Sukses

Pengertian

Acrophobia adalah ketakutan berlebihan atau ketakutan yang ekstrem terhadap ketinggian. Fobia merupakan bagian dari gangguan kecemasan, di mana seseorang memiliki ketakutan yang intens atau tidak rasional terhadap objek ataupun situasi tertentu.

Acrophobia merupakan salah satu jenis fobia yang cukup sering ditemukan. Kebanyakan dari penderita acrophobia adalah wanita.

Penyebab

Beberapa faktor yang diperkirakan dapat memicu timbulnya acrophobia pada seseorang antara lain:

  • Pengalaman traumatis, terutama yang berkaitan dengan jatuh dari tempat yang tinggi atau kecelakaan lainnya. Rasa takut pada ketinggian merupakan rasa takut yang normal ditemukan pada manusia.
  • Namun, jika timbul pengalaman traumatis, rasa takut ini dapat berubah menjadi berlebihan dan menimbulkan gangguan acrophobia. Rasa takut berlebihan ini juga dapat muncul karena menyaksikan orang lain mengalami kecelakaan yang berkaitan dengan ketinggian.
  • Faktor evolusi. Seperti dijelaskan sebelumnya, rasa takut pada ketinggian pada dasarnya wajar dialami semua orang. Bahkan bayi dan anak kecil menunjukkan rasa takut apabila terpapar pada ketinggian. Apabila mekanisme perlindungan ini menjadi ekstrem, seseorang dapat mengalami acrophobia.
  • Mencontoh. Seseorang anak dengan orang tua yang mengalami acrophobia cenderung lebih mudah untuk terkena acrophobia juga.

Penyakit Acrophobia (Nantpipat Vutthisak/Shutterstock)

Diagnosis

Jika Anda mengalami gejala acrophobia selama enam bulan atau lebih, dan gejala-gejala tersebut sampai mengganggu kehidupan sehari-hari Anda, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Umumnya gangguan ini dapat didiagnosis melalui anamnesis atau wawancara medis mendetail. Dokter dapat menanyakan mengenai gejala yang dirasakan saat berada pada ketinggian, lama gejala tersebut muncul, kejadian traumatis di masa lalu berkaitan dengan ketinggian, dan sebagainya.

Gejala

Tanda-tanda yang dapat dikenali dari seseorang yang memiliki gangguan acrophobia antara lain adalah:

  • Serangan panik saat berada pada ketinggian. Rasa panik ini biasanya disertai dengan gejala bernafas cepat, ngos-ngosan, detak jantung yang tidak teratur, berkeringat, rasa mual, gemetar, pingsan atau merasa pusing, dan sebagainya.
  • Rasa takut yang kuat saat mendaki, menuruni, atau berada pada ketinggian.
  • Rasa cemas yang muncul saat akan menuju tempat yang tinggi.
  • Timbul reaksi mendadak saat berada pada ketinggian, misalnya berlutut, mencari sesuatu untuk dipegang, dan sebagainya.
  • Menghindari ketinggian (seseorang bisa menolak bekerja di gedung tinggi, atau menolak bertemu teman yang tinggal di lantai apartemen tinggi, dan sebagainya).
  • Pada beberapa kasus juga bisa muncul serangan vertigo.
  • Menyadari ketakutan tersebut tidak relevan.

Pengobatan

Beberapa jenis terapi dan obat-obatan dapat dipertimbangkan untuk mengatasi acrophobia, di antaranya:

  • Desensitisasi. Terapi ini dianggap sebagai terapi yang efektif untuk menangani acrophobia. Pemberi terapi akan memberikan paparan mengenai hal yang menakutkan bagi pasien, dan secara bertahap berusaha mengurangi rasa takut tersebut. Misalnya, pada kasus acrophobia terapis dapat memberikan tugas menaiki tangga, secara bertahap tangga yang perlu dinaiki akan semakin tinggi dan rasa takut menaiki tangga berusaha dikurangi.
  • Melalui proses ini terapis berusaha memahami kenapa dan bagaimana pasien menjadi takut terhadap ketinggian. Metode relaksasi dapat diajarkan kepada pasien untuk membantu mengatasi rasa takut tersebut.
  • Cognitive behavioural therapy (CBT). Melalui terapi ini seseorang dengan acrophobia akan diajarkan untuk memodifikasi perilaku ketakutan dengan perilaku yang positif.
  • Obat-obatan, dapat diresepkan obat anti-ansietas dan anti-depresan untuk membantu mengontrol gejala.