Sukses

Pengertian
Trakhoma adalah salah satu jenis infeksi mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Biasanya trakhoma diawali dengan rasa gatal dan iritasi pada kelopak mata. Bakteri penyebabnya sendiri dapat menyebar melalui kontak langsung pada mata, kelopak mata, hidung, dan sekresi tenggorokan dari orang yang terinfeksi.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), trakhoma menyebabkan kebutaan pada 2,2 juta penduduk dunia. Trakhoma lebih banyak menyerang anak-anak berusia 3–5 tahun. Sedangkan pada orang dewasa, mereka yang berjenis kelamin perempuan diketahui lebih sering terkena trakhoma dibandingkan pria.

Penyakit ini sangat mudah menular dan hampir selalu memengaruhi kedua mata. Kabar baiknya, kebutaan akibat trakhoma bisa dicegah jika kondisi ini ditangani segera dan secara tepat.

Penyebab
Penyebab trakhoma adalah bakteri Chlamydia trakhomatis. Bakteri ini dapat menginfeksi mata bila seseorang bertukar pakaian atau handuk dengan penderita trakhoma. Kondisi lingkungan yang tidak bersih, tidak adanya air bersih, dan penggunaan jamban bersama dapat meningkatkan risiko penularan penyakit ini.

Selain itu, bakteri Chlamydia trakhomatis juga dapat disebarkan lewat lalat. Jika lalat yang membawa bakteri tersebut menempel pada tangan seseorang atau pada daerah di sekitar mata, maka orang tersebut juga dapat terjangkit bakteri dan mengalami trakhoma.

Diagnosis
Dokter dapat mengetahui adanya trakhoma berdasarkan wawancara medis secara mendetail yang berguna untuk mengetahui gejala yang muncul dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh pada mata yang sakit.

Pada umumnya, penderita tidak membutuhkan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan tambahan lainnya. Kecuali untuk kepentingan penelitian, pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) terkadang diperlukan.

Trakhoma

Gejala
Pada tahap awal, trakhoma menyebabkan konjungtivitis (radang pada selaput mata) yang ditandai dengan mata merah dan berair, namun penglihatan tidak terganggu. Tak jarang, terdapat pula keluhan gatal pada mata dan kelopak mata. Pada tahap lanjut, lama kelamaan akan terasa nyeri pada mata dan ketajaman daya pandang akan menurun.

Bila tidak segera diobati dengan tepat, maka akan terbentuk jaringan parut (scar) di dalam kelopak mata. Adanya jaringan parut ini menyebabkan bulu mata tertarik ke dalam dan menusuk-nusuk lapisan bola mata. Bulu mata yang mengarah ke dalam bola mata disebut dengan trikiasis.

Trikiasis yang terjadi berkepanjangan akan mencederai selaput pembungkus bola mata dan kornea. Akibatnya kornea akan menjadi keruh, mengalami luka yang cukup dalam, dan dapat berujung pada kehilangan penglihatan.

Pengobatan
Untuk menangani trakhoma, WHO menerapkan strategi SAFE, yaitu Surgical care, Antibiotics, Facial cleanliness, dan Environmental improvement sebagai berikut:

  • Tindakan operasi (surgical care)
    Tindakan operasi dilakukan untuk mengatasi trikiasis. Operasi dilakukan dengan cara melakukan rekonstruksi pada kelopak mata, sehingga bulu mata tak lagi tumbuh ke arah dalam.
  • Antibiotik
    Untuk membunuh bakteri Chlamydia trakhomatis yang menyebabkan penyakit trakhoma, WHO merekomendasikan dua jenis antibiotik, yaitu azitromisin berbentuk tablet yang ditelan dan salep mata tetrasiklin. Penggunaan antibiotik harus menggunakan resep dokter dan kondisi penderita pun harus dalam pengawasan dokter.
  • Menjaga kebersihan wajah (facial cleanliness)
    WHO merekomendasikan untuk membasuh wajah dengan air bersih mengalir dan sabun yang lembut untuk menghambat perkembangbiakan bakteri penyebab trakhoma.
  • Memperbaiki lingkungan (environmental improvement)
    Untuk mencegah penyebaran bakteri dan menciptakan lingkungan yang sehat, dibutuhkan kerja sama antara pengawas otoritas setempat, masyarakat sekitar, dan keluarga pasien trakhoma. Lingkungan sehat yang perlu diupayakan adalah lingkungan yang memiliki cukup air bersih dan bebas dari lalat.

Pencegahan
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah trakhoma adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan tubuh, dan mengupayakan lingkungan sekitar agar tetap bersih. Dengan melakukan hal-hal tersebut, diharapkan berbagai penularan penyakit akibat bakteri pun dapat diminimalkan. Termasuk tentunya penularan terhadap trakhoma.