Sukses

3 Kesalahan Diagnosis yang Paling Sering Terjadi pada Anak

Proses penentuan diagnosis pada anak tidak mudah, sehingga tiga kesalahan diagnosis ini sering terjadi.

Klikdokter.com, Jakarta Proses penentuan diagnosis merupakan langkah yang sangat penting, karena akan menentukan pengobatan yang diberikan. Namun, pada pasien anak, hal tersebut tidak semudah seperti yang dibayangkan.

Hal tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, berbagai penyakit sering menunjukkan gejala yang sama, terutama di hari-hari awal timbulnya penyakit.

Gejala demam, misalnya, dapat muncul pada sejumlah besar penyakit, dari yang ringan hingga berat. Saat tidak disertai dengan gejala lain yang khas, maka penegakan diagnosis akan sulit dilakukan dengan cepat.

Kedua, pemeriksaan penunjang seperti radiologi atau laboratorium tidak selalu menjamin tegaknya suatu diagnosis. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut memiliki nilai sensitivitas dan spesifisitas yang berbeda-beda.

Seringkali, beberapa pemeriksaan juga baru dapat dilakukan setelah penyakit berjalan dalam jangka waktu tertentu. Akurasi alat dan kesalahan interpretasi juga dapat terjadi.

Berikut tiga kesalahan diagnosis yang paling sering terjadi pada anak:

  1. Tuberkulosis

    Menentukan diagnosis tuberkulosis pada anak merupakan suatu tantangan tersendiri. Hal ini disebabkan oleh sulitnya memperoleh dahak untuk melakukan pemeriksaan bakteri tuberkulosis yang menjadi standar emas diagnosis.

    Karena itu, sebagian besar diagnosis tuberkulosis didasarkan atas gejala klinis. Mulai dari peningkatan berat badan yang kurang atau batuk dalam jangka panjang.

    Gejala-gejala tersebut sering mirip dengan penyakit-penyakit lainnya, sehingga rentan terjadi overdiagnosis atau diagnosis yang berlebihan atas tuberkulosis.

    Pada tahun 2000, Ikatan Dokter Anak Indonesia mengembangkan sistem skoring untuk tuberkulosis yang terdiri atas berbagai variabel untuk mengatasi permasalahan tersebut.

  2. Asma

    Asma merupakan kondisi kronis yang ditandai penyempitan saluran nafas dan peningkatan produksi lendir. Untuk menentukan diagnosis asma, maka diperlukan pengukuran fungsi paru menggunakan alat spirometer.

    Namun, penelitian di Belanda menemukan bahwa separuh dari anak yang terdiagnosis asma sebenarnya tidak benar-benar menderita penyakit tersebut. Hal ini disebabkan hanya sedikit dokter yang melakukan pemeriksaan fungsi paru saat menegakkan diagnosis.

    Gejala-gejala seperti nafas berbunyi ngik-ngik ataupun sesak dapat terjadi pada penyakit-penyakit selain asma. Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak anak yang sebenarnya tidak perlu meminum obat-obatan untuk asma.

  3. Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD)

    Istilah ADHD umumnya digunakan untuk mendeskripsikan suatu kondisi perilaku yang ditandai dengan kurangnya pemusatan perhatian, impulsif, dan tidak dapat bersikap tenang. Diagnosis ADHD yang akurat membutuhkan pengamatan dan waktu.

    Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa diagnosis ADHD sering berlebihan dan banyak anak yang terdiagnosis ADHD sebenarnya hanyalah belum memiliki kematangan dalam berperilaku.

Proses menentukan diagnosis suatu penyakit, terutama pada anak, memang tidak mudah. Dokter perlu secara teliti melakukan pemeriksaan atau uji tertentu. Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses tersebut.

[BA/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar