Sukses

3 Mitos dan Fakta dalam Menentukan Jenis Kelamin Bayi

Banyak mitos yang beredar terkait cara dalam menentukan jenis kelamin bayi. Berikut tiga di antaranya.

Klikdokter.com, Jakarta Banyak pasangan suami istri mengidamkan jenis kelamin tertentu untuk calon anaknya. Misalnya, Anda yang sudah punya anak laki-laki, akan mengidamkan anak berikutnya berjenis kelamin perempuan. Segala cara pun dilakukan untuk menentukan jenis kelamin bayi. Mulai dari berkonsultasi dengan dokter hingga melakukan mitos-mitos yang beredar di masyarakat.

Ya, mitos yang berkembang di masyarakat seputar menentukan jenis kelamin anak rupanya cukup beragam. Mulai dari makanan, waktu melakukan hubungan seksual, hingga urusan orgasme. Sayangnya, tidak semua hal ini terbukti ilmiah dan diterima sebagai fakta.

Supaya tidak keliru, yuk simak tiga mitos dan fakta yang banyak dipercaya dalam menentukan jenis kelamin bayi.

Mitos #1: Suami dan istri harus banyak makan daging agar bisa mendapatkan anak laki-laki

Sayangnya, apa yang dipercaya ini hanya mitos belaka. Faktanya, jenis makanan tertentu tidak bisa menentukan 100 persen jenis kelamin bayi.

Namun demikian, sebuah penelitian di Inggris memang menunjukkan bahwa makanan tinggi kalori dapat berpengaruh pada jenis kelamin bayi yang dikandung.

Pada penelitian itu, 721 ibu hamil diminta untuk mengingat dan mencatat pola makannya sehari-hari sebelum mulai mengandung. Pola makan para ibu ini kemudian dikelompokkan menjadi dua, yakni pola makan tinggi kalori dan pola makan rendah kalori.

Pola makan tinggi kalori ini didapatkan dari seringnya sang ibu mengonsumsi daging merah, mentega, dan serealia yang kandungan kalorinya tinggi. Dari pengelompokan ini terlihat bahwa 56 persen ibu yang pola makannya tinggi kalori kemudian mengandung bayi laki-laki.

Di sisi lain, ibu dengan pola makan rendah kalori hanya 45 persen saja yang mengandung bayi laki-laki. Walau demikian, hasil penelitian ini dianggap masih lemah dan belum dapat dijadikan pedoman.

Mitos #2: Berhubungan sebaiknya dilakukan saat masa subur untuk mendapatkan anak laki-laki.

Setiap sel sperma membawa salah satu jenis kromosom, yakni X atau Y. Untuk menghasilkan anak laki-laki, diperlukan pembuahan sel telur oleh sperma berkromosom Y. Sebaliknya, untuk menghasilkan anak perempuan, diperlukan sel sperma yang membawa kromosom X.

Sperma kromosom Y adalah perenang cepat, tapi masa hidupnya singkat. Sebaliknya, sperma dengan kromosom X bergerak sangat lambat, tapi masa hidupnya lebih panjang.

Dari sinilah kemudian muncul anjuran untuk berhubungan seksual saat masa subur jika ingin anak laki-laki. Sebab, tepat pada masa subur ini, sel telur dikeluarkan dari indung telurnya.

Sel sperma berkromosom Y akan dengan cepat berenang di depan untuk membuahi sel telur. Sebaliknya, jika ingin mendapatkan anak perempuan, hubungan seksual disarankan 3-5 hari sebelum perkiraan masa subur.

Dalam 3-5 hari jeda waktu ini diharapkan sel sperma pembawa kromosom Y sudah mati. Jadi, kesempatan sperma kromosom X untuk dapat membuahi sel telur dan mendapatkan anak perempuan akan lebih besar.

Namun sayang, belum ada penelitian yang dapat membuktikan kebenaran teori ini. Sebuah studi yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine bahkan membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara waktu hubungan seksual, masa subur, dan jenis kelamin bayi.

Mitos #3: Wanita harus orgasme terlebih dahulu agar anak yang dikandung berjenis kelamin laki-laki

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, sperma yang membawa kromosom Y sifatnya lebih lemah dibandingkan dengan sperma berkromosom X. Kromosom Y ini tidak bertahan lama dan mudah mati dalam lingkungan yang asam, seperti kondisi dalam vagina.

Sebaliknya, kondisi asam di dalam vagina sangat ideal untuk mempertahankan sperma kromosom X. Oleh karena itu, banyak orang menganjurkan, jika ingin memperoleh anak laki-laki, asam di vagina harus ‘dibilas’ terlebih dahulu oleh cairan orgasme.

Dengan cara ini, sperma yang membawa kromosom Y lebih bertahan untuk membuahi sel telur. Sebaliknya, jika ingin anak perempuan, suami harus orgasme terlebih dahulu agar sperma kromosom Y mati dan kromosom X dapat bertahan untuk membuahi sel telur.

Sekalipun terlihat kuat, sayangnya teori ini hanya mitos belaka! Berdasarkan penelitian ilmiah, orgasme tidak dapat memengaruhi secara signifikan jenis kelamin bayi yang dihasilkan.

Tiga mitos di atas hanya sebagian kecil dari berbagai kepercayaan yang dipegang terkait cara-cara untuk menentukan jenis kelamin bayi. Boleh-boleh saja melakukan metode tertentu untuk membantu mewujudkan keinginan Anda, tapi jangan berharap sepenuhnya. Ingat, yang jauh lebih penting adalah kehamilan dan calon bayi terjaga sehat, apa pun jenis kelaminnya.

[HNS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar