Sukses

Penyebab Alergi Susu Sapi pada si Kecil

Alergi susu sapi sering terjadi pada anak-anak. Apa sebenarnya yang menjadi penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu alergen makanan yang paling sering terjadi pada anak-anak adalah susu sapi. Diperkirakan 1 dari 25 anak di Indonesia mengalami alergi susu sapi. Menurut riset, alergi susu sapi umum ditemukan pada anak kurang dari 2 tahun dengan prevalensi 2–7,5%.

Seperti reaksi alergi pada umumnya, alergi susu sapi terjadi karena adanya gangguan pada sistem imunitas yang menganggap susu sapi sebagai zat yang berbahaya bagi tubuh. Tepatnya, kandungan protein di dalam susu sapi yang mencetuskan reaksi alergi tersebut.

Terdapat beberapa faktor risiko yang dianggap berperan dalam terjadinya alergi susu sapi. Riwayat alergi susu sapi atau jenis alergi lain pada orang tua dapat meningkatkan risiko alergi susu sapi pada anak. Selain itu, anak yang punya kelainan kulit dermatitis atopi biasanya lebih rentan mengalami alergi susu sapi.

Lebih lanjut, anak yang sebelumnya memiliki riwayat alergi jenis apa pun lebih berisiko mengalami alergi susu sapi pula.

Pada alergi susu sapi, serangkaian gejala dapat muncul dalam hitungan beberapa menit hingga jam pasca mengonsumsi susu sapi ataupun produk olahannya. Gejala tersebut dapat melibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh, seperti saluran pernapasan, saluran pencernaan, hingga kulit.

Gejala yang dapat timbul dalam waktu singkat, yaitu biduran, mengi, gatal di sekitar mulut, bengkak pada bibir atau tenggorokan, batuk, sesak napas, dan muntah. Sementara itu, gejala yang dapat berkembang belakangan adalah tinja lunak atau diare (bisa disertai adanya darah), kram perut, pilek, mata berair, dan kolik. Untuk diketahui, gejala yang muncul dapat berbeda pada masing-masing anak.

Jika terjadi alergi yang berat, hal tersebut dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Reaksi anafilaksis ini dapat mengakibatkan penyempitan saluran pernapasan, penurunan tekanan darah, hingga syok yang bisa berujung pada kematian. Karena itu, ketika reaksi alergi susu sapi sudah terjadi, sebaiknya anak segera mendapatkan pertolongan medis.

Penanganan alergi susu sapi

Terapi terbaik untuk alergi susu sapi adalah mencegah terjadinya reaksi alergi itu sendiri. Caranya adalah menghindarkan si Kecil dari paparan terhadap susu sapi dan produk olahannya hingga usia 12 bulan. Namun, bila masih terlihat gejala alergi, hal tersebut dapat dilanjutkan hingga usia 2 atau 3 tahun.

Perlu diketahui pula bahwa pemberian ASI pada bayi sejak lahir hingga berusia 6 bulan dapat menurunkan risiko terjadinya alergi susu sapi. Jadi jika Bunda ingin memberikan susu formula (termasuk susu sapi), berikan setelah usia si Kecil 6 bulan. Namun, jika si Kecil mengalami alergi susu sapi, coba berikan alternatif susu formula lainnya.

Salah satu jenis susu formula alternatif untuk si Kecil yang alergi susu sapi adalah susu formula kedelai (soya). Susu ini tidak dianjurkan untuk si Kecil di bawah usia 6 bulan. Selain itu, susu soya umumnya diberikan apabila si Kecil terbukti tidak cocok dengan susu formula jenis lainnya. Pemberian susu formula soya kepada si Kecil harus dalam pengawasan ketat karena berpotensi menimbulkan reaksi alergi pula.

Tentu saja mencegah lebih baik daripada mengobati. Penanganan alergi susu sapi pada si Kecil sebaiknya dilakukan dengan terencana. Mengenali faktor risiko sejak dini dapat meminimalkan terjadinya reaksi alergi susu sapi pada si Kecil. Dengan begitu Bunda juga dapat mempersiapkan pemberian nutrisi dengan lebih baik, demi tumbung kembang si Kecil pada kemudian hari.

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar