Sukses

Masalah dalam rumah tangga?

07 Dec 2009, 15:53 WIB
Wanita, 32 tahun.
Yth. Dokter, Terima kasih atas inputnya pada e-konsultasi sebelumnya, saya sebenarnya sudah melakukan seperti saran Dokter, misalnya membuatkan makanan kesukaannya, membuat dia betah di rumah, merubah penampilan dan membeli lingerie yang seksi tapi komentarnya: kamu ngabis- ngabisin duit aja. Saya jadi bingung dok, soalnya suami tidak pernah bilang apa maunya. (dia orangnya tertutup & pendiam tapi kalau marah meledak).Padahal dulu waktu kami masih pacaran (sebelum menikah) dia sangat bergairah bila melihat saya. Saya juga pernah mendapati dia menyimpan foto2 cewek setengah bugil di HP-nya dan saya menjadi marah karena kenyataannya payudara saya memang tergolong mini, saya merasa dia tidak menginginkan saya seperti sebelumnya malah membayangkan foto2 tsb. ketika saya tanya dia tidak mau bilang alasannya. Dan yang membuat saya tertekan akhir2 ini alasan dia malas ML (Making Love) karena saya tdk kunjung hamil. Saya sudah melakukan pemeriksaan ke dokter mulai dari transvaginal untuk mengecek sel telur dan mengecek hormon, so far belum ada masalah. Idealnya menurut dokter kandungan, suami juga harus periksa sperma, dia sudah mengiyakan, tapi belum juga ke lab. Saya tidak tau kenapa suami saya berubah drastis dari sebelum kami menikah: dulu dia benar2 menginginkan saya dan ketika sudah menikah dia lebih banyak mengabaikan saya. Apakah ada hubungannya dengan gaji saya yang notabene jauh lebih besar dari suami, sehingga dia memperlakukan saya seperti ini. 3 bulan lalu dia pernah menyuruh saya menceraikan dia, tapi saya tidak mau, saya bilang kalau kamu yang menginginkannya kamu yang bilang ke ortu kita. tapi dia diam aja. dia bilang dia tidak sanggup bersama saya. Saya bingung padahal selama ini saya menerima dia apa adanya dan tidak menuntut apa2 (apalagi materi) saya cuman menuntut perhatian & kasih sayangnya saja. Akhir - akhir ini saya berpikir kalo memang dia tidak menginginkan saya lagi mending kami pisah saja. Tolong bantu saya ya dok...Terima kasih banyak sebelumnya.( perempuan, 32 thn,159 cm,53 Kg)
Klikdokter

Dijawab Oleh:

Klikdokter

Terimakasih atas pertanyaan Anda.

Kami sangat mengerti perasaan dan posisi Anda. Berdasarkan uraian penjelasan Anda kami berkesimpulan sementara terdapat dua faktor utama yang berpotensi sebagai pemicu yang terdapat pada bahtera rumah tangga Anda hingga sangat mudah sekali memicu terjadinya friksi.

Pertama, keturunan. Dibutuhkan kesabaran dan keteguhan hati dari sepasang suami istri untuk tetap berikhtiar terhadap tantangan rumahtangga yang ada semacam ini. Dimana keikhlasan dalam menerima keadaan sebagaimana adanya pun sangat pula diperlukan. Jika tidak memiliki esensi yang kami jabarkan diatas, maka yang ada hanya kekecewaan karena over-ekspektasi.

Kedua, penghasilan. Sebagian besar makhluk lelaki tumbuh bersama rasa gengsi yang besar yang berasal dari ego atau rasa self-centered yang tinggi. Hal ini menjadi masalah besar jika dihadapi situasi kemampuan pasangan perempuannya yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari dirinya dalam aspek apapun. Dalam situasi Anda, terjadi pada aspek yang sangat krusiil, yakni penghasilan. Dimana tidak sedikit orang yang menilai parameter kesuksesan hanya dari harta semata, bukan dari proses penyikapan dalam suatu menghadapi masalah.

Rasa tinggi ego tersebut sesungguhnya muncul dari konsep rasa tanggung jawab seorang laki-laki yang berusaha mati-matian membela pemenuhan nafkah istri dan anaknya. Ketika dirinya dihadapi situasi sang istri memiliki penghasilan lebih tinggi, maka akan sangat mungkin muncul rasa rendah diri yang dikarenakan "kalahnya kemampuan" dalam urusan mencari nafkah dengan istrinya. "Rasa kalah" tersebut sangat berpotensi terbawa kepada situasi depresi kepada dirinya.

Walaupun demikian, masih banyak kemungkinan pemicu friksi yang ada dibalik masalah Anda. Anda memerlukan usaha lebih kuat lagi untuk mengorek masalah dirinya. Jika Anda kesulitan, agaknya Anda membutuhkan peran pihak ketiga yang sangat berkompetensi dalam masalah ini. Anda bisa menanyakannya ke sahabat karibnya atau orang terdekat suami Anda. Hindari pula orang ini sebagai penengah, jadikan dirinya sebagai media "pengorek informasi" dari suami Anda. Karena inti dari masalah ini akan mudah jika ada bentuk komunikasi yang terbuka satu sama lain.

Mungkin dirinya terlalu malu untuk mengemukakannya kepada Anda. Akan lebih mudah bagi dirinya untuk cerita kepada teman atau sahabat atau jika mungkin salah satu anggota keluarga atau siapapun orang terdekatnya. Masalah akan semakin bisa diatasi jika terdapat bentuk komunikasi yang dewasa dan saling berpikiran jernih.

Bagaimanapun, masalah Anda merupakan situasi yang harus dihadapi berdua. Bukan Anda sendiri. Bukan dirinya sendiri. Tetapi bersama. Karena sebenarnya itulah esensi dari perkawinan. Semua suka dan duka dihadapi bersama.

Demikian penjelasan yang dapat kami berikan. Semoga membantu.

Terimakasih.

Dr. Sukardi, SpKJ(K)

    0 Komentar

    Belum ada komentar