untuk mengetahui apakah pengobatan dibutuhkan.

Diperkirakan 50-80% wanita mendapatkan infeksi HPV melalui kontak kelamin dengan pasangan yang menderita infeksi HPV juga. Infeksi HPV dapat meningkatkan risiko untuk timbulnya genital warts (kulit kelamin) atau timbulnya kanker leher rahim. Hingga 50% pasien yang terinfeksi HPV berpotensi untuk mengalami kanker leher rahim.

Disamping ditularkan melalui kontak kelamin, terdapat sumber yang menyebutkan bahwa HPV genital dapat ditularkan melalui kontak kulit atau kontak dengan benda-benda yang sebelumnya kontak dengan penderita infeksi HPV (secara non-seksual), namun hal tersebut masih kontroversial (diperdebatkan). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pajanan dapat terjadi melalui jabatan tangan dengan penderita kutil genital (Sexually transmitted infections. 1999 Oct;75(5):317-9). Sedangkan penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Scand J Infect Dis 1996;28(3):243-6 membuktikan bahwa HPV genital tidak dapat ditransmisikan melalui kontak kulit atau benda.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. (JF)

Salam,

Tim Redaksi Klikdokter

    0 Komentar

    Belum ada komentar