Sukses

Hubungan seks saat hamil

20 Oct 2014, 10:00 WIB
Wanita, 27 tahun.
Dok,untuk usia kehamilan 27 minggu apakah masih aman melakukan hubungan seksual. Terima Kasih( perempuan, 27 thn,148 cm,57 Kg)
Klikdokter

Dijawab Oleh:

Klikdokter

Ibu/Saudari yang terhormat,

Terimakasih telah menggunakan layanan e-konsultasi Klikdokter. Pandangan yang umum mengenai hubungan seksual selama hamil adalah bahwa ditakutkan tindakan tersebut akan membahayakan janin (trauma) maupun merangsang adanya kelahiran yang prematur. Sebetulnya, jika Ibu mengalami kehamilan yang “normal”, hubungan seksual aman untuk dilakukan pada tiap-tiap triwulan, bahkan sampai tiba waktu untuk melahirkan. Janin dalam rahim dilindungi oleh adanya kantung amnion yang tipis. Otot-otot rahim juga membantu melindungi janin, sedangkan mukus pada mulut rahim menutup serviks sehingga melindungi janin dari infeksi.

Pada suatu studi yang diterbitkan dalam Journal of Obstetrics and Gynecology, melibatkan 93 perempuan yang hamil triwulan terakhir dan tetap melakukan hubungan seksual, didapatkan bahwa setengah dari mereka melahirkan pada rata-rata usia kehamilan 39,9 minggu, sedangkan yang tidak melakukan hubungan seksual rata-rata pada 39,3 minggu. Pada penelitian tersebut juga disebutkan tidak ditemukan efek hormon prostaglandin pada sperma yang dipercaya dapat menstimulasi serviks dan merangsang terjadinya kontraksi. Jadi, hubungan seksual bahkan pada triwulan terakhir atau mendekati akhir kehamilan, tidak berpengaruh pada kemungkinan terjadinya melahirkan prematur pada kehamilan yang normal.

Kehamilan yang “normal” berarti kehamilan yang tidak memiliki risiko tinggi. Kehamilan risiko tinggi, ditandai dengan:

  • Riwayat atau risiko keguguran (pada triwulan pertama)
  • Riwayat melahirkan prematur sebelumnya (kurang dari 37 minggu) atau terdapat tanda-tanda melahirkan prematur (kontraksi rahim)
  • Kebocoran cairan amnion, riwayat keluar air-air dari kemaluan
  • Serviks atau mulut rahim yang inkompeten, suatu keadaan dimana serviks mengalami dilatasi sebelum waktunya, sehingga meningkatkan risiko melahirkan prematur
  • Riwayat perdarahan melalui kelamin
  • Riwayat nyeri atau kram perut, kontraksi (perut terasa kencang), risiko melahirkan prematur.
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Adanya infeksi kelamin pada suami maupun istri
  • Adanya keputihan yang abnormal. Keputihan yang abnormal adalah jika terjadi perubahan warna, jumlah, dan bau, disertai tanda gatal atau panas pada kelamin. Hal ini menunjukkan adanya infeksi pada lubang kemaluan. Hubungan seksual akan meningkatkan risiko penyebaran infeksi ke dalam rahim.
  • Adanya komplikasi kehamilan berupa plasenta letak rendah atau plasenta previa. Pada keadaan ini, plasenta terletak dekat mulut rahim, sehingga ada risiko terlepasnya plasenta, baik pada keadaan biasa maupun saat berhubungan seksual. Keadaan ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan USG.
  • Hamil kembar


Walaupun orgasme, dan stimulasi payudara dapat menyebabkan kontraksi rahim, hal ini tidak menyebabkan kelahiran prematur. Adanya adanya kram perut setelah hubungan seksual adalah hal yang normal jika hanya sedikit. Jika kram atau perut terus terasa kencang, atau jika disertai adanya sedikit perdarahan, sebaiknya Ibu segera menghubungi dokter. Demikian juga jika ada keputihan yang abnormal, ataupun hal-hal lain yang tidak biasa, seperti keluar air-air, nyeri berhubungan seksual, ataupun perdarahan, sebaiknya hentikan dulu rutinitas hubungan seksual dan hubungi dokter Ibu. Untuk menyingkirkan kemungkinan adanya plasenta letak rendah, dilatasi serviks prematur tentunya juga perlu dikonfirmasi oleh dokter yang menangani Ibu. Yang juga perlu diperhatikan adalah posisi hubungan seksual, sebaiknya tidak dilakukan dalam posisi misionaris (suami di atas).

Demikian penjelasan yang dapat saya berikan. Semoga membantu. (PNA)

Terimakasih. 

 

(Tim Redaksi Klikdokter)

    0 Komentar

    Belum ada komentar