Sukses

Mengungkap Fakta di Balik Tren Detoks

Tren detoks kian populer. Cara ini diklaim dapat menghilangkan racun yang berbahaya bagi tubuh.

Klikdokter.com, Jakarta Janji-janji yang ditawarkan tren detoks, seperti cepat menurunkan berat badan atau membuat cantik dan awet muda, pasti membuat orang tertarik untuk melakukannya. Namun, benarkah detoks itu baik bagi tubuh?

Apa itu detoks?

Detoks adalah salah satu pola diet dengan cara menghilangkan racun dari dalam tubuh. Beberapa kondisi yang diklaim dapat diatasi oleh detoks, antara lain obesitas, gangguan pencernaan, kelainan autoimun, peradangan, alergi, kembung, dan rasa lelah kronis.

Terapi detoks sering diresepkan oleh naturopath (ahli pengobatan alami) yang beranggapan bahwa tubuh terpapar zat kimia berbahaya dari lingkungan atau makanan. Zat-zat kimia berbahaya yang dimaksud adalah polutan, zat kimia sintetik, logam berat, dan senyawa berbahaya lainnya.

Biasanya detoks diawali oleh periode puasa, yang diikuti oleh pola diet yang terbatas pada sayur mentah, buah dan jus buah, serta air. Beberapa pola detoks juga menganjurkan penggunaan ramuan herbal, teh, dan suplemen disertai dengan pembersihan usus besar untuk mengosongkan usus.

Melalui detoks, organ-organ ‘diistirahatkan’, racun dikeluarkan melalui tinja, urine, dan keringat, aliran darah diperbaiki, serta zat-zat gizi penting bisa didapatkan.

Detoks memiliki banyak variasi dan melibatkan paling tidak salah satu hal berikut:

  • Berpuasa selama 1–3 hari
  • Mengonsumsi jus buah dan sayur segar, smoothies, air putih, dan teh
  • Hanya meminum cairan khusus, seperti air garam atau jus lemon
  • Tidak mengonsumsi makanan dengan kadar logam berat, kontaminan, dan alergen yang tinggi
  • Mengonsumsi suplemen atau ramuan herbal
  • Menghindari makanan yang menyebabkan alergi, kemudian secara perlahan mengenalkannya kembali
  • Menggunakan pencahar atau melakukan pembersihan usus
  • Berhenti mengonsumsi alkohol, kopi, rokok, dan gula-gula sederhana (gula tambahan) secara total

Apakah detoks baik bagi tubuh?

Sebagian pelaku detoks merasa lebih fokus dan berenergi selama dan setelah melakukannya.

Efek ini bisa saja terjadi karena detoks menghilangkan makanan-makanan olahan tinggi kalori yang mengandung lemak jenuh dan gula-gula tambahan. Di samping itu, detoks juga memberikan vitamin dan mineral yang mungkin kurang sebelumnya.

Berat badan pasti akan turun bila kalori diet detoks sangat dikurangi. Namun, penurunan berat badan yang terjadi diakibatkan oleh hilangnya air dan cadangan karbohidrat, bukan cadangan lemak.

Ketika pola makan normal kembali, berat badan akan mudah naik. Pola ini serupa dengan crash diet yang tidak akan memberikan hasil dalam jangka panjang, kecuali gaya hidup benar-benar diubah.

Diet detoks yang membatasi konsumsi protein atau yang membutuhkan puasa jangka panjang dapat menyebabkan rasa lemas, lesu, dan lelah. Bila dilakukan secara ekstrem dapat mengakibatkan kekurangan vitamin dan mineral, gangguan elektrolit, asidosis laktat, hingga kematian.

Pembersihan usus yang kerap dilakukan bersamaan dengan diet detoks pun dapat menimbulkan kram perut, kembung, mual dan muntah, hingga dehidrasi. Tak hanya itu, ada risiko overdosis suplemen atau obat pencahar yang bisa terjadi.

Jadi, apakah detoks dianjurkan?

Manfaat detoks yang sebenar-benarnya masih pro dan kontra. Terapi detoks tidak pernah menyebutkan secara jelas racun apa yang perlu dibersihkan dan bagaimana cara menghilangkannya.

Faktanya, tubuh manusia memiliki organ ginjal dan hati yang sangat efektif dalam menyaring dan menghilangkan sebagian besar racun di dalam tubuh. Racun tersebut dikeluarkan dalam bentuk tinja, urine, dan keringat.

Sebagian zat kimia memang sulit dihilangkan. Contohnya polutan organik persisten, phthalate, bisphenol A (BPA), dan logam berat.

Zat-zat ini cenderung menumpuk di jaringan lemak atau darah dan membutuhkan waktu lama bahkan bertahun-tahun untuk bisa hilang dari dalam tubuh. Namun, belum ada bukti ilmiah yang valid dan mendukung bahwa zat-zat ini memang harus dibersihkan.

Berdasarkan alasan-alasan inilah, detoks tidak dianjurkan. Pola diet terbaik adalah dengan mengonsumsi makanan dengan komposisi yang sehat, tinggi serat, tinggi protein, dan rendah lemak. Bila Anda tetap memilih untuk melakukan detoks, gunakan itu sebagai permulaan untuk gaya hidup yang lebih baik dan bukan untuk sementara.

(RS/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar