Sukses

Pengertian
Spondilosis servikal merupakan istilah umum yang digunakan untuk mendeskripsikan adanya kerusakan pada tulang belakang bagian leher. Kondisi ini biasanya terkait dengan usia.

Saat diskus (bagian yang membatasi satu tulang belakang dengan yang lainnya) mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) dan mengecil, tanda-tanda peradangan diskus dapat mulai timbul. Ini termasuk adanya penonjolan pada bagian pinggir dari diskus.

Spondilosis servikal cukup sering terjadi dan memburuk seiring dengan berjalannya usia. Sebagian besar orang tidak mengalami keluhan akibat kondisi ini. Namun, bila terjadi keluhan, penanganan konservatif sering kali efektif untuk mengatasinya.

Spondilosis Servikal

Penyebab
Spondilosis servikal terkait dengan usia. Seiring dengan bertambahnya usia, tulang dan tulang rawan yang membentuk tulang belakang dan leher perlahan mulai mengalami perubahan.

Perubahan yang terjadi dapat mencakup:

• Diskus yang mengalami dehidrasi. Saat individu mencapai usia 40 tahun, diskus pada sebagian besar individu mulai mengecil, yang meningkatkan kontak antara tulang-tulang yang menyusun tulang belakang.

• Diskus yang mengalami herniasi. Usia juga memengaruhi bagian eksterior dari diskus tulang belakang. Dapat terjadi celah, yang menyebabkan diskus yang menonjol. Terkadang, hal ini dapat menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang dan akar saraf.

Bone spur. Degenerasi dari diskus dapat menyebabkan tulang belakang untuk memproduksi jumlah tulang yang berlebih dalam upaya memperkuat tulang belakang, yang dikenal dengan istilah bone spur. Terkadang, hal ini dapat mendesak saraf tulang belakang dan akar saraf.

• Ligamen yang kaku. Ligamen merupakan jaringan yang menghubungkan satu tulang ke tulang yang lainnya. Ligamen pada tulang belakang dapat menjadi semakin kaku seiring dengan bertambahnya usia, yang dapat menurunkan fleksibilitas leher.

Beberapa faktor risiko untuk spondilosis servikal adalah:

• Usia. Spondilosis servikal merupakan bagian normal dari proses penuaan.

• Pekerjaan. Pekerjaan yang melibatkan gerakan leher yang repetitif atau posisi yang tidak nyaman dapat menyebabkan tekanan yang berlebih pada leher.

• Cedera pada leher. Riwayat cedera pada leher sebelumnya dapat meningkatkan risiko terjadinya spondilosis servikal.

• Faktor genetik. Riwayat keluarga juga merupakan salah satu faktor yang diduga berkaitan dengan terjadinya spondilosis servikal.

• Merokok. Didapatkan adanya hubungan antara merokok dan peningkatan nyeri pada leher.

Gejala
Pada sebagian besar orang, spondilosis servikal tidak menunjukkan tanda atau gejala. Namun, bila terdapat tanda atau gejala, salah satu yang paling umum diamati adalah nyeri dan kekakuan pada bagian leher.

Terkadang, spondilosis servikal dapat menyebabkan terjadinya penyempitan ruang yang dibutuhkan oleh saraf tulang belakang dan akar saraf untuk melewati tulang belakang menuju seluruh anggota tubuh lainnya.

Bila terjadi pendesakan pada saraf tulang belakang atau akar saraf, gejala yang dapat timbul mencakup:

• Rasa kesemutan, baal, atau kelemahan pada lengan, tangan, tungkai, atau kaki

• Kehilangan koordinasi dan kesulitan berjalan

• Kehilangan kendali kandung kemih atau usus besar

Diagnosis
Diagnosis dari spondilosis servikal dapat ditentukan dari wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik secara langsung, serta pemeriksaan penunjang tertentu.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter dapat mencakup:

• Pemeriksaan kemampuan rentang gerak pada leher

• Pemeriksaan refleks dan kekuatan otot untuk mencari tahu adanya tekanan pada saraf tulang belakang

• Mengobservasi cara berjalan untuk melihat adanya pengaruh dari pendesakan saraf tulang belakang pada cara berjalan

Pemeriksaan pencitraan dapat menghasilkan informasi yang lebih detail untuk menunjang diagnosis dan penanganan. Dokter dapat merekomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan pencitraan sebagai berikut:

• Pemeriksaan sinar-X pada leher. Pemeriksaan sinar-X dapat menunjukkan kelainan yang menandakan adanya spondilosis servikal. Sinar-X leher juga dapat digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab nyeri pada leher yang lebih serius, seperti tumor, infeksi, atau patah tulang.

• Pemeriksaan computerized tomography (CT). Pemeriksaan ini dapat menunjukkan pencitraan yang lebih detail, terutama pada tulang.

• Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI). Pemeriksaan ini dapat menujukkan area di mana saraf mengalami pendesakan.

• Pemeriksaan mielografi. Dapat disuntikkan zat pewarna pada tulang belakang untuk menghasilkan pencitraan yang lebih detail.

Dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan untuk memastikan apakah sinyal saraf berjalan dengan baik pada tubuh. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan mencakup:

• Elektromiografi (EMG). Pemeriksaan ini mengukur aktivitas listrik pada saraf ketika melakukan transmisi sinyal ke otot, baik saat otot berkontraksi maupun saat istirahat.

• Pemeriksaan konduksi saraf. Pemeriksaan ini menggunakan elektroda yang dilekatkan pada kulit di atas saraf yang akan diperiksa. Aliran listrik kecil diberikan kepada saraf untuk mengukur kekuatan dan kecepatan sinyal saraf.

Penanganan
Penanganan dari spondilosis servikal bergantung dari derajat keparahan tanda dan gejala yang dialami penderitanya. Tujuan dari penanganan adalah untuk mengatasi rasa nyeri, membantu tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, dan mencegah cedera yang permanen pada saraf tulang belakang.

Penanganan yang dilakukan dapat mencakup pengobatan dengan obat anti-radang, anti-kejang, atau anti-nyeri, terapi fisik untuk meregangkan dan menguatkan otot pada leher dan punggung, akupunktur untuk mengurangi nyeri, atau pembedahan bila terapi konservatif tidak berhasil mengurangi keluhan.

Pencegahan
Hingga saat ini belum ada upaya untuk mencegah spondilosis servikal yang terbukti efektif sepenuhnya. Hal ini dikarenakan penyebab spondilosis servikal yang belum diketahui secara pasti.