Sukses

Anak mengorok, apa penyebabnya?

14 May 2010, 15:19 WIB
Pria, 6 tahun.
Anak saya mempunyai keluhan kalau tidur kadang ngorok, kalau makan yang alot (daging2, sayuran dll) suka muntah, dan makan agak susah sudah berbagai macam vitamin & suplemen sudah saya coba namun berat badannya tidak bertambah, Penyebabnya apa ya dok?( laki-laki, 6 thn,125 cm,19 Kg)
Klikdokter

Dijawab Oleh:

Klikdokter

Ibu/Saudari yang Terhormat,

 

Terima kasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter.

Dengkuran dapat terjadi akibat adanya aliran tubulensi udara yang terpaksa mengalir melalui saluran napas yang menyempit. Untuk mengetahui penyebab dari saluran nafas yang menyempit tentunya dibutuhkan pemeriksaan dengan dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT) untuk tatalaksana yang optimal. 

Muntah setiap diberikan makanan yang alot dapat menjadi suatu bentuk penolakan anak akan makanan yang diberikan. Kami memahami kesulitan Anda dalam permasalahan memberi makan anak ini. Menghadapi masalah pemberian makan pada anak ini memang bukanlah suatu hal yang mudah, namun jika melihat status gizi anak Anda maka dapat diambil kesimpulan dalam kondisi yang baik. Berdasarkan WHO, tinggi badan anak laki-laki usia 6 tahun memiliki kisaran 107-125 cm ( tinggi badan rata-rata 116 cm). Sedangkan untuk kisaran berat badan adalah 16-27 kg (berat badan rata-rata 21 kg).

Menyikapi berat badan yang tidak bertambah, sudah berapa lama kah berat badannya menetap? Berat badan tidak bertambah dapat disebabkan karena tingginya aktivitas yang dilakukan dan asupan makanan yang diberikan tidak dapat mencukupinya. 

Beberapa hal yang dapat kami sarankan untuk membuat si kecil mau makan diantaranya :

  • Mengurangi cemilan yang membuat anak kenyang Jangan biarkan anak terlalu sering jajan di luar makanan utama karena dapat menyebabkan anak kenyang. Jika terlalu sering jajan, dia tidak akan merasa lapar saat tiba saatnya makan, selain itu cakupan gizi dalam jajanan tersebut belum tentu mencukupi kebutuhan anak.
  • Buat suasana makan yang menyenangkan bagi anak. Sajikan makanan yang cukup bervariasi kepada anak sehingga anak tidak bosan. Buatlah suasana yang menimbulkan anggapan bahwa makan adalah sesuatu yang menyenangkan. Jangan cepat menyerah jika anak tidak menyukai makanan yang kita tawarkan. Coba ulangi lagi dengan suasana yang berbeda
  • Tambahkan susu secukupnya Jangan berikan susu pada anak dalam jumlah berlebihan. Cukup 2-3 gelas susu sehari. Jumlah susu yang berlebihan akan menyebabkan anak kekenyangan sehingga anak tidak mau makan lagi.
  • Berikan jadwal makan teratur dalam jumlah yang kecil, jangan paksa anak menghabiskan makanannya
  • Hindari menunjukkan wajah khawatir atau marah ketika anak tidak mau makan. Perhatian terhadap kelakuan anak yang kurang baik justru dapat membuat anak terus melakukannya lagi
  • Bila anak mau makan atau mau menghabiskan makanannya maka berilah pujian
  • Jangan biarkan anak minum dalam jumlah banyak sesaat sebelum makan. Minum dapat membuat kenyang dan membuat anak tidak mau makan.

Di luar hal-hal tersebut, defisiensi atau kurangnya asupan vitamin, khususnya kompleks vitamin B (penting dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak) dan vitamin C, dapat mengakibatkan penurunan nafsu makan. Sebetulnya vitamin tidak memiliki efek pada nafsu makan tapi membantu tubuh dalam menggunakan atau menyerap nutrien dari makanan. Karena itu, dengan mengembalikan keseimbangan vitamin dalam tubuh, nafsu makan dapat meningkat. Jika keseimbangan vitamin belum dapat dicapai dengan makanan yang sehari-hari dimakan, dapat dibantu dengan pemberian suplemen multivitamin. Seperti yang telah disebutkan di atas, multivitamin tersebut terutama harus mengandung kompleks vitamin B dan vitamin C, selain vitamin A, D, dll. Untuk anak di atas 1 tahun, multivitamin dalam sediaan sirup cukup diberikan 1 sendok sehari.

Jika terdapat keluhan lain atau perkembangan yang terganggu, sebaiknya curigai adanya penyakit yang mendasari permasalahan kesulitan makan yang berujung pada sulitnya meningkatkan berat badan. Segera konsultasikan permasalahan Anda dengan dokter spesialis anak.  

Demikian informasi kami sampaikan. Semoga bermanfaat. (RIPI)

 

Salam,

 

Redaksi Klikdokter

    0 Komentar

    Belum ada komentar