Sukses

Apa Itu Kardiomiopati Peripartum?

18 Nov 2014, 14:50 WIB
Wanita, 32 tahun.

Apa penyebab kelainan Kardium neopati postpartum (Maaf jika penulisan kurang tepat), sebab istri saya divonis mengalami hal tersebut dan apa penyebab terjadinya hal tersebut??? Apakah karena virus/bakteri atau keslahan dalam persalinan (baik dokter maupun pasien???). Terima kasih untuk tanggapannya.

dr. Tiara Rahmawati

Dijawab Oleh:

dr. Tiara Rahmawati

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Kami memahami kekhawatiran yang Anda rasakan. Kami ingin sedikit mengoreksi, kemungkinan yang dialami oleh istri Anda adalah kardiomiopati peripartum. Definisi “Kardiomiopati” memiliki arti kelainan otot jantung; “peri” artinya sekitar; “partum” artinya persalinan. Maka kardiomiopati peripartum berarti kelainan otot jantung yang terjadi di sekitar masa persalinan. Biasanya terjadi antara 1 bulan sebelum sampai 5 bulan setelah melahirkan. Kardiomiopati peripartum termasuk jenis kardiomiopati dilatatif, yaitu kelainan otot jantung yang ditandai dengan membengkaknya rongga-rongga jantung. Akibat membengkaknya jantung, kemampuan pompa jantung, yang disebut fraksi ejeksi (ejection fraction), menurun.

Penyebab pasti kardiomiopati peripartum belum diketahui. Hasil otopsi menunjukkan adanya peradangan pada sel-sel otot jantung. Beberapa hal diduga meningkatkan resiko terjadinya penyakit ini yaitu obesitas, merokok, alkohol, riwayat penyakit jantung sebelumnya seperti miokarditis (peradangan otot jantung), kekurangan gizi, dan penggunaan obat-obat tertentu. Wanita yang sering hamil juga beresiko lebih tinggi.

Seberapa sering komplikasi jantung seperti ini terjadi pada wanita bersalin? Untungnya tidak terlalu sering. Kardiomiopati peripartum terjadi pada 1 dari 3000 persalinan. Kebanyakan (80%) kejadian ini terjadi dalam 3 bulan setelah melahirkan, 10% terjadi pada bulan terakhir kehamilan, dan 10% sisanya terjadi antara bulan ke 4 s.d. 5 kehamilan. Bisa terjadi pada wanita melahirkan usia berapapun, tapi paling sering pada usia 30-an.

Gejala-gejala yang timbul pada kardiomiopati peripartum sama dengan gejala pasien gagal jantung pada umumnya. Beberapa pakar berpendapat gejala bisa mulai muncul sejak kehamilan trimester kedua. Gejala bisa berupa rasa mudah lelah dan sesak napas. Seringkali gejala-gejala ini tidak dianggap sebagai masalah jantung, karena kehamilan juga seringkali menimbulkan gejala serupa.

Gejala lainnya bisa berupa bengkak, khususnya di tungkai, dan debar-debar. Gejala-gejala ini juga seringkali dijumpai pada kehamilan normal, sehingga penyakit ini tidak terdeteksi lebih awal. Bila gejala-gejala gagal jantung ini timbul setelah melahirkan, biasanya lebih mudah untuk mencurigai adanya penyakit ini.

Apakah penderita kardiomiopati peripartum bisa pulih dan jantungnya normal kembali? Laporan-laporan terdahulu menyebutkan 50% penderita bisa kembali normal, 25% stabil dengan pengobatan, dan 25% lainnya mengalami kegagalan jantung yang makin berat. Tetapi dengan makin membaiknya penanganan penyakit jantung saat ini, tingkat pemulihan penderita penyakit ini makin tinggi, mencapai lebih dari 90%.

Apakah boleh hamil lagi? Kehamilan berikut bagi pasien kardiomiopati peripartum memiliki rIsiko untuk terkena kondisi yang sama. RIsiko jauh lebih tinggi pada mereka yang tidak pulih kondisi jantungnya. Pada pasien yang kondisi jantungnya pulih sempurna, harus tetap berkonsultasi dengan dokter bila ingin hamil lagi. Walaupun rIsiko tidak setinggi mereka yang tidak pulih kondisi jantungnya, tetap ada rIsiko untuk terkena komplikasi yang sama saat persalinan berikutnya.

Pada kondisi akut dimana sesak napas hebat dan berat pasien memerlukan perawatan intensif di ICU (intensive care unit), bahkan mungkin memerlukan bantuan peralatan bantu napas (ventilator). Bila kardiomiopati terjadi sebelum melahirkan, tim dokter yang terdiri dari dokter kandungan, jantung, anestesi, dan anak, akan mempertimbangkan untuk segera mengakhiri kehamilan, kemungkinan besar dengan cara operasi, tergantung dari kondisi ibu dan janin.

Setelah kondisi akut teratasi, pasien bisa berobat jalan. Obat-obat bagi penderita kardiomiopati peripartum sama dengan obat untuk pasien gagal jantung pada umumnya yaitu golongan diuretik, penghambat enzim konversi angiotensin, penghambat beta, antagonis aldosteron, dan digitalis. Bila penderita memutuskan untuk menyusui bayinya, obat-obat golongan penghambat enzim konversi angiotensin, penghambat beta, dan diuretik, umumnya cukup aman diberikan.

Dokter jantung akan melakukan evaluasi ekokardiogram (EKG) setiap 3 atau 6 bulan untuk menilai pemulihan kemampuan pompa jantung. Bila pompa jantung bisa kembali meningkat sampai di atas 50% dalam 3 atau 6 bulan, biasanya kondisi jantung dapat pulih normal kembali. Tetapi kadang kondisi jantung membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih sempurna. Makin lama kondisi jantung pulih, makin kecil kemungkinan bahwa jantung bisa kembali normal.

Kapan obat dapat dihentikan? Sebagian dokter menghentikan obat bila pompa jantung sudah di atas 50%. Tapi kebanyakan dokter akan meneruskan obat golongan penghambat enzim konversi angiotensin dan penghambat beta minimal sampai setahun setelah kondisi pompa jantung normal.

Kami  menyarankan Anda dan istri  melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan mengenai kondisi istri Anda tersebut untuk mengetahui tatalaksana selanjutnya yang terbaik.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Salam,

0 Komentar

Belum ada komentar