Sukses

Blackberry adalah produk telepon genggam pintar yang diproduksi oleh Blackberry Limited

Blackberry adalah produk telepon genggam pintar yang diproduksi oleh Blackberry Limited atau dulu dikenal dengan Research in Motion (RIM). Produk pertama RIM adalah Inter@ctive Pager 900 yang diluncurkan pada 1996. Namun untuk pertama kalinya RIM menggunakan nama Blackberry, dirilis pada 19 Januari 1999 dengan nama Blackberry 850.

Pada September 2016, Blackberry menyatakan akan menghentikan produksi telepon genggam mereka. Selain itu, mereka juga telah menjalin kemitraan dengan Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) di Indonesia. Negara ini merupakan pasar terbesar Blackberry dibanding negara-negara lain di seluruh dunia.

Blackberry Android Merah Putih akan Dirakit di Cikarang

BlackBerry Limited dipastikan akan merilis smartphone rasa Android terbarunya di Indonesia. Untuk itu, perusahaan asal Kanada tersebut sepakat untuk membuat perusahaan patungan atau Joint Venture (JV) dengan PT TiPhone Mobile Inonesia Tbk (TELE) agar dapat memproduksi BlackBerry Android di Indonesia.



Melalui kemitraan ini, kabarnya BlackBerry Android akan diproduksi di salah satu pabrik milik TiPhone di Cikarang--dioperasikan oleh PT Adi Reka Mandiri yang dimiliki oleh TiPhone dan manufaktur elektronik Taiwan Arima Communication Corporation.

Samuel Kurniawan, Corporate Secretary TELE, ketika dihubungi Tekno Liputan6.com pada Kamis (29/9/2016), mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi langkah BlackBerry Limited yang akhirnya memilih Indonesia sebagai tempat produksi smartphone Android teranyarnya.



“Kami benar-benar mengapresiasi BlackBerry karena sudah mempercayakan Indonesia sebagai pasarnya yang paling besar. Kita tahu bahwa pengguna BlackBerry di Indonesia itu banyak. Mereka butuh perangkat yang nyaman dan secure,” jelasnya.



BlackBerry Pastikan Tak Akan Lagi Produksi Ponsel Sendiri

Teka-teki kelangsungan produksi ponsel BlackBerry akhirnya terjawab. Perusahaan asal Kanada itu secara resmi menghentikan produksi ponsel secara mendiri dengan menutup divisi pengembangan hardware.

Kepastian ini akhirnya menjawab spekulasi yang sempat beredar mengenai langkah BlackBerry untuk mengatasi ketertinggalannya dari perusahaan smartphone lain.

Kendati tak lagi memproduksi ponsel sendiri, perusahaan itu memilih menawarkan layanannya ke pihak lain yang ingin menggarap.

Jadi, perusahaan tersebut akan memberlakukan sistem outsource, yang memungkinkan perusahaan rekanan untuk mengembangkan produknya sendiri dengan lisensi software maupun layanannya.

"Perusahaan berencana mengakhiri pengembangan hardware di internal dan akan memberlakukan sistem outsource pada rekanan," ujar CEO BlackBerry John Chen