Sukses

Pengertian Hipotensi Ortostatik

Hipotensi ortostatik merupakan suatu kondisi yang disebabkan karena terjadinya penurunan tekanan darah secara drastis akibat berdiri tiba- tiba. Gejala utama kondisi ini adalah pusing, kepala berputar atau pingsan saat berdiri mendadak dari posisi duduk.

Hipotensi ortostatik umumnya terjadi hanya sesekali dan segera pulih dalam waktu beberapa menit. Namun jika gejala ini terus menerus berulang atau berlangsung lama, bisa jadi yang melatarbelakangi adalah penyakit lain yang lebih serius dan memerlukan evaluasi khusus.

Hipotensi Ortostatik

Diagnosis Hipotensi Ortostatik

Diagnosis hipotensi ortostatik ditentukan atas dasar wawancara medis mendetail untuk mengetahui adanya keluhan penderita. Selain itu dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang tambahan.

Pemeriksaan tambahan yang dimaksud dilakukan dengan menggunakan suatu meja yang dapat diubah posisinya menjadi tegak. Hal ini memungkinkan penderita yang berbaring di atas meja tersebut berubah menjadi berdiri.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah. Pada orang dengan hipotensi ortostatik didapatkan perubahan tekanan darah dari duduk atau tidur ke posisi berdiri.

Perubahan tekanan darah ini adalah sebesar 20 mmHg untuk tekanan sistolik dan 10 mmHg untuk diastolik. Perubahan tekanan darah ini juga disertai dengan keluhan yang cukup mengganggu seperti pusing, mual, pandangan kabur hingga pingsan.

Pemeriksaan penunjang lainnya dilakukan dengan menggunakan elektrokardiogram (ECG) dan ekokardiogram. ECG dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran detak jantung, struktur jantung, serta kondisi patokan darah dan oksigen ke otot jantung penderita.

Penyebab Hipotensi Ortostatik

Hipotensi ortostatik disebabkan karena adanya hambatan pada proses alami tubuh untuk mengatasi turunnya tekanan darah. Beberapa kondisi yang dapat memicu hipotensi ortostatik antara lain adalah:

  • Penuaan. Sebuah penelitian menunjukkan hipotensi ortostatik terjadi pada 20 persen orang lanjut usia, khususnya mereka yang berusia di atas 65 tahun.
  • Kehilangan darah dan cairan tubuh akibat perdarahan, diare, dehidrasi.
  • Tirah baring dalam waktu yang lama.
  • Kehamilan.
  • Gangguan jantung –seperti kelainan irama jantung, kelainan katup, serangan jantung dan gagal jantung.
  • Kekurangan darah atau anemia.
  • Parkinson’s disease.
  • Gangguan hormonal.
  • Konsumsi obat-obat darah tinggi tertentu seperti beta blocker, ca channel blocker, nitrat.
  • Cuaca panas.

Gejala Hipotensi Ortostatik

Gejala utama terjadinya hipotensi ortostatik adalah perasaan pusing atau sempoyongan ketika berdiri. Gejala lainnya meliputi:

  • Pandangan kabur
  • Mual
  • Disorientasi
  • Lemas
  • Letih
  • Pingsan 

Berbagai gejala ini umumnya membaik dengan beristirahat dalam posisi duduk atau berbaring. Bila keluhan tidak juga membaik setelah perubahan posisi, maka diperlukan penanganan khusus dan evaluasi terkait kemungkinan sebab lain yang lebih serius.

Pengobatan Hipotensi Ortostatik

Penanganan terhadap hipotensi ortostatik dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Bila sebabnya karena penggunaan obat tertentu, maka diperlukan penggantian obat yang tidak menimbulkan gejala serupa.

Bila penderita tidak memberi respons yang adekuat terhadap pengobatan yang diberikan, dokter akan memberikan obat tambahan seperti fludrocortisone, midodrine, atau pyridostigmine.

Perubahan gaya hidup juga diperlukan untuk membantu proses pemulihan penderita. Penderita hipotensi ortostatik disarankan untuk banyak mengonsumsi cairan dan menghindari berjalan di bawah cuaca terik. Selain itu juga perlu mengurangi konsumsi alkohol.

Pencegahan Hipotensi Ortostatik

Berbagai komplikasi hipotensi ortostatik dapat dicegah dengan mengatasi penyebabnya secara cepat dan tepat. Misalnya dengan menghindari berjalan di bawah cuaca terik dan mengubah penggunaan obat-obatan (contoh: konsumsi obat tekanan darah tinggi) yang tidak sesuai.