Sukses

Berobat TB 20 th tidak sembuh

16 Oct 2014, 13:39 WIB
Pria, 20 tahun.
obat TBC ter-update assalamualikum dokter, saya arpian herponi. mahasiswa kedoketran salah satu universitas swasta di jawa tengah. saya ingin bertanya obat TBC yang update, paling efektif, paling aman atau apa saja yang terbaik untuk pengobatan TB kronis.. hal ini terkait dengan orang tua saya yang tepatnya adalah ayah saya. dia sudah hampir 20 tahun melakukan pengobatan TB namun seringkali terputus karena pengobatan TB ini kan panjang mesti 6 bulan. mohon sarannya dokter, ayah saya itu sudah menggunakan obat TB seperti rifampisin, INH, pirazinamid, dsbnya dengan antibiotik sering ganti-ganti karena sering tidak bereaksi. sepertinya penyakitnya telah kebal. saya mohon dok, apa yang saya perbuat. saya sekarang hanya mahasiswa dan saya takut untuk memberikan saran karena saya belum layak. terima kasih dokter mohon dengan jawaban yang terbaik assalamualikum
Admin KlikDokter

Dijawab Oleh:

Admin KlikDokter

Saudara yang Terhormat,


Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Pengobatan TB memang membutuhkan kedisiplinan dan waktu yang panjang.Hingga kini, belum ada obat TB terbaru yang dapat menyembuhkan TB dalam waktu yang singkat. Seseorang dengan TB harus menuntaskan pengobatan yang lama tersebut hingga benar-benar dinyatakan terbebas dari penyakit TB. Lama  pengobatan TB pada penderita dapat berkisar 6- 9 bulan, tergantung dari jenis TB dan respon penderita terhadap pengobatan. Sejauh ini, jenis obat TB yang efektif memang kombinasi dari penggunaan keempat obat yang Anda sebutkan-Rifampisin, INH, Pirazinamid, dan Etambutol, ditambah dengan suntikan Streptomisin pada mereka yang tergolong dalam Penderita TB kategori 2 ( pasien kambuh, gagal ataupun dengan riwayat pengobatan terputus).

Kami ikut prihatin atas keadaan ayah Anda yang belum dinyatakan sembuh setelah 20 tahun berobat. Berdasarkan cerita Anda, kami asumsikan bahwa penyebab dari lamanya pengobatan TB pada ayah Anda, adalah putus obat atau terhentinya pengobatan TB selama sementara waktu (beberapa bulan) sebelum masa pengobatan selesai. Satu hal penting yang harus ditanamkan pada diri ayah Anda, adalah bahwa pengobatan TB harus berjalan secara berkesinambungan dan teratur. Karena, jika obat tidak diminum setiap hari pada waktu yang sama, maka semakin tinggi pula angka resistensi (kekebalan) kuman TB terhadap obat TB. Untuk itu, diperlukan seseorang yang bertugas sebagai PMO (Pengawas Minum Obat). PMO dapat dipilih dari anggota keluarga yang dekat dengan pasien, disetujui dan disegani oleh pasien, tinggal dekat atau serumah dengan pasien dan bersedia membantu secara sukarela. Tugas dari PMO adalah mengawasi pasien agar menelan obat secara teratur hingga selesai pengobatan, memberi dorongan agar dapat berobat teratur, mengingatkan pasien untuk memeriksa ulang dahak pada waktu yang ditentukan (pada TB paru), ataupun memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang memiliki gejala mencurigakan TB untuk memeriksakan diri di unit pelayanan kesehatan agar tidak menjadi sumber penularan.

Pertama yang dapat Anda lakukan adalah, pastikan bahwa ayah Anda termasuk dalam kategori TB yang mana. Penentuan kategori TB dapat diketahui dari riwayat penyakit TB terdahulu, organ-organ tubuh mana saja yang terkena TB, dan hasil pemeriksaan foto Rontgen ataupun hasil pemeriksaan dahak (pada TB Paru). Untuk menentukan kategori tersebut, periksakan ayah Anda pada dokter spesialis paru terpercaya di kota Anda, sehingga perkembangan penyakit ayah Anda dapat terus dimonitor. Dikarenakan ayah Anda sudah menjalani pengobatan yang serupa selama 20 tahun, ingatkan dokter   untuk memeriksakan juga kemungkinan adanya resistensi bakteri TB terhadap obat yang sudah pernah dikonsumsi. Jika terbukti terdapat resistensi, maka pengobatan akan beralih pada lini ke-2, yaitu antibiotik golongan kuinolon yang dikombinasikan sesuai dengan kondisi ayah Anda. Untuk menambah pemahaman Anda pada penyakit TB, kami persilahkan Anda untuk membaca artikel koleksi kami mengenai TB dengan meng 'klik' link berikut Tuberkulosis Paru.

Demikian informasi kami sampaikan. Semoga bermanfaat. (RIPI)


Salam,


Redaksi Klikdokter.

    0 Komentar

    Belum ada komentar