Sukses

Pengertian

Body dysmorphic disorder (BDD), atau disebut juga dengan dysmophobia, merupakan gangguan kejiwaan yang ditandai dengan kekhawatiran berlebihan yang dialami seseorang.

Kekhawatiran ini terkait dengan perasaan bahwa ada kekurangan pada tubuhnya. Misalnya hidung yang kurang mancung, lipatan mata yang tidak simetris, dan sejenisnya.

Kekurangan ini biasanya hanya dilihat oleh penderita. Sementara itu orang lain melihat bahwa apa yang dikhawatirkan itu sebenarnya hal yang normal. BDD biasanya lebih banyak dialami kaum remaja dan dewasa muda.

Penyakit Body Dismorphic Disorder (Carey Hope/Shutterstock)

Penyebab

Penyebab pasti body dysmorphic disorder hingga saat ini belum diketahui pasti. Meski demikian, kejadian BDD sering kali dikaitkan dengan beberapa kondisi, seperti:

  • Depresi

  • Gangguan obsesif kompulsif

  • Ketidakseimbangan neurotransmitter di otak

  • Riwayat trauma di masa lalu, misalnya pernah mendapatkan bullying saat masih anak-anak

Diagnosis

Untuk memastikan diagnosis body dismorphic disorder, diperlukan wawancara secara mendalam dengan penderita. Penetapan diagnosis terhadap BDD dapat dilakukan oleh psikiater.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya BDD adalah:

  1. Apakah Anda merasa tidak puas dengan penampilan Anda?
  2. Apakah keluhan yang Anda rasakan mengenai penampilan Anda merupakan masalah yang sangat penting?
  3. Apakah Anda menghabiskan waktu lebih dari tiga jam per hari untuk memikirkan penampilan Anda?
  4. Apakah masalah penampilan yang Anda miliki sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari?
  5. Apakah masalah penampilan yang Anda miliki sangat mempengaruhi aktivitas di tempat kerja atau di sekolah?

Semakin banyak pertanyaan yang dijawab dengan “Ya”, maka semakin besar kemungkinan orang tersebut mengalami BDD.

Gejala

Gejala body dismorphic disorder yang bisa dikenali berupa:

  • Mengamati penampilan secara berkala, dapat lebih dari satu jam per hari
  • Melihat atau menyentuh kekurangan yang dirasakannya berulang-ulang
  • Sering meminta pendapat orang lain mengenai bagian tubuh yang dianggap kekurangannya
  • Berpikir untuk melakukan operasi plastik
  • Selalu merasa tidak puas dengan tubuhnya

Sementara itu bagian tubuh yang sering menjadi pusat perhatian penderita BDD adalah mata, hidung, bibir, bentuk dagu, bentuk pipi, ukuran rahang, payudara, dan bokong.

Pengobatan

Pengobatan body dismorphic disorder harus dilakukan oleh psikiater. Pengobatannya mencakup psikoterapi dan pemberian obat-obatan.

Psikoterapi dilakukan dengan terapi kognitif perilaku (cognitive behavior therapy). Pada pengobatan ini, psikiater akan membantu penderita untuk mengenali bahwa persepsi negatif tentang tubuhnya merupakan hal yang berlebihan.

Setelah itu, dengan perlahan psikiater akan membimbing penderita untuk berpikir dengan lebih rasional dan memiliki persepsi positif tentang tubuhnya. Bila penderita masih anak-anak atau remaja, terapi ini membutuhkan bantuan orang tua atau anggota keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan penderita.

Sementara itu, obat yang digunakan untuk mengatasi body dysmorphic disorder (BDD) adalah obat golongan selective serotonin reseptor inhibitor (SSRI), seperti fluoxetine dan sertraline. Obat ini hanya bisa dikonsumsi dengan pengawasan ketat dari dokter. Umumnya, setelah mengonsumsi obat setidaknya selama 12 minggu, keluhan akan mulai membaik.

Selain itu, hal yang penting dalam pengobatan BDD adalah harus melakukan pengobatan secara konsisten dengan psikiater yang sama. Berganti-ganti psikiater akan membuat pengobatan yang sudah dilakukan tidak berkesinambungan dan menghambat kesembuhan.

Psikiater sebisa mungkin tidak akan menyarankan penderita BDD untuk melakukan operasi plastik. Karena operasi plastik tidak akan menyelesaikan masalah. Alih-alih mengobati BDD, melakukan operasi plastik justru bisa menimbulkan masalah baru.

Hal yang mendasari BDD adalah gangguan persepsi terhadap anggota tubuh. Oleh karena itu, penting untuk meluruskan persepsi penderitanya, bukan anggota tubuhnya yang harus diperbaiki.

Pencegahan

Hingga saat ini, belum ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah body dysmorphic disorder.