Sukses

Pengertian

Stenosis pilorus adalah penyakit yang tergolong jarang dan biasanya terjadi pada bayi. Pilorus sendiri merupakan klep otot antara lambung dan usus halus. Stenosis pilorus terjadi ketika otot tersebut menebal dan membesar. Hal ini menyebabkan makanan yang dimakan dan yang sudah diproses di lambung tidak dapat masuk ke dalam usus halus.

Penyakit ini biasanya diketahui dari bulan pertama kelahiran. Bayi di atas usia 3 bulan cukup jarang mengalami kondisi ini.

Pengobatan terhadap kondisi ini penting segera dilakukan karena dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:

  • gagal tumbuh kembang
  • dehidrasi
  • iritasi lambung
  • jaundice

Stenosis Pilorus

Penyebab

Penyebab pasti dari stenosis pilorus masih belum diketahui hingga saat ini. Stenosis pilorus biasanya tidak langsung terjadi saat kelahiran, namun akan terjadi setelah lahir. Genetik dan faktor lingkungan diduga berperan dalam menyebabkan stenosis pilorus.

Faktor risiko yang juga diduga memicu stenosis pilorus meliputi:

  • Riwayat keluarga

Stenosis pilorus dapat diturunkan dalam keluarga. Jika seorang ibu mengalami stenosis pilorus, kemungkinan 20% anak laki-lakinya dan 10% anak perempuannya akan mengalami penyakit serupa.

  • Jenis kelamin

Stenosis pilorus lebih sering terjadi pada anak laki-laki, terutama anak pertama.

  • Ras

Stenosis pilorus lebih sering terjadi pada ras Kaukasian dari Eropa Utara dan diikuti oleh orang Afrika-Amerika. Penyakit ini jarang terjadi pada orang Asia.

  • Kelahiran prematur

Bayi prematur lebih sering mengalami stenosis pilorus dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.

  • Penggunaan antibiotik

Ibu yang mengonsumsi antibiotik pada masa hamil tua dapat meningkatkan risiko bayinya terkena stenosis pilorus. Pada beberapa kondisi seperti batuk rejan, bayi akan diberikan antibiotika eritromisin. Penggunaan antibiotik tersebut dalam minggu-minggu pertama kelahiran dapat meningkatkan risiko stenosis pilorus.

  • Penggunaan botol susu

Beberapa studi membuktikan bahwa memberikan susu melalui botol lebih berisiko meningkatkan risiko stenosis pilorus dibandingkan dengan payudara ibu langsung.

Namun, pada studi tersebut, penggunaan botol diisi dengan susu formula. Jadi masih tidak diketahui apakah susu formula atau penggunaan botol yang meningkatkan risiko stenosis pilorus.

  • Merokok saat hamil

Ibu yang merokok saat hamil meningkatkan risiko bayinya menderita stenosis pilorus hingga dua kali lipat.

Diagnosis

Dokter dapat menduga adanya stenosis pilorus dari gejala bayi. Pada pemeriksaan fisik, dokter mungkin dapat meraba benjolan berbentuk buah zaitun pada perut bayi yang adalah membesarnya otot pilorus.

Dokter juga mungkin dapat mengamati adanya gelombang peristaltik pada perut bayi. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mendeteksi adanya dehidrasi atau ketidakseimbangan elektrolit. Pemeriksaan penunjang seperti USG dan sinar X juga dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi adanya stenosis pilorus.

Gejala  

Gejala stenosis pilorus biasa baru terlihat pada minggu 3–5 setelah lahir. Gejala dari stenosis pilorus meliputi:

  • Muntah menyemprot setelah makan

Bayi biasanya muntah menyemprot hingga jarak beberapa meter. Muntah pada awalnya cukup ringan dan bertambah parah seiring dengan penebalan klep pilorus. Terkadang bisa terdapat darah pada muntahan.

  • Bayi terlihat lapar terus menerus

Bayi biasanya lapar setelah muntah.

  • Penurunan berat badan

Bayi dengan stenosis pilorus biasanya sulit mengalami kenaikan berat badan. Bahkan sebaliknya, bayi dengan kondisi ini dapat mengalami penurunan berat badan.

  • Kontraksi perut

Gerakan kontraksi perut atau peristaltik yang seperti gelombang, dapat terlihat pada perut bagian atas bayi setelah makan, namun sebelum muntah. Hal ini terjadi karena lambung berusaha mendorong makanan untuk ke usus halus.

  • Konstipasi

Konstipasi dapat terjadi karena makanan tidak mencapai usus halus. Akibatnya tidak ada makanan yang dicerna hingga dan dapat dikeluarkan melalui anus.

  • Dehidrasi

Muntah yang cukup parah bisa menyebabkan dehidrasi. Bayi bisa menangis tanpa mengeluarkan air mata atau menjadi lemas. Bayi pun menjadi lebih sedikit buang air kecil, sehingga Anda lebih jarang mengganti popok.

Pengobatan

Pengobatan stenosis pilorus hanya dapat dilakukan dengan pembedahan. Prosedur pembedahan stenosis pilorus disebut dengan piloromiotomi. Piloromiotomi ini tergolong prosedur pembedahan yang minimal invasif.

Prosedur pembedahan dapat dilakukan dengan laparoskopi, yaitu dengan memasukkan pipa melalui pusar bayi. Dokter bedah akan memotong lapisan luar otot pilorus, sehingga lapisan dalam menonjol keluar dan membuka saluran makanan. Dengan demikian makanan dapat lewat ke usus halus.

Pembedahan biasanya dilakukan segera setelah diagnosis ditetapkan. Jika bayi mengalami dehidrasi atau ada ketidakseimbangan cairan, kondisi bayi tersebut harus diatasi dulu sebelum dilakukan pembedahan.

Setelah pembedahan, biasanya bayi tidak langsung diberikan makan. Bayi akan diberikan cairan infus untuk beberapa jam. Anda dapat memberinya makan 12 atau 24 jam setelah operasi. Bayi masih dapat muntah setelah beberapa hari pembedahan.

Pencegahan

Stenosis pilorus tidak dapat dicegah. Namun faktor risiko lingkungan, seperti merokok saat hamil, bisa dihindari. Begitu juga dengan faktor risiko yang terkait penggunaan antibiotika saat hamil tua dan awal kelahiran bayi, tentunya dapat dihindari.